BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Dengan adanya pendidikan seseorang dapat memahami suatu keadaan atau peristiwa berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Dengan demikian pendidikan merupakan suatu bentuk watak, kepribadian dan kemampuan seseorang untuk merubah sikap dan tingka lakunya.
Berdasarkan hal tersebut, maka Pendidikan Jasmani merupakan salah satu bidang pendidikan yang memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk kesegaran jasmani dan kesehatan yang merupakan bagian dari proses pendidikan yang mebentuk pendidikan. Pendidikan Jasmani merupakan proses pembelajaran yang dilakukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani dengan meningkatkan keterampilan motorik serta perkembangan kepribadian yang harmonis.
Menurut Abdul Gafur dalam Rusli Lutan dan Cholik Mutahir (1997: 14), “Pembelajaran olah raga adalah suatu prose yang dilakukan secara sadar dan sistematis melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan pancasila”.
Persamaan pandangan mengenai Pendidikan Jasmani adalah terletak pada Pendidikan Jasmani merupakan pendidikan melalui gerakan jasmani. Dalam hal ini Supandi (1990: 29) mengemukakan bahwa “Pendidikan Jasmani adalah suatu pendidikan yang menggunakan fisik atau tubuh sebagai alat untuk mencapai pendidikan melalui aktivitas-altivitas jasmani.
Pencapaian tujuan Pendidikan Jasmani dalam proses pembelajaran di sekolah sangat ditentukan banyak faktor yakni faktor lingkungan sekolah, faktor metode penyajian materi oleh pendidik (Guru), faktor penguasaan materi dan faktor kepribadian siswa. Dalam proses belajar mengajar di sekolah partisipasi siswa sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani di sekolah. Walaupun kemampuan Guru dalam menguasai pembelajaran maupun metode penyajian materi yang sesuai dengan kemampuan daya serap peserta didik (siswa), semuanya akan sia-sia jika siswa bersifat pasif dalam proses pembelajaran Pedidikan Jasmani. Seorang Guru Pendidikan Jasmani diharapkan mampu mengetahui psikologi perkembangan peserta didik (siswa) sebelum mempersiapkan materi yang akan diajarkan kepada siswa. Hal ini perlu diperhatikan karena siswa memiliki kepribadian dan latar belakang sosial ekonomi yang berbeda akan membawa dampak terhadap partisipasi siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani.
Aktivitas jasmani dalam pengertian yang dipaparkan sebagai kegiatan siswa untuk meningkatkan keterampilan motorik dan nilai-nilai fungsional yang mencakup aspek kognitif, afektif dan sosial. Aktivitas ini harus dipilih dan disesuaikan dengan tingkat perkemabangan siswa melalui kegiatan Pendidikan Jasmani. Dengan kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani diharapkan peserta didik (siswa) akan tumbuh dan berkembang secara sehat, dan kesegaran jasmaninya, serta dapat berkembang kepribadiannya agar lebih harmonis dalam menjalankan kehidupannya sekarang maupun yang akan datang.
Sebagaimana telah diuraikan bahwa Pendidikan Jasmani membutuhkan kecakapan dan gerak tubuh. Faktor sarana-prasarana Pendidikan Jasmani sangat dibutuhkan untuk kelancaran proses belajar mengajar, seperti lapangan bola kaki, lapangan bola voly serta alat peraga lainnya. Apabila sarana-prasarana tidak menunjang tidak akan tercapai dalam proses belajar mengajar dan tidak berjalan efekatif apabila diperburuk dengan kurangnya partisipasi dalam proses belajar mengajar.
Seorang Guru yang mengajar Pendidikan Jasmani, harus memiliki kemampuan mengajar, dengan mempersiapkan diri sedemikian mungkin sebelum materi pelajaran disajikan agar siswa dapat memahami dengan benar tentang materi yang disajikan. Partisipasi siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Kehadiran sangat dibutuhkan oleh Guru dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani, dengan kehadiran itu siswa dapat dinilai oleh Guru (pendidik).
Berdasarkan uraian dari atas, maka penulis tertarik untuk meneliti dengan mengangkat judul : “Partisipasi Siswa Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Jasmani Di SMP N 4 Kupang ”.
1.2 Batasan Masalah
Yang menjadi batasan masalah dalam penelitian ini yaitu : Partisipaasi siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani di SMP N 4 Kupang.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka penulis ingin mengangkat permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah partisipasi siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani di SMP N 4 Kupang.
1.4 Tujuan dan Kegunaan
1.4.1 Tujuan
Untuk mengetahui partisipasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Jasmani di SMP N 4 Kupang.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya partisipasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Jasmani di SMP N 4 Kupang.
Untuk mengetahui apakah ada upaya yang dilakukuan oleh Guru Pendidikan Jasmani untuk mengarahkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran di SMP N 4 Kupang.
1.4.2 Kegunaan
Kegunaan Teoritis
Sebagai bahan masukan bagi peneliti lain yang ingin mengadakan penelitian lanjutan terhadap permasalahan penelitian ini.
Kegunaan Praktis
Sebagai bahan masukan bagi pemimpin dan staf pengajar di SMP N 4 Kupang, khususnya pengajar mata pelajaran Pendidikan Jasmani untuk mengupayakan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Jasmani.
Untuk mengetahui sejauh mana partisipasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Jasmani di SMP N 4 Kupang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Pembelajaran
Belajar sering diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri seseorang sebagai hasil belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan kebiasaan serta aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.Dalam proses pembelajaran, unsur proses belajar mengajar memang peranan yang vital yaitu proses belajar mengajar yang dilakukan sangat menentukan siswa dalam mencapai keberhasilan suatu pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Mengajar adalah proses membimbing kegiatan belajar siswa. Oleh karena itu, adalah penting sekali bagi guru untuk memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar siswa, agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi siswa. Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai-nilai sikap. Belajar merupakan upaya yang disengaja untuk memperoleh perubahan tingkah laku baik berupa pengetahuan maupun keterampilan (Supandi, 1991:7)
Berdasarkan penulisan tersebut penulis menyimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku seseorang baik berupa jasmani maupun rohani di karenakan pengalaman. Adapun faktor yang mempengaruhi belajar digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada pada individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang di luar individu berdasarkan hal tersebut kedua faktor tersebut dapat dibagi menjadi beberapa segi pokok antara lain:
1. Faktor intern, terdiri dari faktor jasmaniah, psikologis dan faktor kelelahan.
2. Faktor ekstern, terdiri dari faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat
Dari faktor-faktor tersebut, faktor eksternal yang berpengaruh paling banyak terhadap proses dan hasil belajar siswa dalam proses belajar mengajar adalah lingkungan sekolah seperti: guru, sarana belajar, kurikulum, temanteman kelas, disiplin dan peraturan sekolah yang ada. Proses adalah runtutan perubahan (peristiwa) perkembangan suatu proses belajar adalah tingkat dan fase yang dilalui anak atau sasaran didik dalam mempelajari sesuatu.
Menurut W.H. Burton, (1994: 15) bahwa seseorang setelah mengalami proses belajar, akan mengalami perubahan tingkah laku baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Adapun kriteria dalam belajar di antaranya ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar. Mengajar dalam hal ini berhubungan dengan diri guru sebagai pendidik. Sebagai pendidik dituntut untuk bisa menciptakan lingkungan belajar yang efektif serta mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada tingkat optimal. Dalam proses belajar mengajar dan menentukan organisasi pengelolaan interaksi belajar mengajar serta hasil belajar. Proses belajar mengajar sendiri diartikan sebagai perpaduan dua aktivitas belajar dan aktivitas mengajar. Aktivitas belajar merupakan suatu bentuk pertumbuhan, perubahan pada diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan, sedangkan aktivitas mengajar menyangkut peranan seorang guru dalam kontek mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi yang harmonis antara pengajar dengan yang belajar.
Komponen-Komponen proses belajar mengajar diantaranya adalah:
1. Tujuan belajar
2. Materi pelajaran
3. Metode belajar
4. Sumber belajar
5. Media untuk belajar
6. Menejemen interaksi belajar mengajar
7. Evaluasi Belajar
8. Anak yang belajar
9. Guru yang mengajar dan kompeten
10. Pengembangan dalam proses belajar mengajar
2.2 Partisipasi Siswa
Partisipasi siswa diartikan sebagai suatu keterlibatan langsung secara aktif dalam melakukan suatu kegiatan atau turut melibatkan diri maupun memperlancarkan dalam suatu aktivitas.
Partisipasi seseorang dalam suatu kegiatan sangat erat kaitannya dengan keberhasilan yang akan dicapai dari kegiatan tersebut. Dalam proses pembelajaran sangat dibutuhkan adanya keterlibatan peserta didik atau siswa dalam melakukan kegiatan. Partisipasi siswa dalam pembelajaran penjas sangat menentukan kelancaran proses belajar mengajar dan juga menggambarkan nuansa pembelajaran yang terjadi apakah telah terjadi interaksi yang baik antara pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran atau tidak ?.
Pada hakekatnya belajar merupakan suatu wujud partisipasi siswa terhadap proses pembelajaran di dalam kelas, disini menuntut dan menekan kepada seorang guru untuk melibatkan siswa secara langsung dalam proses belajar mengajar. Siswa yang mengambil begian dalam proses belajar mengajar memiliki keseriusan dan perhatian yang tinggi pada pencapaian tujuan pembelajaran. Pada hakekatnya, belajar merupakan wujudnya keaktifqan siswa dalam kegiatan pembelajaran, sedangakan aktif dapat berwujud, seperti: mendengar, menulis dan membuat sesuatu. Untuk mengfungsikan keaktifan ini sangat bergantung dengan intelektual emosional. Jadi yang dimaksudkan dengan belajar aktif adalah dengan melibatkan diri dalam proses pembelajaran baik mental (intelektual emosional) maupun fisiknya.
Salah satu prinsip penting dalam pendidikan jasmani adalah partisipasi siswa secara penuh dan merata. Oleh karena itu, guru pendidikan jasmani harus memperhatikan kepentingan setiap siswa. Siswa didorong untuk mendapatkan pengalaman belajar berupa pengantar yang menuju pada komponen antisipasi. Dalam membuka pelajaran guru mempersiapkan siswa dengan mengembangkan minat mereka pada pelajaran tersebut. Dalam mempersiapkan siswa guru menyampaikan apa yang akan dipelajari dan hubungannya dengan pelajaran sebelumnya dan aktivitas saat ini atau yang akan dating.
Dengan alat dan media yang tepat, maka proses pembelajaran akan berjalan dengan baik dan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar akan terwujud. Partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar sangat menentukan keberhasilannya.
Kadar keaktifan siswa dalam belajar terdapat rentangan keaktifan antara guru dan siswa. Adapun kadar keaktifan tersebut ditentukan oleh beberapa dimensi, (Mc Keachie, 1954) sebagai berikut:
1. Partisipasi siswa atau peserta didik dalam menetapkan tujuan pembelajaran di kelas.
2. Tekanan pada efektif dalam pembelajaran di kelas.
3. Partisipasi siswa dalam pelaksanaan pembelajaran, terutama interaksi siswa dengan guru, dan sesame siswa di kelas.
4. Penerimaan guru terhadap perbuatan kontribusi siswa yang kurang relevan bahkan salah sama sekali.
5. Kesempatan kepada siswa untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam pembelajaran di kelas.
2.3 Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Proses pembelajaran merupakan kegiatan fundamental dalam proses pendidikan yang mana terjadinya proses belajar yang tidaka terlepas dari proses mengajar. Proses pengajaran dan pembelajaran dalam konteks pendidikan formal merupakan usaha sadar dan sengaja serta terorganisir secara baik guna untuk mencapai tujuan intitusional yang diembankan oleh lembaga yang menjalan misi pendidikan.
Proses pembelajaran adalah seperangkat kegiatan belajar yang dilakukan siswa (peserta didik). Kegiuatan belajar yang dilaksanakan siswa dibawah naungan Guru. guru bertugas merumuskan tujuan-tujuan yang hendak dicapai pada saat mengajar. Untuk mencapai tujuan pembelajaran Guru dituntut untuk merancang sejumlah pengalaman belajar. Yang dimaksudkan dengan pengalaman belajar disini adalah segala yang diperoleh siswa sebagai hasil dari belajar (Learning Experience).
Menunrut Makmun (2004: 156) proses pembelajaran menga jar merupakan suatu arangkaian interaksi siswa denga guru dalam rangkaian mencapai tujuannya. Makanya terjadi prilaku belajar pada siswa dan prolaku mengajar pada pihak guru yang terjadi hubungan interaktif antar siswa yang bersifat meningkat antar aktivitas kedua bela pihak.
Apabila dicermati proses interaksi siswa dapat dibina dan merupakan bagian dari proses pembelajaran, Syaiful Sagala (2003: 61) mengakatakan bahwa pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelolah untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingka laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau mengahasilkan respon terhadap situasi tertentu.
Syaiful Sagala (2003: 63) mengatakan bahwa pembelajaran mempunyai dua karakteristik, “Pertama dalam proses pembelajaran melibatkan proses berpikir. Kedua, dalam proses pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa, yang pada gilirannya kemampuan berpikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstrukni sendiri”.
Dari uraian di atas proses pembelajaran yang baik dapat dilakukan oleh siswa baik di dalam maupun di luar kelas, dan dengan karakteristik yang dimiliki oleh siswa diharapkan mereka mampu berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman-teman dengan secara baik dan bijak.
Pembelajaran menurut pandangan konstruktivisme adalah “Pembelajaran dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekoyong-koyong. Pembelajaran bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pembelajaran dan membentuk makna melalui pengalaman nyata (Depdiknas, 2003: 1).
Untuk menciptakan situasi yang diharapkan pada pernyataan diatas seorang guru harus mempunyai syarat-syarat apa yang diperlukan dalam mengajar dan membangun pembelajaran siswa agar efektif dikelas, saling bekerja sama dalam belajar sehingga tercipta suasana yang menyenangkan dan saling menghargai (demokratis) diantaranya:
a. Guru harus lebih banyak menggunakan metode pada waktu mengajar, variasi metode mengakibatkan penyajian siswa, sehingga kelas menjadi hidup, metode pembelajaran yang selalu sama akan membosankan siswa.
b. Menumbuhkan motivasi, hal ini sangat berperan pada kemajuan perkembangan siswa. (Iskandar, 2003: 98).
Dalam suatu proses belajar mengajar seorang guru memegang peranan penting yaitu memberikan bantuan kepada siswa untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan bantuan guru diharapkan siswa akan lebih mudah dalam memahami pelajaran yang diberikan.
Menurut Nana Sujana (2000:29) mengajar adalah membimbing kegiatan siswa belajar. Mengajar adalah mengatur dan mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar. Menurut ahli lain mengajar di artikan sebagai suatu proses mengorganisasi atau menata sejumlah sumber potensi secara baik dan benar sehingga terjadi proses belajar anak. Impikasi dari pengertian tersebut bahwa peranan guru adalah mentranmisikan atau mendistribusikan pengetahuan kepada anak-anak semata akan tetapi sebagai direktur belajar dari sejumlah peserta didik. Pada dasarnya kegiatan mengajar itu seperangkat dari kegiatan yang direncanakan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang akan diberikan kepada orang yang ingin mendapatkan ilmu dan ketreampilan dari orang yang mengajar.
2.4 Faktor-Faktor Dalam Pencapaian Tujuan Dalam Program Pembelajaran
Menurut Nadisah (1992:46), ada beberapa faktor dalam menyusun perencanaan pengajaran, faktor tesebut antara lain:
2.4.1 Ranah Jasmani
Ranah yang merupakan sasaran yang untuk meningkatkan kemampuan berfungsi normalnya sistem-sistem yang ada dalam tubuh sehingga individu yang bersangkutan dapar memenuhi kebutuhan untuk menghadapi tuntutan lingkungan. Sasaran dari ranah ini adalah kekuatan (otot), daya tahan, fleksibilitas atau kelentukan.
2.4.2 Ranah Psikomotor
Ranah ini dimaksud untuk menggambarkan saran-saran yang berupa keterpaduan koordinasi antara sistem persyaratan dan sistem perototan untuk menghasilkan gerakan yang di nilai. Adapun rincian dari ranah ini dalah sebagai berikut:
a. Kemampuan gerak perseptual, yaitu kemampuan menginterpretasi, merespon suatu stimulus (rangsang)
b. Kemapuan-kemampuan gerak fundamental yaitu ketrampilan manipulatif.
2.4.3 Ranah kognitif
Ranah ini dimaksudkan untuk menggambarkan sasaransasaran yang bersifat intelektual dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan mengingat, memproses, dan mengambil keputusan secara jitu dan tepat. Ranah ini teriri dari :
a. Pengetahuan yaitu mengembangkan, memperluas, dan memperdalam pengetahuan.
b. Kemampuan dan ketrampilan intelektual
2.4.4 Ranah Afektif
Ranah ini untuk menggambarkan sasaran-sasaran yang berkenaan dengan pengembangan sikap dan pribadi anak didik untuk tetap langgeng dalam penyesuaian diri dengan dan budaya lingkungan. Rincian untuk ranah afektif ini adalah sebagai berikut:
a. Sikap merespon secara sehat terhadap aktivitas jasmani, yang temasuk dalam kelompok ini adalah:
1. Pengembangan reaksi positif.
2. Presiasi terhadap pengalaman-pengalaman estetis
3. Pengenalan potensi-potensi kegiatan
4. Kemampuan untuk bisa menikmati aktivitas olahraga
5. Menjadi penonton yang baik yang menghargai penampilan yang luar biasa dalam olahraga
b. Perwujudan diri mencakup sasaran-sasaran yaitu :
1. Menyadari akan tubuh sendiri .
2. Pengetahuan tentang kemampuan-kemampuan apa yang dapat diterima oran lain
3. Kemampuan untuk menentukan tingkat aspirasi
c. Harga diri
Yaitu persepsi diri yang merujuk pada keyakinan dasar individu secara utuh tentang dirinya atas dasar pengalamanpengalaman yang lalu. (Nadisah, 1992:53-54).
Dari uraian di atas secara umum ada tiga tujuan belajar, antara lain:
a. Untuk mendapatkan pengetahuan
b. Penanaman konsep dan keterampilan
c. Pembentukan sikap. (A. M., Sadirman, 2010: 26).
Ada bebrapa cirri atau prinsip dalam belajar (Paul Suparno, 1997) yang menjelaskan sebagi berikut:
a. Belajar berarti mencari makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami.
b. Kontruksi makna adalah proses yang terus menerus.
c. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan data, tetapi merupakan pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan awal tetapi perkembangan itu sendiri.
d. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman subjek belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya.
d. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui, si subjek belajar, tujuan, motivasi yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang sedang dipelajari. (A. M., Sadirman, 2010: 38).
2.5 Pembelajaran Yang Efektif
Pembelajaran pendidikan jasmani yang efektif dan ideal adalah program dan tujuan pendidikan jasmani yang bersifat menyeluruh, sebab mencakup bukan hanya aspek fisik, tetapi juga aspek lainnya yang mencakup aspek intelektual, emosional dan moral.
Jadi secara sederhana pendidikan jasmani memberikan kesempatan kepada siswa untuk:
a. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan aktivitas jasmani, perkembangan estetika dan perkembangan sosial
b. Mengembangkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk menguasahi keterampilan gerak dasar yang akan mendorong partisipasinya dalam aneka aktivitas jasmani
c. Memperoleh dan mempertahankan derajat kebugaran jasmani yang optimal untuk melaksanakan tugas yang sehari-hari secara efisien dan terkendali
d. Mengembangkan nilai-nilai pribadi melalui partisipasi dalam aktivitas jasmani baik secara kelompok maupun perorangan.
e. Berpartisipasi dalam aktivitas jasmani yang dapat mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan siswa fungsi secara efektif dalam hubungan antara orang
f. Menikmati kesenggangan dan keringanan melalui aktivitas jasmani termasuk permainan olahraga.
2.6 Karakteristik Siswa Sekolah Menengah Pertama
Masa usia sekolah Menengah pertama dapat dikatakan sebagai masa usia remaja awal yaitu antara usia 12 sampai 16 tahun, karena usianya baru belasan tahun.Istilah adolecence atau remaja berasal dari kata latin yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa, istilah adolecence mempunyai arti yang cukup luas mencakup kematangan emosional, sosial dan fisik. Untuk itu dibawah akan di bahas tentang hal tersebut.
2.6.1 Keadaan Emosi
Secara tradisional masa remaja di anggap sebagai periode badai dan tekanan, suatu masa di mana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik. Adapun meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada di bawah tekanan- tekanan sosial dan menghadapi kondisi yang baru, pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanakkanak, perbedaannya terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi. Anak laki-laki sudah di katakan mencapai kematangan bila pada akhir remaja tidak meledakkan emosinya di depan orang lain, petunjuk kematangan lain adalah bahwa individu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional. Bila remaja ingin mencapai kematangan emosionalnya ia juga harus belajar menggunakan katarsis emosi untuk menyalurkan emosinya.
2.6.2 Keadaan Sosial
Salah satu tugas perkembangan remaja yang sulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial, remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis diluar lingkungan keluarga, untuk mencapai pola sosialisasi dewasa, remaja harus bayak membuat penyesusaian yang baru yang terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan menigkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam dalam seleksi persahabatan, nilai-niali baru dalam dukungan dan penolakan sosial dan dalam seleksi pemimpin.
2.6.3 Keadaan Fisik
Pertumbuhan fisik pada awal remaja ini sebelum sempurna terdapat pertumbuhan dan perkembangan internal yang lebih menonjol dari pada perkembangan eksternal, dalam perkembangan fisik juga terdapat perbedaan individu, meskipun anak laki-laki menilai pertumbuhan pertumbuhannya lebih lambat dari pada anak perempuan, sehingga saat matang biasanya laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan, perbedaan individu dengan di pengaruhi oleh usia kematangan, anak yang matangnya terlambat cenderung mempunyai bahu yang lebar dari pada anak yang matangnya lebih awal, tungkai kaki anak yang matangnya lebih awal cenderung pendek dan gemuk, tungkai kaki anak yang matangnya terlambat cenderung ramping. Anak perempuan yang matangnya lebih awal cenderung lebih berat, lebih gemuk, lebih tinggi di bandingkan dengan anak perempuan yang matangnya terlambat. ( Bimo Walgito, 1992 )
2.7 Perencanaan Pengajaran Pendidikan Jasmani
Pengajaran harus direncanakan untuk mempermudah proses belajar mengajar agar lebih bermakna. Guru yang baik akan berusaha sedapat mungkin agar pengajarannya berhasil. Salah satu faktor yang bisa membawa keberhasilan itu, ialah guru tersebut senantiasa memebuat perencanaan mengajar sebelumnya. Guru juga harus menyadari bahwa tujuan pengajaran adalah untuk membentuk kepribadian peserta didik dengan cara membekalinya dengan seperangkat materi pengajaran. Menurut Conny Semiawan dkk, dalam merencanakan suatu pelajaran seorang guru harus mempertimbangkan beberapa hal agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik antara lain:
1. Siswa sebagai orang yang terlibat dalam situasi belajar mengajar.
2. Waktu yang digunakan dalam pelajaran
3. Urutan bagaimana materi yang akan dibahas.
4. Rangkaian perkembangan proses berfikir dan ketrampilan yang akan ditumbuhkan oleh siswa.
5. Alat peraga yang akan digunakan
6. Penilaian yang akan diberikan (Conny Semiawan,1990:35)
Adapun fungsi perencanaan pengajaran menurut Oemar Hamalik (2001:135) adalah:
1. Memberi guru pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan hubungannya dengan pengajaran yang di laksanakan untuk mencapai tujuan
2. Membantu guru memperjelas pemikiran tentang sumbangan pengajarannya terhadap pencapaian tujuan pendidikan .
3. Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai pengajaran yang diberikan dan prosedur yang digunakan.
4. Membantu guru dalam mengenal kebutuhan-kebutuhan siswa, minat siswa, dan mendorong motivasi belajar.
5. Mengurangi kegiatan yang bersifat trial and error dalam mengajar dengan adanya organisasi kurikuler yang lebih baik, metode yang tepat dan menghemat waktu.
6. Siswa akan menghormati guru yang dengan sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengajar sesuai harapan-harapan mereka.
7. Memberikan kesempatan bagi guru untuk memajukan pribadinya dan pekembangan profesionalnya.
8. Membantu guru memiliki perasaan percaya pada diri sendiri dan jaminanatas diri sendiri.
9. Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan senantiasa memberikan bahan-bahan yang up to date kepada murid.
Dalam merencanakan seseorang gurupun harus menyusun rencana pengajaran dengan berpedoman pada kurikulum yang sedang berlaku yang terdiri dari program semester, analisis program pengajaran, pembuatan satuan pengajaran, program tes sumatif dan formatif.
1. Program semester
Guru pendidikan jasmani menyusun program ini menjelang awal semester beropedoman pada GBPP dan buku sumber. Dalam membuat program semester ini guru pendidikan jasmani akan mengisi format program semester dan mengisinya sesuai dengan mata pelajaran yang ada di GBPP dihitung jumlah pokok bahasan yang akan diselesaikan dalam satu semester. Sebagai contohnya ialah pada pelajaran bola voli guru pendidikan jasmani akan menentukan pokok bahasannya lebih dulu. Pokok bahasan bola voli pada kelas dua semester satu adalah tehnik
melakukan passing atas.
2. Analisis Materi Pelajaran Pendidikan Jasmani
Analisis Materi Pelajaran (AMP) adalah hasil dari kegiatan yang berlangsung sejak seorang guru mulai meneliti isi GBPP kemudian mengkaji materi kemudian menjabarkannya serta mempertimbangkan penyajiannya. AMP adalah salah satu bagian dari rencana kegiatan belajar mengajar yang berhubungan erat dengan materi pelajaran dan strategi penyajiannya. Adapun fungsi AMP sebagai acuan untuk menyusun program pengajaran yaitu: program tahunan, program catur wulan, program satuan pelajaran, dan rencana pengajaran.
3. Pembuatan Satuan Pelajaran Pendidikan Jasmani
Guru pendidikan jasmani sebelum melakukan pengajaran terlebih dahulu membuat satuan pelajaran bidang studi yang akan di ajarkan, dengan berpedoman pada GBPP dan sumber. Satuan pelajaran adalah suatu program belajar mengajar yang secara terperinci memuat tujuan intruksional umum, intruksional khusus, materi pelajaran, kegiatan belajar mengajar, alat dan sumber serta evaluasi (penilaian).
4. Program Tes Formatif dan Tes Sumatif Pendidikan Jasmani
a. Tes formatif
Adalah tes yang dilaksanakan dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi ajar setelah mengikuti suatu program pembelajaran tertentu dan berguna untuk memperbaiki proses belajar mengajar untuk mendapatkan umpan balik (feed back), baik guru maupun bagi siswa. Tes formatif dilaksanakan pada tiap akhir suatu sub pokok bahasan atau akhir setiap program pembelajaran tertentu. Adapun bentuk formatif seperti ulangan-ulangan harian dan praktek.
b. Tes Sumatif
Tes sumatif dilaksanakan untuk menentukan angka kemajuan hasil belajar siswa terhadap bidang studi tertentu, bisa saja disebut ulangan umum, bisa juga dengan istilah lain yaitu Tes Hasil Belajar (THB), Tes Prestasi Belajar (TPB) atau Evaluasi Tahap Belajar Akhir (EBTA).
2.8 Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Pelaksanaan adalah Proses, cara, perbuatan melaksanakan rancanagan, keputusan dn sebgainya (KBBI, 2001: 627). Setelah perencanan dan satuan pelajaran dibuat maka selanjutnya guru pendidikan jasmani tinggal melakukan pelaksanaan program kegiatan yang telah disusun tersebut. Dalam mengajar guru pendidikan jasmani berpedoman pada tujuan intruksional khusus yang telah dibuat pada program satuan pelajaran. Dalam pelaksaan pembelajaran ini rangkaian kegiatan yang dilakukan guru pendidikan jasmani pada mata pelajaran olahraga yaitu melakukan pre-tes terlebih dahulu sebelum memasuki mata pelajaran yang diberikan pada siswa.
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan keterampilan siswa pada mata pelajaran pendidikan jasmani yang akan di berikan padanya. Setelah pre-tes berlangsung maka guru pendidikan jasmani akan memasuki pada kegiatan belajar mengajar olahraga. Setelah kegiatan belajar olahraga selesai maka diakhiri dengan kegiatan belajar mengajar ini adalah dilakukan post-test untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menyerap materi yang telah diajarkan.
2.9 Metode Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran peranan metode dalam pembelajaran sangat menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dalam menyampaikan pesan kepada siswanya. Memilih metode yang tepat untuk menciptakan suasana proses pembelajaran yang menarik.
Beberapa metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran sebagai berikut:
a. Metode Ceramah
Menyampaikan materi secara lisan
Yang berperanan adalah guru
Untuk juimlah siswa yang besar
b. Metode Tanya Jawab
Komunikasi dua arah
Memberikan kesempatan tanya jawab yang belum dipahami
Tujuan mengulangi pelajaran dan selingan dari metode ceramah
c. Metode Diskusi
Soal-soal pemecahannya sebaiknya diseruhkan kepada siswa
Membiasakan siswa menghargai pendapat orang lain atau temannya
d. Metode Tugas dan Resitasi
Agar siswa lebih rajin dan dapat mengukur kegiatan baik di rumah maupun di sekolah
e. Metode Kerja Kelompok
Kekurangan fasilitas di dalam kelas misalnya satu buku dipakai lebih dari satu siswa
Kemampuan siswa bervariasi atau berbeda sehingga siswa yang kurang pandai bekerja sama dengan siswa yang pandai
Minat indifidual berbeda-beda
f. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
Memperlihatkan prose terjadinya sesuatu
Metode demonstrasi ekperimen adalah dilakukan oleh guru dan siswa bersama, contoh senam SKJ
Untuk memudahkan bebagai penjelasan
Untuk menghindari verbaisme
g. Metode Sosiodrama dan Bermain Peranan
Metode sosiodharma adalah metode mengajar dengan cara bertingka laku dalam hubungan social, bermain peranan menekankan kenyataan siswa diikut sertakan dalam permainan peranan.
h. Metode Problem Solving
Metode problem solving digunakan untuk pemecahan masalah dan menarik kesimpulan.
i. Metode Susun Regu
Menyajikan bahan pelajaran yang dilakukan bersama oleh dua orang atau lebih kepada kelompok pelajar untuk mencaoai tujuan pelajaran
Setiap anggota dalam suatu regu harus memiliki pendapat atau pandangan
Memberi tugas tiap topik agar masalah bimbingan pada siswa terarah baik
j. Metode Latihan
Untuk memperolejh ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari
Siswa harus diberi pengertian yang mendalam sebelum diadakan latihan tertentu
Latihan tidak perlu lama asal sering dilaksanakan
k. Metode Karyawisata
Karyawisata disini berarti kunjungan keluar kelas dalam rangka belajar, guna suatu cara penyajian bahan pelajaran dengan membawa siswa mengunjungi objek yang akan dipelajari. (Iskandar, 2009: 133).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah sistematis dalam metologi penelitian.
Metode kualitatif adalah suatu metode dalam pencarian fakta status sekelompok manusia, suatu obyek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang dengan interprestasi yang tepat.
3.2 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan pada kondisi yang alami, peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, data dihasilkan bersifat deskriptif kualitatif. (Sedarmayanti & Hidayat, Syarifudin, 2002: 33)
3.3 Tempat Dan Waktu Penelitian
3.3.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP N 4 Kupang.
3.3.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan selama satu bulan selama bulan Juli 2010, dengan rincian waktu kegiatan sebagai berikut:
Tabel 3.1
Rincian Waktu Penelitian
No
Jenis Kegiatan Bulan/ Minggu
April Mei
1 2 3 4 1 2 3 4
1 Rancangan Proposal Penelitian
X
X
X
2 Persiapan Perangkat Pengumpulan Data Penelitian
X
X
3 Pengumpulan data Penelitan X X
4 Pengolahan Dan Analisis Data Penelitian
X
X
5 Penulisan Hasil Penelitian X X X
3.4 Informasi Kunci
Dalam penelitian ini informasi dapat diperoleh dari guru penjas dan kepala sekolah SMN 4 Kupang dengan pertimbangan mereka mengetahui permasalahan yang ada di Sekolah dan sesuai dengan masalah yang diangkat dalam penelitian ini.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data dikumpulkan dengan menggunakan teknik-teknik, sebagai berikut:
a. Observasi, merupakan salah satu upaya untuk memperoleh data yang akurat dan valid dari Guru Pendidikan Jasmani serta peneliti dapat melihat secara langsung masalah-masalah yang terjadi dalam pengajaran. Mengetahui sarana-prasarana sebagai penunjang pembelajaran Pendidikan Jasmani secara efektif.
b. Wawancara, berfungsi untuk mendapatkan atau memperoleh informasi yang lengkap tentang proses pembelajaran dan faktor yang mempengaruhi kurangnya partisipasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di SMP N 4 Kupang.
c. Dokumentasi, merupakan alat utama peneliti penganalisis data melihat bukti-bukti yang menjadi atau pendukung secara dokumen. Dokumen yang dimaksud adalah silabus, rencana pembelajaran serta data yang lain yang menunjang dengan masalah partisipasi siswa.
3.6 Teknik Pengolahan Dan Analisis Data
Data yang dikumpulkan dianalisis secara kronologis, sistematis secara obyektif sehingga memperoleh data yang valid dan akurat. Menggunakan teknik analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
BAB IV
PAPARAN DAN TEMUAN
4.1 Proses Tahap Pelaksanaan
Poses penelitian dilaksanakan di Lingkup Kota Kupang dengan judul “Partisipasi Siswa Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Jasmani Di SMP Negri 4 Kupang ” dengan beberapa tahapan-tahapan antara lain:
4.1.1 Tahap Persiapan
a. Pada hari/ tanggal: Jumad,12 Juli 2010 yakni pengesahan dan pengeluaran dan penyerahan surat ijin penelitian oleh Bapak Dekan FKIP, Universitas PGRI Kupang.
b. Pada hari/ tanggal: Senin, 15 Juli 2010 menyerahkan surat ujian penelitian kepada Badan Kesbang Limnas Kota Kupang di Kupang dan menyerahkan suarat rekomondasi dan ijin penelitian dan tembusan.
c. Pada hari/ tanggal: Selasa, 16 Juli 2010 menyerahkan surat ijin penelitian kepada Bapak Camat Oebobo Kupang dan mengeluarkan surat remondasi ijin penelitian kepada Kepala Lurah Air Nona.
d. Pada hari/ tanggal: Senin, 19 Juli 2010 menyerahkan surat ijin penelitian ke SMP Negri 4 Kupang dan dilangsungkan perbincangan tentang maksud dan tujuan kedatangan peneliti.
4.1.2 Tanggapan dan Harapan
Dari hasil perbincangan tentang maksud dan tujuan kedatangan peneliti dengan Ibu Siltje D. Ndolu selaku kepala sekolah SMP N 4 Kupang yang mengatakan bahwa “Saya sebagai kepala sekolah disini beserta guru dan siswa menyambut baik atas tujuan kedatangan adik untuk melakukan penelitian di wilayah ini. Mudah-mudahan dengan adanya penelitian ini akan membawa dampak yang positif dan manfaat bagi sekolah ini ke depan khususnya dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani di SMP N 4 Kupang.”
Dari hasil wawancara diatas maka disimpulkan bahwa kedatangan peneliti mendapat sambutan baik oleh kepala sekolah beserta stafnya. Oleh karena itu, penelitian ini akan menjadi harapan agar hasil dari penelitiannya membawa perubahan terhadap kondisi di sekolah khususnya dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani di SMP N 4 Kupang.
4.1.3 Tanggapan dan Pelaksanaan
Melandasi surat ijin penelitian yang telah diletimasi oleh Dians Kesbang Limnas Kota Kupang, maka peneliti langsung melaksanakan kegiatan penelitian (pengumpulan data) diantaranya: observasi, wawancara dan dokumentasi.
4.2 Gambaran Umum Kancah Penelitian
4.2.1 Perkembangan Berdirinya SMP N 4 Kupang
Berdirinya SMP N 4 Kupang pada tahun 1979, pada umumnya, adalah sekolah yang sudah beberapa kali mengalami perubahan nama, dan perubahan nama tersebut tidak terlepas dari peranan sekolah dalam usaha mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara terutama di negara kita. SMP N 4 Kupang merupakan salah satu sekolah yang mutuh pendidikannya cukup baik, hal ini disebabkan karena sekolah dan ruangan belajar yang ada turut mendukung dan serta memadahi.
Suatu lembaga pendidikan formal yang berkompotensi merupakan tanggung jawab pusat, daerah dan tidak terlepas dari komponen-komponen yaitu guru, kepala sekolah, pegawai, siswa dan komite sekolah atau orang tua siswa untuk itu SMP N 4 Kupang merupakan suatu lembaga Pendidikan Menengah Pertama, yang telah berjalan dengan menunjukan suatu lembaga profesi yang menciptakan dan mendidik anak bangsa khususnya di Kota Kupang.
Berdirinya SMP N 4 Kupang tahun 1979, pada saat itu sekolah dibawah pimpinan Drs. A. W. Lego, yang menjabat sebagai kepala sekolah di SMP N 4 Kupang diantaranya dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini.
Tabel 4.1
Data Kepala Sekolah
No Nama Menjabat Tahun Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
6. A. W. LEGO
M. M. SANU
JONNI DA COSTA, Spd.
Dra. SARLOTHA O. KOROH
HANS TAUPAN
Dra. SILTJE D. NDOLU 179 – 1989
1989 – 1993
1993 – 1999
1999 – 2004
2004 – 2008
2008 - Sekarang Tidak Aktif
Tidak Aktif
Tidak Aktif
Tidak Aktif
Tidak Aktif
Kepala Sekolah
Sumber : SMPN 4 Kupang, 2010
Dari data kepala sekolah diatas menunjukan telah berjasa. Hal ini didasarkan dari masa kerja, tugas jabatan yang diembankan menunjukan SMP N 4 Kupang mempunyai andil dalam menyukseskan program pemerintah.
Tenaga pendidikan yang ada di SMP N 4 Kupang dapat dilihat pada tabel 4.2 dibawah ini.
Tabel 4. 2
Tenaga Kependidikan Di SMP N 4 Kupang
PEMERINTAHAN KOTA KUPANG
DINAS PENDIDIKAN
SMP NEGRI 4 KUPANG
Jln. Untung Surapati 19, Telp. (0380) 821858
DAFTAR NAMA GURU (TAHUN 2010)
Keadaan Bulan Juni
No
Nama/NIP
Mapel/ Kelas
Jmlh
Kelas Jmlh
Jam Per Migg Jmlh
Jam Megjr
Tugas Tambhan
Beban Kerja
1 Dra. Siltje D. Ndolu
NIP. 18581215 198603 2 014 BK/ 9 C-D 2 4 8 Kepala Sekolah 32
2. Bambang S. Hartono, S. Pd
NIP. 1970220 197903 1 007 Bing/ 9 C - D 2 7 14 Wakil
Kepsek 26
3. Drs. Soleman Mone
NIP. 19601001 1999903 1 001 IPS/ 7 ABC 3 4 12 Wali Kelas 24
4. Mariam Huna Kore, S. Pd
NIP. 19691201 199802 2 005 Pend. Ag. Pro 9A-9J/ 8A-B 12 2 24 Wali Kelas 9B 26
5. Febby Radja Udju, S. Pd
NGH Pend. Ag. Pro./ 8C-8H 6 2 12 Wali Kelas 8C 18
6. Thirsa Neno Besi, S. PAK
NIP. 19650109 199303 2 005 Pend. Ag. Pro./ 7A-7J, 8I, 8J 2 2 24 - 24
7. Sisilia Liwu
NIP. 19740411 200604 2 028 Pend. Ag. Kat./ 8, 9 3 2 6 Wali Kelas 7I 12
8. Kondradus Jhosep Tobu
NGH Pend. Ag. Kat./ 7 3 2 6 - 6
9. Siti Aminah Ramli
NGH Pend. Ag. Is./ 7, 8, 9 3 2 6 - 6
10. I Wayan Suparta
NGH Pend. Ag. Hin./7, 8, 9 3 2 6 - 6
11. Jeni f. Doko, S. Pd
NIP. 19730121 200701 2 009 PKN/ 9A-9E 5 2 10 Wali Kelas 9D 16
12. Tresia But
NIP. 19621205 198411 2 001 PKN 9F-9J 5 2 10 Wali Kelas 9F 16
13. Olivia Djawa
NIP. 19620801 198403 2 014 PKN 8A-E 5 2 10 Wali Kelas 8B 16
14. Sofia Talo Leba, A. Md
NIP. 19610719 198411 2 001 PKN 8F-J 5 2 10 Wali Kelas 8I 16
15. Yani A. A. Boymau, S. Pd
NIP. PKN 7A-J 10 2 20 Urusan Siswa Kls 7 30
16. Lelly S. Rihi, S. Pd
NIP. 19560318 197903 2 006 BINDO/ 9A-9E 5 5 25 Wali Kelas 9C 31
17. Susana Tungga, A. MD
NIP. 19631205 198003 1 020 BINDO/ 9F-9H 3 5 15 Wali Kelas 9E 21
18. Abdurahim Ansyar, A. Md
NIP. 19550713 198003 1 020 BINDO/ 9E, J & 8A, B, C 5 5 25 Kep. Ur. Sarana Prasarana 30
19. Amandus Dalot, S. Pd
NIP. 19680808 199801 1 002 BINDO/ 8D-8H 5 5 25 - 25
20. Lodia Lobo, A. Md
NIP. 19570312 198003 2 006 BINDO/ 8I, J & 7 ABC 5 5 5 - 25
21. Lorentje, S. Pd
NIP. 19690830 200604 2 013 BINDO/ 7D-7H 5 5 25 Wali Kelas 7C 31
22. Bale Roly K. Lado, S. Pd
NIP. 19730404 00701 2 019 BINDO/ 7I, J 2 5 10 Wali Kelas 7H 31
23. Cecilia E. Kaluge, S. Pd
NIP. 19550608 19705 2 002 BING/ 9AB & 9EFG 5 5 25 Wali Kelas 9A 31
24. Susy Aprijanti, S. Pd
NIP. 19720409 200312 2 004 BING/ 9HIJ 3 5 15 - 15
25. Lazarus Kartiba
NIP. 19541110 198003 1 036 BING/ 8A -8F 6 4 24 Wali Kelas 8A 30
26. Agustina Matkauana
NIP. 1960807 198803 2 015 BING/ 8GH 2 4 8 Wali Kelas 8F 14
27. Dona G. Dyra
NIP. 19581226 198403 2 005 BING/ 8IJ 6 4 24 - 24
28. Mau M. K. Lado, S. Pd
NIP. 19710317 200112 1 006 BING/ 7 AB 2 4 8 Wali Kelas 7B 14
29. Yakoba Kaho, S. Pd
NIP. 1950128 200801 2 006 BING/ 7GH 2 4 8 Wali Kelas 7E 14
30. Deti Liubana
NGK BING/ 7IJ 2 4 8 - 8
31. Maria M. Saik, S. Pd
NIP. 19671012 199103 2 007 MAT/ 9 ABE & 8IJ 5 5 25 Staf Kesiswaan 33
32. Siswanto, S. Pd
NIP. 19670502 198901 1 002 MAT/ 9CDF & 8BC 5 5 25 Kep. Ur. Kurikulum 37
33. Benedytha Djelinda
NIP. 196302502 198703 2 019 MAT/ 9IJ 2 5 10 - 10
34. Mariana M. Mutia, A. Md
NIP. 19630502 198703 2 019 MAT/ 9IJ 2 5 10 - 10
35. Gabriel Murin
NIP. 19510117 197603 1 007 MAT/ 8A 1 5 5 - 5
36. Yustina Maran, A. Md
NIP. 19530106 198003 2 003 MAT/ 8CDF & 7 CD 5 5 25 Wali Kelas 8D 31
37. Agnes B. O. T. A., S. Pd
NIP. 19650127 20012 2 004 MAT/ 8GH, 7 HIJ 5 5 25 Wali Kelas 8G 31
38. Cornelia I. Daniel, A. Md
NIP. 19620416 198601 2 005 MAT/ 7AB 5 2 10 Wali Kelas 7A 16
39. Anastasia Nainaban, A. Md
NIP. MAT/ 7F 1 5 5 Wali Kelas 7E 11
40. Agustinus M. Kadja, S. Pd
NIP. 19800705 200804 1 004 MAT/ 7G 1 5 5 Staf Kesiswaan 13
41. Naomi Dillak, S. Pd
NIP. 19710603 199081 2 001 IPA/ 9A-9E 5 5 25 Koord. Lab. IPA 37
42. Dra. Nurul Aeni
NIP. 19581010 197803 2 030 IPA/ 9A 9E 5 5 25 Staf Lab. IPA 33
43. Drs. Ramli
NIP. 19630104 199303 1 008 IPA/ 9F-9J 5 5 25 Staf Kurikulum 33
44. Susana L. E. Bani, A. Md
NIP. 1964112 198803 2 007 IPA/ 9F-9J 5 5 25 Staf Lab. IPA 33
45. Arcob Lette, S. Pd
NIP. 19530924 197903 1 005 IPA/ 8A-8E 5 5 25 Staf. Bud. & Lingk. Sek. 33
46. P. M. Djawa Huly, A. Md
NIP. 19541010 197902 2 002 IPA/ 8A-8E 5 5 25 Wali Kelas 8E 31
47. Naomi Jana, S. Pd
NIP. 19560208 197903 2 005 IPA/ 8F-8J 5 5 25 Wali Kelas 8A 31
48. Yakob Djara
NIP. 19630103 200701 1 009 IPA/ 8F-8J, 7J 5 6 30 Pembina Pramuka 36
49. Ruth Koreh
NIP. 19700183 199303 2 004 IPA/ 7ABC 3 5 15 Wali Kelas 7G 31
50. Hendrik Pali, S. Pd
NIP. 19680605 200604 1 022 IPA/ 7D-7I 6 5 30 - 30
51. Daud J. Medah
NIP. 19540724 198003 1 010 IPA/ 7D-7I 5 5 25 - 25
52. Anni D. Bangngu Riwu, S. Pd
NIP. 19601004 198111 2 003 IPS/ 9A-9F 6 4 24 Staf Kurikulum 32
53. Erniy M. Riwu, S. Pd
NIP. 19580826 198111 2 002 IPS/ 9GHI & 9 AE 6 4 24 Wali Kelas 9I 30
54. Funan Banunaek, S. Pd
NIP. 19720608 199903 2 005 IPS/ 9A-9E 6 4 24 - 24
55. Felisita Kama, S. Pd
NIP. 19560715 198003 2 009 IPS/ 8A-8F 6 4 24 Urusan Siswa Kls 8 34
56. Merry P. Hede, S. Pd
NIP. 19710522 200701 2 014 IPS/ 8GHIJ & 8 EF 6 4 24 - 24
57. Rosalin Mira Mangngi, S. Pd
NIP. 1961229 200604 2 006 IPS/ 7D-7I 6 4 24 Wali Kelas 7D 30
58. Agustina Lado, S. Pd
NIP. 19560806 197907 2 009 IPS/ 7E-7J 6 4 24 - 24
59. Marsauli Silalahi, S. Pd
NIP. 19641123 198703 2 016 Seni Bud./ 9A 9J 10 2 20 Wali Kelas 9H 20
60. Matheus M. Benidau, S. Pd
NIP. 19701127 200112 1 004 Seni Bud./ 8A-8H 8 2 16 Kep. Ur. Bud. & Lingk. Sek. 26
61 Merpati Oematan, S. Pd
NIP. 19821108 200903 2 007 Seni Bud./ 8IJ & 7A-7J 12 2 24 - 24
62. Sebabung, S. Pd
NIP. 19700824 200112 1 003 Penj. Orkes 9A & 9J & MI Nurul H.Naikoten I-IV 10
6 2
2 20
12 Staf Kurikulum
28
12
63 Subraja Alang, A. Md
NIP. 19591231 198103 1 243 Penjas Orkes 12 2 24 - 24
64. Ery Lay Lena, S. Pd
NIP. 19591231 198103 1 243
Pej. Orkes/ 7A-J& SD GMIT II 8
6 2
2 16
12 Pembina OSIS 32
65. Agustina Wadu, S. E
NGB TIK 9A-9J 10 2 20 Pengel. Ruang Med. 30
66. Viktor Naturasi
NGH TIK 8A-8J 10 2 20 Pengel. Lab Komputer 30
67. Deby Malelak, S. Pd
NGH TIK 7A-7J, 8 IJ 12 2 24 - 24
68. Lorintje K. Ratu, A. Md
NIP. 19500605 197903 2 003 Mulok Pemb. 8C 1 2 2 - 2
69. Hj. Siti Z. Alboneh, S. Pd
NIP. 19590120 198903 2 003 Mulok Pemb. 9A-9J, 8AB 12 2 24 Wali Kelas 9J 30
70. Katrina Namundjandji
NIP. 19651019 199003 2 003 Mulok Pemb. 8D, E 2 2 4 Staf Humas 12
71. Magdalena A. Ardjon, S. Pd
NIP. 19710424 199302 2 005 Mulok Pemb. 8F-8G 2 2 4 Staf Kurikulum 12
72. Nurdin Korebima
NIP. 19510311 197603 1 004 Mulok Pemb. 8H 1 2 2 - 2
73. Debora Heke Medoh, A. Md
NIP. 19530923 198008 2 004 Mulok Pemb. 7A-7J, 8IJ 12 2 4 - 24
Tugas Guru Bimbingan Konseling
No Nama/ NIP Mapel Kls Tugs Tamb. Byk Sswa Yg Dibimbing Beban Kerja
74. Dra. Lusia Selo
NIP. 19511218 195812 2 001 BK 8 Koor. Lab. 8 x 36 = 288 Siswa 30
75. Margarice Ratu, S. Pd
NIP. 19670506 199010 2003 BK 8 Kaur Kesisw. 8 x 36 = 288 Siswa 30
76. Yusuf Nesimnasi
NIP. 19670616 199011 1 002 BK 7 - 7 x 32 = 244 Siswa 26
77. Adriana Kase
NIP. 19640129 199003 2 006 BK 7 - 7 x 32 = 244 Siswa 26
Sumber Data: SMPN 4 Kupang, 2010.
Dari data guru diatas menunjukan sebagian besar guru yang telah berpengalaman. Halk ini didasarkan dari masa kerja, tugas jabatan yang diemban menunjukan kondisi sekolah SMP N 4 Kupang mempunyai andil dalam menyukseskan program pemerintah. Keberhasilan proses belajar mengajar di SMP N 4 Kupang dalam bidang studi non penjas dalam hal ini bidang studi lainnya telah menunjukan keberhasilan yang dibuat. Keberhasilan ini bukan saja untuk bidang studi non penjas namun juga menunjukan program Pendidikan Jasmani sehingga yang ada di SMP N 4 Kupang merupakan bagian dari integral-integral dari biodang studi laiinya. Dengan kata lain Pendidikan Jasmani dan bidang studi non penjas saling kait-mengait atau tidak ada perbedaan.
Dari hasil wawancara bersama dengan Bapak Subraja Alang (guru penjas) mengungkapkan bahwa: ” Guru-guru yang ada di SMP N 4 Kupang adalah mereka yang telah lama mengabdi sebagai guru pengajar dan juga pembawa sesuatu konsekuensi bagi perkembangan sekolah SMP N 4 Kupang”
Hal demikian juga dikatakan oleh Ibu Agnes A. T. Atulolon, S. Pd sebagai berikut: “SMP N 4 Kupang telah berdiri pada tahun 1979 yang telah menunjukan suatu keberhasilan putra-putri kota kupang dan sekitarnya dan tidak tidak terlepas dari masyarakat NTT, kenyataan ini ada beberapa teman mengabdikan dirinya sebagai pengajar walaupun belum lama namun kami selalu berusaha semaksimal mungkin menanamkan pengetahuan yang kami miliki bersama guru senior dan kepala sekolah bahkan bersama siswa sehingga terjadi proses interaksi dalam kegiatan belajar mengajar”.
Dari hasil wawancara dan dokumen yang diperoleh pendidikan guru-guru di SMP N 4 Kupang memiliki kelayakan mengajar dimana waktu itu masih banyak guru yang berpendidikan diploma.
Dengan adanya program pemerintah dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM), maka guru-guru yang berpendidikan diploma diberi kesempatan lewat satu proyek pengetahuan tatap muka (PTM), dengan jenjang sarjana. Kondisi tersebut membawa suatu konsekuensi yang sangat berarti bagi perkembangan pendidikan.
Uraian di atas merupakan implikasi SMP N 4 Kupang yang mendasarkan terhadap program pendidikan dan sekolah yang mana dapat diasumsikan antaranya:
- Tenaga guru ada di sekolah tersebut memiliki kelihan yang memadahi ditandai dengan kompotensi sebagai guru.
- Pemerintah selalu dan memperhatikan keberadaan sekolah dalam rangka mempertahankan eksistensinya sebagai pendidikan yang bermutu dan kualitas.
- SMP N 4 Kupang adalah suatu lembaga profesional yang bertujuan membentuk peserta didik (siswa) menjadi manusia yang berkepribadian yang matang dan dapat bertanggung jawab terhadap masyarakat dan terhadap dirinya.
Untuk tenaga administrasi memenuhi aturan atau kebutuhan yang digunakan dalam rangka menyukseskan program sekolah (kurikulum). Selain itu administrasi sekolah yang menyangkut surat-menyurat dapat diselesaikaikan dengan baik.
Berdasarkan data yang diperoleh penulis di kancah penelitian adalah kelas VIII A SMP N 4 Kupang dengan kapasitas atau daya tampung kelas tersebut sebanyak 43 siswa dengan rincian menurut jenis kelamin, untuk lebih jelas penulis menjabarkan dalam bentuk tabel 4. 3 berikut ini.
Tabel 4. 3
Jumlah Siswa/ i Menurut Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah
1. Laki-Laki 21 Orang
2. Perempuan 22 Orang
Jumlah 43 Orang
Sumber: SMP N 4 Kupang, 2010.
Dari hasil olahan penulis menunjukan bahwa jumlah siswa/ i kelas VIII A di SMP N 4 Kupang jumlahnya cukup. Dengan demikian penulis mengatakan bahwa ada kesadaran yang tinggi dari masyarakat atau orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Siswa yang jumlahnya besar berasal dari penduduk yang bermukim di sekitar lokasi sekolah.
Dari uraian diatas penulis berkesimpulan bahwa pendidikan bagi anggota masyarakat sangat penting untuk menambah wawasan pemikiran dan pandangan dalam menambah pengetahuan juga dapat merubah pola pikir manusia dalam hal ini SDM yang masih kurang.
Tenaga pendidik merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam menyelenggarakan pendidikan, menyelengarakan kegiatan mengajar, melatih, mengelolah, memberi pelayanan teknis dalam bidang pendidiikan. Salah satunya bidang tenaga kependidikan adalah tenaga pendidik atau pengajar yang bertugas untuk mengajar. Karena tugas utamanya mengajar, guru harus mempunyai wewenang mengajar berdasarkan kualitas sebagai tenaga mengajar. Sebagian tenaga mengajar atau pendidik harus mempunyai kemampuan profesional dalam bidang belajar mengajar atau pembelajaran.
Dengan kemampuan guru dapat melaksanakan perannya yakni:
- Sebagai fasilitator, menyediakan kemudahan-kemudahan belajar bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar
- Sebagai pembimbing, membentuk siswa untuk mengatasi kesulitan dalam proses pembelajaran
- Sebagai komunikator, melakukan komukasi dengan siswa
Disamping harus memiliki kemampuan yang profesional, pembelajaran setiap guru selaku tenaga pendidik harus memiliki kemampuan kepribadian. Berdasarkan kenyataan ini, penulis menyimpulkan bahwa instansi-instansi yang berkomponen untuk melihat secara dekat mengenai suatu lemabaga pendidikan terbentuk, agar betul-betul dapat diperhatikan secara baik, sebab pendidikan dari para pengajar sangat berpengaruh terhadap suatu lemabag pendidikan.
Berpijak dari asumsi bahwa pendidikan dapat merubah cara berpikir dan bertindak seseorang, maka dapat dikatakan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan makin baik pula pemikiran-pemikiran dalam menghadapi serta mengatasi masalah-masalah baik itu masalah secara pribadi maupun kelompok.
Oleh karena itu, tingkat pendidikan guru penjas yang ada di SMP N 4 Kupang cukup baik dengan pendidikan jenjang S1 agar berpengaruh terhadap upaya peningkatan pendidikan formal anak didik yang dicanangkan oleh pemerintah.
Berdasarkan data pendidikan yang diperoleh langsung oleh penulis bahwa guru pendidikan di SMP N 4 Kupang jika diklasifikasi menurut tingkat pendidikan cukup baik dan layak. Sekolah SMP N 4 Kupang ada 3 guru pendidikan jasmani. Untuk lebih jelas dijabarkan dalam tabel 4. 4 berikut ini.
Tabel 4. 4
Tingkat Pendidikan Guru Penjas Di SMP N 4 Kupang
No Nama Guru Status Jenjang
Pendidikan Mengajar
Di Kelas
1. Erik Lay Lena, S. Pd PNS Sarjana VII
2. Sebabung, S.Pd PNS Sarjana VIII
3. Subraja Alang, A. Md PNS Diploma (D 3) IX
Sumber: SMP N 4 Kupang, 2010.
Dari hasil yang disajikan diatas sangat jelas tingkat pendidikan guru pendidikan jasmani dilihat bahwa ada 2 guru penjas memiliki jenjang pendidikan S1 (Sarjana) dan yang lainnya Diploma (D3). Berdasarkan kenyataan ini penulis menyimpulkan bahwa guru penjas harus memiliki keterampilan, kemampuan dan ilmu pengetahuan serta wawasan khusus dalam bidang pendidikan jasmani.
Pendidikan di SMP N 4 Kupang adalah suatu proses yang berlangsung di sekolah yang pada dasarnya bertujuan merealisasikan cita-cita oleh masyarakat tentang perkembangan anak-anak berupa pemberian pengetahuan sekaligus membimbing dan akan perubahan tingka lakunya berdasarkan temuan di lapangan. Fungsi dan peranan Pendidikan Jasmani di SMP N 4 Kupang sangat besar berarti bagi kehidupan masa kini dan masa yang akan datang diantaranya:
- Dapat membentuk manusia untuk memperoleh pengetahuan di bidang pendidikan jasmani, lebih daripada itu pendidikan jasmani dan kesehatan lebih penting karena perkembangan teknologi, menghadirkan produk-produk teknologi yang memang peranan sentral dalam kehidupan, sehingga mereka memiliki kehidupandi bidang pendidikan jasmani dan kesehatan.
- Dapat membantu manusia untuk menghasilkan tenaga-tenaga yang spesialis di bidang jasmani dan kesahatan, melalui jalur pendidikan ini setiap individu memperoleh modal pengetahuan, keterampilan, pengalaman serta dapat pula mendidik tenaga-tenaga yang lebih ahli dalam bidang pendidikan jasmani dan kesehatan.
- Dapat mengembangkan pribadi, individu dan kpribadian masing-masing. Pendidikan tidak hanya sekedar bertujuan memperngaruhi perkembangan intelektualitas individu tetapi juga lebih daripada berusaha mengembangkan jiwa dan jasmani serta watak dan prilakunya.
- Konsep-konsep tersebut apabila digunakan secara baik maka akhir dari pendidikan jasmani akan dilihat melalui evaluasi yang meliputi anatara lain pendahuluan, inti dan penenangan. Suatu hal yang dibuat oleh guru penjas dalam membelajarkan banyak menyuruh anak-anak mengambil alat-alat dan menuju permainan atau berlatih tanpa perhatian efektif dan anak-anak sebagian r\tidak melaksanakan aktifitas karena kekurangan sarana.
Maka perlu direkomondasikan pada guru pendidikan jasmani di SMP N 4 Kupang perlu mengambil langkah -langakah sebagai berikut:
- Guru penjas perlu merasa tanggung jawab atas pelaksanaan tugas, berpedomaan pada kurikulum, RPP, silabus dan mengevaluasi.
- Perlu koordinasi dengan teman-teman sejawat atau bidang studi dengan berkomponen serta membaca buku.
- Sebagai guru penjas bias mampuh memodifikasi dalam kegiatan belajar mengajar pendidikan jasmani.
4.2.2 Keadaan Geografis
Adapun letak sekolah berada di wilayah kota Kupang yang berhadapan dengan jalan raya, disekitar kompleks tersebut terdapat kantor pemerintahan, sekolah, pertokoan. Adapun letak SMPN 4 Kupang secara geografis sangat menunjang dalam proses belajar mengajar, dari segi transportasi mudah dijangkau dan dilalui kendaraan beroda dua dan empat.
Bangunan SMPN 4 Kupang merupakan bagngunan permanent terdiri dari :
Ruang Kepala Sekolah
Ruang Guru
Ruang BK
Ruang Perpustakaan
Ruang T.U.
Ruang Kelas (belajar)
Ruang Laboratorium
Ruang Kurikulum
Ruang Multimedia
Ruang Osis
Lapangan Olahraga dan Lapangan apel
Kantin
WC
Kamar mandi
Dari gambaran tersebut dapat digambarkan denah sekolah sebagai berikut:
DENA SMP N 4 KUPANG
4.3 Paparan Dan Temuan Tentang Sarana Prasarana
Sarana prasarana merupakan factor pendukung berhasilnya Pembina olah raga yang tersedia bagi upaya meningkatkan prestasi. Salah satu faktor penting tercapainya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani adalah sarana prasarana. Dalam melakukan komunikasi sarana dan prasarana pelajaran pendidikan jasmani di SMP N 4 Kupang, peneliti menemui guru penjaskes (Bapak Sibabong, S. Pd), untuk melihat situasi tempat penyimpanan alat-alat atau fasilitas penjaskes.
Dari hasil observasi yang dilakukan, diperoleh data-data pada tabel 4.5 berikut ini.
Tabel 4.5
Sarana Prasarana
No Jenis Alat Kondisi Alat Ket.
Baik Rusak Jumlah
1. Cakram 5 3 8
2. Peluru 9 1 10
3. Tongkat Estafet 2 - 2
4. Bola Kaki 3 2 5
5. Bola Voli 4 - 4
6. Bola Takraw 8 1 9
7. Basket 2 - 2
8. Net Takraw 4 2 6
9. Matras 3 1 4
Sumber Data: SMP N 4 Kupang, 2010.
4.4 Paparan Dan Temuan Proses Pembelajaran Pendidikan Jasmani
4.4.1 Data Observasi (Pengamatan)
Pembelajaran Pendidikan Jasmani Merupakan suatu keterampilan khusus mempelajari sejauh mana persiapan untuk menyiapkan keterampilan motorik yang menentukan hasil. Sesuai dengan pengumpulan data, peneliti mengamati secara langsung disaat proses pembelajaran pendidikan jasmani. Hari/ tanggal: 26 Juli 2010, pukul 08. 30 WITA , guru penjas di SMP N 4 Kupang sudah mempunyai persiapan dalam mengajar. Guru penjas menyuruh anak-anak mengambil alat dan menuju tempat permainan melalui tahap-tahapa dalam permainan (pendahhuluan, inti dan penenangan), sehingga siswa dapat beraktifitas gerak .
4.4.2 Data Wawancara
Sesuai dengan teknik dan pengumpulan data, peneliti mewawancarai guru penjas (Bapak Subraja Alang, A. Md) di SMP N 4 Kupang pada hari/ tanggal: Senin, 26 Juli 2010, pukul 10. 30 WITA, mengatakan bahwa: “Dalam proses pembelajaran penjas lebih banyak digunakan modifikasi sarana prasarana. Saya mengajar mata pelajaran penjas tidak mengalami hambatan akan tetapi fasilitasnya terbatas. Selama ini, tempat praktek yang biasa digunakan adalah di GOR, sehingga keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dalam pendidikan jasmani sangat kurang”.
Gambar 4.1 Peneliti sedang mewawancarai
dengan guru penjas (Bapak Subraja Alang, A. Md)
Sesuai dengan hasil wawancara diatas tentang proses pembelajaran penjas maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa proses pembelajaran penjas dapat berjalan dengan baik, dimana ada keterlibatan siswa dalam memngikuti proses pembelajaran dan guru mempersiapkan materi yang memiliki kemampuan dalam menerapkan materi praktek karena profesinya guru penjas.
Juga diperkuatkan oleh Ibu Kepala Sekolah (Ibu Dra. Siltje D. Ndolu)mengemukakan bahwa: “Selama ini kegiatan pembelajaran pendidikan Jasmani boleh dikatakan sesuia dengan tujuan kurikulum, begitupum juga pembinaan olah raga yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi yang tinggi sehingga pendidikan jasmani di sekolah kami mendapat bantuan dari BP3 atau Komite Sekolah, Pemerintah (DEPDIKNAS) sehingga terpenuhi guru-guru penjas sangat berupaya untuk mendidik dan melatih anak-anak dalam bidang pendidikan jamsani”.
Gambar 4.2 Peneliti sedang mewawancarai
dengan Kepala Sekolah (Ibu Dra. Siltje D. Ndolu)
Hal senada juga diperkuat oleh seorang siswa (Riki Radja) yang menjabat sebagai ketua OSIS tentang proses pembelajaran penjas pada hari/ tanggal: Selasa, 27 juli 2010, pukul 09. 30 WITA, yang mengatakan bahwa: “Proses pembelajaran penjas yang selama ini yang selama ini yang kami laksanakan secara maksimal, masalahnya sarana prasarana belum menjamin terhadap proses pembelajaran penjas sehingga keterlibatan kami sangat kurang dalam mengikutinya”.
Gambar 4.3 Peneliti sedang mewawancarai
dengan seorang siswa (Riki Radja) selaku ktua OSIS
Sesuai dengan hasil wawancara diatas tentang proses pembelajaran penjas maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran penjas dapat berlangsung dengan baik dan ada partisipasi siswa maka sarana prasarana harus mendukung. Di SMP N 4 Kupang hal demikian tidak terpenuhi sehingga terkesan tidak adanya partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran penjas.
Kondisi tersebut diatas secara merata tidak dilaksanakan secara efektif, sehingga menunjukan konsep pembelajaran pendidikan jasmani di SMP N 4 Kupang belum memperlihatkan siswa aktif secara keseluruhan, hanya pada naka-anak tertentu dalam hal ini yang memiliki minat olah raga.
Hal ini perlu direkomondasikan dalam bentuk perbaikan proses pembelajaran pendidikan jasmani do SMP N 4 Kupang dalam hal ini proses pembelajaran penjas. Guru diharapkan aktif dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani. Secara rinci yang harus dimiliki guru penjas adalah sebagai berikut:
- Memiliki kemampuan untuk mengindentifikasikan karakteristik siswa di SMP N 4 Kupang
- Mampuh membangkitkan dan memberikan kesempatan kepada anak untuk berkreatif dan aktif dalam proses pembelajaran penjas.
- Mampuh memberi dan mengembangkan anak dalam proses pembelajaran untuk mencapai pendidikan jasmani.
- Memiliki kemampuan untuk mengindentifikasi peserta didik dalam dunia
- Memiliki pemahaman tentang unsur-unsur fisik
- Sejauh mana komponen diatas yang dimiliki oleh guru pendidikan jasmani sehingga akan mampuh mengajar pendidikan jasmani dengan baik dan benar.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru pendidikan jasmani dan hasil observasi selama pembelajaran, peneliti dengan merekomondasikan kepada guru pendidikan jasmani bahwa hal pembelajaran yang dulunya bersifat tradisional ini diperbaharui dengan pendekatan pembelajaran modern sehingga hail yang diperoleh peneliti disepakati bahwa pendidikan jasmani adalah suatu proses yang dialakukan secara sistematis melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani. Kemampuan dan keterampilan, kecerdasan, perkembanagan motorik dan kepribadian yang harmonis dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya berdasarkan Pancasila.
4.5 Paparan Dan Temuan Tentang Partisipasi Siswa Di SMP N 4 Kupang
4.5.1 Data Observasi
Sesuai teknik pengumpulan data peneliti melakukan observasi lapangan pada hari/ tanggal: Senin, 19 Juli 2010, Pukul 09. 30 WITA, tentang partisipasi siswa dalam proses kegiatan belajar. Partisipasi siswa dalam pembelajaran sangat menentukan kelancaran proses belajar mengajar dan juga menggambarkan nuansa interaksi yang baik antara pendidik dan peserta didik. Hal ini dilihat saat proses kegiatan berlangsung dimana jumlah siswa kelas VIII A berjumlah 43 siswa,. yang mengikuti kegiatan pembelajaran sebanyak 33 siswa dan yang tidak hadir 10 siswa. Akan tetapi dari 33 siswa yang hadir hanya ada 21 yang ikut berpartisiapsi sedangkan ada 12 siswa yang tidak berpartisipasi karena tidak menyukai cabang olahraga yang sedang dipelajari atau dialaksanakan pada pada hari itu (permaianan bola kaki). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.6 dibawah ini.
Tabel 4.6
Partisipasi Siswa Dalam Proses Pembelajaran Penjas Kelas VIII A
di SMP N 4 Kupang
No Keterangan Jumlah
1. Jumlah siswa yang hadir 33
2. Jumlah siswa yang tidak hadir 10
3. Jumlah siswa yang berpartisipasi 21
4. Jumlah siswa yang tidak berpartisipasi 12
5. Jumlah keseluruhan siswa 43
Sumber data: SMP N 4 Kupang, 2010.
Gambar 4.4
Siswa sedang mendengarkan pengarahan dari guru penjas
(Bapak Sibabong, S. Pd)
Gambar 5.
Siswa sedang melakukan pemanasan yang dipandu oleh guru penjas
(Bapak Sibabong, S. Pd)
Gambar 6.
Siswa sedang mengikuti poses pembelajaran dipandu oleh guru penjas
(Bapak Sibabong, S. Pd) dalam permainan bola kaki
Gambar 7.
Pnenangan
4.5.2 Data Wawancara
Partisipasi siswa dalam suatu kegiatan sangat erat kaitannya dengan keberhasilan yang akan dicapai dalam kegiatan tersebut. Dalam proses pembelajaran dibutuhkan dengan adanya kehadiran siswa.
Sesuai dengan teknik pengumpulan data peneliti mewawancarai dengan kepala sekolah (Ibu Dra. Siltje D. Ndolu) pada hari/ tanggal: Selasa, 20 Juli 2010 Pukul 09. 30 WITA, mengatakan bahwa: “proses kegiatan belajar mengajar khusunya mata pelajaran pendidikan jasmani boleh diktakan belum maksimal, hal ini dilihat dari keterlibatan baik siswa maupun guru dalam proses kegiatan belajar mengajar dan tempat praktek di lapangan lebih banyak mengunakan tempat diluar lingkup sekolah (di GOR) sehingga membuat hambatan dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani”.
Hal senada juga disampaikan oleh guru penjas (Sibabong, S. Pd) pada hari/ tanggal: Selasa, 20 Juli 2010, Pukul 10. 15 WITA, mengatakan bahwa: “Sebelumnya saya minta maaf adik, proses kegiatan belajar mengajar selama ini yang saya lakukan di sini semua siswa kurang terlibat dalam proses belajar mengajar karena disebabkan oleh banyak hal yang mempengaruhi salah satunya faktor ekonomi sehingga membuat siswa kurang berpartisipasi”.
Sesuai dengan hasil wawancara diatas tentang partisipasi siswa, maka peneliti dapat meyimpulkan bahwa kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di SMP N 4 Kupang belum maksimal, hal ini disebabkan oleh ketidakterlibatan siswa dan faktor-faktor lain yang tidak mendukung seperti sarrana dan prasarana.
Gambar 4.
Peneliti sedang mewawancarai
dengan guru penjas (Bapak Sibabong, S. Pd)
4.6 Paparan Dan Temuan Tentang Pembelajaran Yang Efektif
4.6.1 Data Observasi (Data Pengamatan)
Sesuai dengan teknik pengumpulan data peneliti malakukan pengamtan secara langsung. Situasi yang terjadi di kancah penelitian tentang proses pembelajaran penjas yang berlangsung di SMP N 4 Kupang. Dalam proses pembelajaran keefektifan siswa sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan kemajuan dirinya di masa yang datang. Untuk itu program dan tujuan pendidikan jasmani sifatnya menyeluruh demi berbagai aspek sangat penting. Dari hail pengamatan peneliti dilapangan ternyata proses kegiatan belajar tidak seperti yang diharapkan, baik kegiatan belajar yang dialakukan di kelas maupun di luar kelas. Misalnya di dlaam kelas perhatian pada materi yang diajarkan tidak ada keseriusan bila dibandingkan di luar kelas.
4.6.2 Data Wawancara
Kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi merupakan proses yang harus dijalani dalam kehidupan dunia dewasa ini. Oleh karena itu proses pembelajaran yang efektif merupakan kunci utama keberhailan seseoran untuk mengembangkan diri di masa yang akan datan.
Sesuai dengan teknik pengumpulan data peneliti mewawancarai Kepala Sekolah (Ibu Dra. Siltje D. Ndolu) pada hri/ tanggal: Rabu, 21 juli 2010, pukul 09. 30, tentang keberhasilan seseorang dalam meraih sebuah prestasi merupakan faktor gurunya yang bisa mengarahkan siswa dalam mencapai apa yang diharapkan. Yang menjadi kendala yang dihadapi sekolah kami adalah kekurangan fasilitas sarana prasarana. Itulah yangmenjadi hambatan dalam proses belajar mengajar khususnya mata pelajaran pendidikan jasmani. Anak-anak kami sebenarnya mempunyai prestasi yang dapat dikembangkan namun kekurangan fasilitas sarana prasarana.
Hal senada ini juga disampaikan oleh guru penjas (Bapak Sibabong, S. Pd) mengungkapkan bahwa: “Pembelajaran penjas merupakan suatu keterampilan khususnya mempelajari penjas sejauh mana kesiapan siswa dalam gerakan motorik yang menentukan hasil”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti menyimpulkan bahwa siswa SMP N 4 kupang belum mempunyai tingkat pemahaman yang masih rendah sehingga menyebabkan saat berlangsungnya pembelajaran pendidikan jasmani siswa kurang memeperhatikan atau kurangnya partisipasi.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan dalam penulisan skripsi ini, yaitu:
1. Dalam proses belajara mengajar tidak ada keterlibatan siswa tetapi gurunya lebih aktif dalam pembelajaran penjas karena alatyangtersedia sangat terbatas, maka dari sisi olah raga tidak efektif.
2. Dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru penjas di SMP N 4 Kupang, dilihat dari segi kesiapan tidak ada dalam hal ini fasilitas yang akan diguanakan maupun satuan pembelajaran dan rancangan pembelajaran.
3. Dalam proses pembelajaran penjas sarana yang dipakai untuk menunjang pembelajaran dalam hal ini alat-alat olah raga. Guru penjas hanya terpaku pada fasilitas yang tersedia di sekolah. Tidak ada alat olah raga yang dimodifikasi.
5.2 Saran
1. Disarankan kepada lembaga sekolah untuk menadakan penambahan sarana dan prasarana olah raga agar memudahkan guru penjas dalam mengajar.
2. Tujuan pembelajaran tercapai apabila siswa ikut berpartisipasi, maka tujuan pembelajaran akan tercapai.
3. Dilihat dari jumlah siswa di kelas yang cukup banyak dan tenaga mengajar belum maksimal mengakibatkan pembelajaran pendidikan jasmani tidak tercapai, untuk itu disarankan kepada lembaga sekolah untuk memperhatikan tenaga mengajar dalam hal ini guru penjas.
DAFTAR PUSTAKA
A. M., Sardiman. 2010. Iteraksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada.
Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta, PT. Rineka Cipta.
Echlos, Jhon M. & Hadila, Hasan. KAmus Umum Bahasa Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH0129/524c8d1a.dir/doc.pdf
http://pdfcontact.com/download/7825901/
Husdarta, H. J. S. 2009. Manajemen Pendidikan Jasmani. Bandung, Alfabeta.
Iskandar. 2009. Psikologi Pendidikan. Cipayung, Gaung Persada Press.
Kamisa. 1997. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Kartika, Surabaya.
Sedarmayanti & Syarifudin. 2002. Metodologi Penelitian. Bandung, Mandar Maju.
Sutikno, M. Sobry. 2009. Belajar Dan Pembelajaran. Prospect Bandung, Bandung.
DAFTAR LAMPIRAN
1. Foto- foto pelaksanaan KBM oleh guru penjas
2. Lembaran Observasi
3. Pedoman Wawancara
4. Sumber Data
5. Riwayat Hidup
6. Surat Ijin Penelitian
7. Surat Keterangan Penelitian
8. Dena SMP N 4 Kupang
LEMABARAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui oleh Dosen Pembimbing I dan II untuk dipertanggung jawabkan di depan Dewan penguji pada Hari / Tanggal: …………/ ……………
1. Drs. Oktovianus Fufu, M. Pd Pembimbing I (……………..)
2. Salmon Runesi, S. Pd Pembimbing II (……………..)
Mengetahui
Ketua Program Studi PJKR
FKIP Universitas PGRI
Drs. Oktovianus Fufu, M. Pd
Partisipasi Siswa Dalam Proses Pembelajaran
Pendidikan Jasmani Di SMP N 4 Kupang
S K R I P S I
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Guna Memperoleh Gelar Sarjana
OLEH
MIKAEL ODI DONI
NIM : 06 10223646
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI
KUPANG
2010
PERSEMBAHAN
Skripsi ini dipersembahkan untuk yang tercinta :
1. Almamater tercinta Universitas PGRI Kupang
2. Ayahanda Petrus Wayong Bako dan Ibunda Katarina Surat Sene Serta kakak / adik yang tercinta (Kakak Alowisius dan Maria Prada, Kristina, danIgen Helan serta adik Damas Helan, Rinto Helan dan stefen Helan).
3. Untuk Keluarga besar suku Polo Naen.
4. Untuk kakak / adik dan sahabat yakni (Kasmir Helan, Lius Helan, Siska Manek, Herman Helan, Daniel Helan, Martin Lonek, Bone Helan, dan Viktor Kaya).
5. Keluarga besar SMP N 4 Kupang.
Terima kasih sebagai tanda balas jasa terhadap pengorbanan dan perhatian selama ini demi kebahagiannku.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kupanjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karma atas kasih dan perlindungannya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.
Bantuan dari berbagai pihak yang iklas baik pikiran maupun materi sangatlah membantu penulis sejak perkuliahan maupun dalam proses penyelesaiaan karya tulis ini.
1. Bapak Semuel Haning, SH, MH, sebagai Rektor Universitas PGRI yang telah membantu penulis sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
2. Bapak Drs. Yonas Thene, M. Si, selaku Dekan FKIP PGRI yang telah membantu penulis sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.
3. Bapak Drs. Oktovianus Fufu, M.pd sebagai ketua Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi dan sebagai Dosen Wali yang telah membimbing, menasihati dan memberikan petunjuk selama penulis di bangku kuliah.
4. Bapak Drs. Oktovianus Fufu, M.pd, sebagai dosen Pembimbing I dan Bapak Salmon Runesi, S. Pd, sebagai Pembimbing II yang telah tabah penuh perhatian membimbing dan memberikan petunjuk sejak awal penelitian.
5. Ibu Kepala Sekolah SMPN 4 Kupang yang mengijinkan penulis untuk melakukan penelitian di SMPN 4 Kupang
6. Bapak / Mama dan saudara / saudari kandung yang telah memberikan dukungan dalam doa demi keberhasilan penulis
7. Rekan dan semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan moril maupun material sehingga penyelesaian penulisan skripsi ini, untuk itu usul, saran dan kritik dari berbagai pihak akan diterima oleh penulis dengan lapang dada demi perbaikan dan penyempurnaan penulisan ini.
Kupang, Juli 2010
Penulis
RIWAYAT HIDUP
A. Identitas Penulis
Nama lengkap : Mikael Odi Doni
Nama panggilan : Miky Helan
Tempat Tanggal Lahir : Waihelan 10 April 1985
Agama : Katolik
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Jln. Banteng No. 07
Suku bangsa : Indonesia
Hoby : Olahraga
Nama Ayah : Petus Wayong Bako
Nama Ibu : Katarina Surat Senin
Anak ke : ke 4 dari 6 bersaudara
B. Pendidikan
No Jenjang Pendidikan Tahun Masuk Tahun Tamat Tempat Keterangan
1.
2.
3.
4. SDK Leter
SMP N 1 Adonara Barat
SMAN I Adonara Barat
UNIVERSITAS PGRI 1994
2000
2003
2006
2000
2003
2006
- Adonara, Flotim
Adonara, Flotim
Adonara, Flotim
Kupang Berijazah
Berijazah
Berijazah
Belum berijazah
DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL i
LEMBARAN PERSETUJUAN ii
LEMBARAN PENGESAHAN iii
MOTTO iv
KATA PENGANTAR v
PERSEMBAHAN vii
ABSTRAK viii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xii
Bab I Pendahuluan 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Batasan Masalah 4
1.3. Rumusan Masalah 4
1.4. Tujuan dan Kegunaan 4
Bab II Tinjauan Pustaka 6
2.1. Pengertian Pembelajaran 6
2.2. Partisipasi Siswa 9
2.3. Pembelajaran Pendidikan Jasamani 11
2.4. Faktor-Faktor Dalam Pencapaian Tujuan
Program Pembelajaran 14
2.5. Pembelajaran Yang Efektif 17
2.6. Karakteristik Siswa Sekolah Menengah Pertama 18
2.7. Perencanaan Pengajaran Pendidikan Jasmani 20
2.8. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani 24
2.9. Metode Pembelajaran 25
Bab III Metodologi Penelitian 28
3.1. Metode 28
3.2. Jenis Penelitian 28
3.3. Tempat dan Waktu Penelitian 28
3.4. Informasi Kunci 29
3.5. Teknik Pengumpulan Data 30
3.6. Teknik Pengolahan dan Analisis Data 31
BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN 32
4.1. Proses Tahap Pelaksaaan 32
4.2. Gambar Umum Penelitian 34
4.3. Paparan dan Temuan Tentang Sarana Prasarana 52
4.4. Paparan dan Temuan Tentang Proses Pembelajaran
Pendidikan Jasmani 53
4.5. Paparan dan Temuan Tentang Partisipasi siswa 58
4.6. Paparan dan Temuan Tentang Pembelajaran Yang Efektif 63
BAB V PENUTUP 66
5.1. Kesimpulan 66
5.2. Saran 66
DAFTAR PUSTAKA 68
DAFTAR LAMPIRAN 69
DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 3.1 Rincian Waktu Penelitian 29
Tabel 4.1 Data Kepala Sekolah 35
Tabel 4.2 Tenaga Kependidikan Di SMP N 4 Kupang 36
Tabel 4.3 Jumlaha Siswa/ i Menurut Jenis Kelamin 44
Tabel 4.4 tingkat Pendidikan Guru Penjas Di SMP N 4 Kupang 47
Tabel 4.5 Sarana Prasarana 52
Tabel 4.6 Partisipasi Siswa Dalam Proses Pembelajaran Penjas 59
LEMBARAN OBSERVASI
No Lembaran Observasi Ket.
1. Kancah/ Lokasi Penelitian
a. Sarana penunjang balajar penjaskes
- Gedung Sekolah
- Lapangan olah raga
b. Prasarana olah raga
- Fasilitas olah raga
- Alat olah raga
2. Kegiatan Guru Proses Belajar Mengajar
LAMPIRAN PEDOMAN WAWANCARA
1. Bagaimana di SMP N 4 Kupang ?
2. Bagaimana perkembangan SMP N 4 Kupang ?
3. Keadaan geografis
4. Jumlah siswa di SMP N 4 Kupang
5. Tenaga guru di SMP N 4 Kupang
6. Pemahaman pendidikan jasmani
7. Tujuan pendidikan yang dicapai oleh siswa
8. Proses belajar mengajar dengan pendekatan motivasi
9. Sarana prasarana di SMP N 4 Kupang
10. Pemanfaatan sarana dan prasarana di SMP N 4 Kupang
LAMPIRAN SUMBER DATA
1. Dokumen SMP N 4 Kupang
2. Arsip-arsip SMP N 4 Kupang
3. Arsip-arsip yang dimiliki oleh guru penjas berupa daftar hadir, SP dan buku-buku yang dimiliki oleh guru penjas
4. Data-data tentang keadaan guru pegawai, siswa, sarana dan prasarana yang menunjang penelitian ini.
LAMPIRAN FOTO-FOTO
Gambar 1. Peneliti sedang mewawancarai
dengan guru penjas (Bapak Subraja Alang, A. Md)
Gambar 2. Peneliti sedang mewawancarai
dengan Kepala Sekolah (Ibu Dra. Siltje D. Ndolu)
Gambar 3. Peneliti sedang mewawancarai
dengan seorang siswa (Riki Radja) selaku ktua OSIS
Gambar 4.
Siswa sedang mendengarkan pengarahan dari guru penjas
(Bapak Sibabong, S. Pd)
Gambar 5.
Siswa sedang melakukan pemanasan yang dipandu oleh guru penjas
(Bapak Sibabong, S. Pd)
Gambar 6.
Siswa sedang mengikuti poses pembelajaran dipandu oleh guru penjas
(Bapak Sibabong, S. Pd) dalam permainan bola kaki
Gambar 7.
Pnenangan
Gambar 8.
Peneliti sedang mewawancarai dengan guru penjas (Bapak Sibabong, S. Pd)
DENA SMP N 4 KUPANG
ABSTRAK
MIKAEL ODI DONI, NIM : 0610223646, SKRIPSI: PARTISIPASI SISWA DALAM PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI SMP N 4 KUPANG.
(Pembimbing I Drs. Oktovianus Fufu, M. Pd dan Pembimbing II Salmon Runesi, S. Pd).
Partisipasi siswa diartikan sebagai suatu keterlibatan langsung secara aktif dalam melakukan suatu kegiatan atau turut berperan serta untuk mengambil bagian dalam melancarkan suatu aktivitas.
Keterlibatan seseorang dalam suatu kegiatan sangat erat kaitannya dengan keberhasilan yang akan dicapai dari kegiatan tersebut.
Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani sangat dibutuhkan adanya partisipasi dalam melakukan kegiatan pembelajaran penjas.
Masalah yang ditemukan adalah bagaimanakah partisipasi siswa dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani di SMP N 4 Kupang.
Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana partisipasi siswa dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani di SMP N 4 Kupang. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi kepada pihak yang ingin meneliti tentan objek yang berhubungan dengan permasalahan yang ada.
Diharapkan menjadi bahan informasi di bidang ilmu pengetahuan pada umumnya dan khususna di bidang pendidikan jasmani.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara, metode observasi dan dokumentasi.
Hasil yan ditemukan di lapangan dalam penelitian adalah keterlibatan siswa tidak ada dalam proses pembelajaran dimana sarana prasarana sangat terbatas.
Peneliti menyimpulkan bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh siswa dilihat dari kesiapan untuk mengikuti proses pembelajaran yang hanya menguanakan sarana yang tersedia dan tidak ada modifikasi alat olah raga dan siswa tidak aktif dalam berpartisipasi sedangkan gurunya yang aktif dalam pembelajaran. Sehingga tujuan pembelajaran pendidikan jasmani tidak tercapai.
Selasa, 03 Agustus 2010
karborator dan emisi
PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH PENYETELAN
IDLE KARBURATOR TERHADAP EMISI GAS BUANG
PADA MOBIL TOYOTA KIJANG 5 K
STEFANUS AMA HELAN
0701120943
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
K U P A N G
2 0 1 0
LEMBARAN PERSETUJUAN
Judul Proposal : Pengaruh Penyetelan Idle Karburator Terhadap Emisi Gas
Buang Pada Mobil Toyota Kijang 5 K
Nama Mahasiswa : Stefanus Ama Helan
N I M : 07071120943
Proposal ini telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan pada hari ............., tanggal ...................
Menyetujui:
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Basri K., M.Si Munaskop Wadyosapto, S. Pd
NIP. 19640614 199103 1 002 NIP. 19610428 198601 1 001
Mengetahui:
Ketua Program Studi Pendidikan Teknik Mesin
Fahrizal, S. Pd, MP.
NIP. 19690808 199403 1 003
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur pantas dan layak penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan penyertaannyasehingga penyusunan proposal ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Drs. Basri K., M. Si, selaku pembimbing I dan Bapak Munaskop Wadyosapto, S. Pd selaku pembimbing II, yang telah banyak memberikan petunjuk atau pedoman kepada penulis dalam penyusunan proposal penelitian ini, sehingga penyusunan proposal ini dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu penulis baik moril maupun materil, sehingga penyusunan proposal ini dapat diselesaikan.
Penulis menyadari bahwa penulisan proposal ini masi jauh dari kesempurnaannya. Oleh sebab itu, usul, kritik dan saran yang bersifat membangun akan diterimanya dengan senang hati dan lapang dada.
Kupang, Juni 2010
Penulis
DAFTAR ISI
Hal
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab I Pendahuluan 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 3
1.3. Batasan Masalah 3
1.4. Metode Penulisan 4
1.5. Hipotesis 4
1.6. Tujuan dan Manfaat 5
1.7. Konsep Penelitian 6
Bab II Tinjauan Pustaka 7
2.1. Karburator 7
2.2. Konstruksi Dasar Karburator 9
2.3. Venturi 11
2.4. Cara Kerja Karburator 11
2.5. Bahan Bakar Bensin 25
2.6. Karburasi dan Penginjeksian Bahan Bakar
Untuk Motor Bakar 27
2.7. Proses Pembakaran Bahan bakar dan udara 30
2.8. Jenis Gas Buang Kendaraan Bermotor 31
2.9. Alat Penguji Gas Buang 37
Bab III Metodologi Penelitian 40
3.1. Jenis Penelitian 40
3.2. Populasi dan Sampel Penelitian 40
3.3. Variabel 40
3.4. Teknik Pengumpulan data 41
3.5. Teknik Analisis Data 43
3.6. Peralatan dan Bahan 43
3.7. Biaya Penelitian 45
3.8. Lokasi dan Waktu Penelitian 46
Daftar Pustaka 47
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Skripsi : Pengaruh Penyetelan Idle Karburator Terhadap Emisi Gas
Buang Pada Mobil Toyota Kijang 5 K
Nama Mahasiswa : Stefanus Ama Helan
N I M : 07071120943
Skripsi ini telah diuji pada pada hari ............., tanggal ...................
PEMBIMBING:
1. Pembimbing I Drs. Basry K., M.Si .....................
2. Pembimbing II Munaskob Wadyosapto, S. Pd .....................
TIM PENGUJI:
1. Ketua Drs. Basry K., M.Si .....................
2. Anggota Drs. Basry K., M.Si .....................
3. Anggota Drs. Basry K., M.Si .....................
Mengesahkan:
Ketua Jurusan PTK a. n. Dekan FKIP Undana,
FKIP Undana, Pembantu Dekan I
Drs. Basry K., M.Si Drs. Gomer Liufeto, M. A. ., Ph. D.
NIP. 19640614 199103 1 002 NIP. 19550314 198003 1 003
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Dewasa ini udara yang dihirup manusia semakin tidak besahabat, banyak polusi udara terjadi di mana-mana yang disebabkan oleh banyak hal antara lain: asap kendaraan, asap pabrik, pembakaran sampah dan sebagainya. Asap kendaraan merupakan penyebab terbesar terjadinya polusi udara.
Kesadaran masyarakat akan pencemaran udara akibat gas buang kendaraan bermotor di kota-kota besar saat ini makin tinggi. Dari berbagai sumber bergerak seperti mobil penumpang, truk, bus, lokomotif kereta api, kapal terbang, dan kapal laut, kendaraan bermotor saat ini maupun dikemudian hari akan terus menjadi sumber yang dominan dari pencemaran udara di perkotaan. Di DKI Jakarta, kontribusi bahan pencemar dari kendaraan bermotor ke udara adalah sekitar 70 %.
Resiko kesehatan yang dikaitkan dengan pencemaran udara di perkotaan secara umum, banyak menarik perhatian dalam beberapa dekade belakangan ini. Di banyak kota besar, gas buang kendaraan bermotor menyebabkan ketidaknyamanan pada orang yang berada di tepi jalan dan menyebabkan masalah pencemaran udara pula. Beberapa studi epidemiologi dapat menyimpulkan adanya hubungan yang erat antara tingkat pencemaran udara perkotaan dengan angka kejadian (prevalensi) penyakit pernapasan. Pengaruh dari pencemaran khususnya akibat kendaraan bermotor tidak sepenuhnya dapat dibuktikan karena sulit dipahami dan bersifat kumulatif. Kendaraan bermotor akan mengeluarkan berbagai gas jenis maupun partikulat yang terdiri dari berbagai senyawa anorganik dan organik dengan berat molekul yang besar yang dapat langsung terhirup melalui hidung dan mempengaruhi masyarakat di jalan raya dan sekitarnya.
(http://www.kpbb.com).
Cara yang ditempuh dengan mengurangi angka polusi di udara yang disebabkan oleh asap kendaraan yaitu mengatur proses pembakaran di dalam selinder dengan melakukan penyetelan pada karburator. Dalam pengaturan proses pembakaran di dalam selinder yaitu dengan melakukan penyetelan pada idle karburator. Meskipun banyak sekali macam dan jenis karburator yang dapat digunakan yaitu masing – masing dengan konstruksi berbeda sesuai dengan tujuan penggunaannya, prestasi mesin yang mempergunakannya dan sesuai selera perencanaannya, namun fungsi dan prinsip kerjanya tetap sama. Fungsi dari karburator adalah mengatur pemasukan, pencampuran dan pengabutan bensin ke dalam arus udara sehingga diperoleh perbandingan campuran yang sesuai dengan keadaan beban dan kecepatan poros engkol. Campuran itu harus homogen dan perbandingannya sama untuk tiap – tiap selinder.
Penyetelan karburator terutama dalam penyetelan idle karburator, sangat mempengaruhi emisi karbon monoksida (CO) pada gas buang, dan penyetelan idle adjusting mixture screw yang tidak sesuai akan menimbulkan emisi karbon monoksida (CO) yang berlebihan pada gas buang sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan.
Untuk itu dalam melakukan penyetelan idle karburator, sebaiknya dilakukan pengukuran emisi karbon monoksida (CO), agar diketahui berapa besar emisi CO yang ditimbulkan pada gas buang.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mengambil judul ”Pengaruh Penyetelan Idle Karburator Terhadap Emisi Gas Buang Pada Mobil Toyota Kijang 5 K”.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Agar lebih jelas dan terarah permasalahannya, maka masalah yang akan dibahas adalah Bagaimana pengaruh penyetelan idle karburator terhadap emisi gas buang.
1.3. BATASAN MASALAH
Ada permasalahan dalam penelitian ini antara lain, yaitu:
a. Penyetelan idle karburator pada Mobil Toyota Kijang Seri 5 K.
b. Pengujian emisi gas buang (CO) dilakukan dengan cara melonggarkan idle adjusting mixture screw karburator 0,5 putaran bertahap dari 1 putaran sampai 6 putaran penuh.
c. Pengujian emisi gas buang (CO) dilakukan pada putaran 750 rpm, 2000 rpm dan 3000 rpm dengan cara memutar idle adjusting speed screw karburator.
1.4. METODE PENULISAN
Dalam penulisan proposal ini digunakan metode kepustakaan yang sumber penulisannya dihimpun dari beberapa literatur yang diperoleh.
1.5. HIPOTESIS
Menurut Sedarmayanti & Syarifudin Hidayat (2002: 108), Hipotesis adalah asumsi/perkiraan/dugaan sementara mengenai suatu hal atau permasalan yang harus dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan data/fakta atau informasi yang diperoleh dari hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan menggunakan cara-cara yang sudah ditentukan.
a. Hipotesis terdapat perbedaan yang sangat signifikan atau tidak sebagai berikut:
(H1) : Ada pengaruh penyetelan putaran idle karburator terhadap emisi gas buang.
(H0) : Tidak ada pengaruh putaran penyetelan idle karburator terhadap emisi gas buang.
1 putaran (X1) (Y1)
1, 5 putaran (X2) (Y2)
2 putaran (X3) (Y3)
2, 5 putaran (X4) (Y4)
3 putaran (X5) (Y5)
3, 5 putaran (X6) (Y6)
4 putaran (X7) (Y7)
4, 5 putaran (X8) (Y8)
5 putaran (X9) (Y9)
5, 5 putaran (X10) (Y10)
6 putaran (X11) (Y11)
b. Untuk melihat hasil pengukuran gas buang dari penyetelan putaran idle karburator, maka tiap putaran penyetelannya dibutuhkan waktu tiga menit perputaran.
1.6. TUJUAN DAN MANFAAT
1.6.1. TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan proposal ini, yaitu:
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh penyetelan putaran idle karburator terhadap emisi gas buang pada putaran 750 rpm.
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh penyetelan putaran idle karburator terhadap emisi gas buang pada putaran 2000 rpm.
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh penyetelan putaran idle karburator terhadap emisi gas buang pada putaran 3000 rpm.
1.6.2. MANFAAT
Adapun manfaat dari penulisan proposal ini, yaitu:
a. Sebagai bahan informasi bagi para pemilik kendaraan bermotor dan teknisi tentang perlu adanya penyetelan idle karburator yang tepat karena sangat berpengaruh terhadap emisi gas buang.
b. Mengetahui pengaruh penyetelan idle karburator terhadap emisi gas buang (CO).
c. Mengetahui kandungan gas yang terkandung dalam emisi gas buang.
1.7. KONSEP PENELITIAN
a. Karburator
Karburator adalah salah satu bagian yang sangat penting dari sebuah motor bensin.
Karburator berfungsi untuk mengkarburasi bahan bakar dan udara menjadi partikel – partikel kecil.
b. Idle karburator
Jarum penyetelan campuran ideal yang terdapat pada karburator.
c. Bensin (Gasoline)
Bensin adalah bahan bakar yang digunakan untuk proses pembakaran pada motor otto atau motor bensin.
d. Emisi
Emisi adalah zat, energi dan atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang masuk dan atau dimasukkannya ke dalam udara ambient yang mempunyai potensi sebagai unusr pencemar.
e. Gas Buang Kendaraan Bermotor
Zat sisa proses pembakaran motor bakar yang dikeluarkan melalui knalpot ke udara ambient.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. KARBURATOR
Ada tiga syarat yang harus dipenuhi unutk mesin bensin, agar tenaga yang dihasilkan dapat tercapai dengan baik, yaitu:
1. Tekanan kompresi yang tinggi
2. Waktu pengapian yang tepat dan percikan bunga api busi yang kuat
3. Campuran udara dan bahan bakar yang sesuai.
(New Step 1, 2003).
Tenaga pada motor bensin diperoleh dari pembakaran campuran bahan bakar dengan udara dalam selinder. Udara dan bahan bakar bensin dicampurkan menurut kondisi tertentu di dalam karburator. (Karyanto, 1994).
Karburator adalah tempat pencampuran bahan bakar dengan udara. Pencampuran tersebut terjadi karena bahan bakar terhisap masuk atau disemprotkan ke dalam arus udara segar yang masuk ke dalam karburator. Campuran bahan bakar dan udara kemudian masuk ke dalam selinder dan dinyalakan oleh loncatan api listrik dari busi, menjelang akhir langkah kompresi. Pembakaran udara dan bahan bakar ini menghasilkan daya. (Arismunandar W., 2005).
Bentuk dasar dari karburator dibagi dalam dua bagian yaitu ruang campuran (mixture chamber) dimana bahan bakar bensin dicampur dengan udara dan ruang pelampung (float chamber) dimana tersimpan sejumlah bensin dalam volume tetap.
Di bagian tengah ruang pencampur (mixture chamber) terdapat penampang yang kecil, bagian ini disebut venturi. Pengabut utama (main nozzle) yang terletak di tengah venturi akan mengeluarkan bensin pada saat motor berada di atas putaran idling. Disebelah bawahnya terdapat katup gas (throttle valve) dan pengabut (nozzle) untuk kecepatan rendah. Katup gas ini merupakan katup yang berbentuk piringan yang berfungsi mengatur jumlah bahan bakar bensin dan udara yang akan masuk ke dalam selinder motor. (Karyanto, 1994).
Katup gas dihubungkan dengan lengan pedal akselerasi (pedal gas). Katup choke (choke valve) terletak di atas venturi dan berfungsi mengatur jumlah udara yang akan masuk ke dalam karburator. (Husni & Herdiman, 1981).
Ruang pelampung (float chamber) merupakan suatu tempat untuk menampung bahan bakar bensin dan di dalamnya terdapat pelampung dan katup jarum (needle valve). Pada saat langkah isap, tekanan di dalam selinder akan turun. Akibatnya perbedaan tekanan ini udara mengalir kedalam selinder melalui saringan udara, karburator dan saluran masuk (intake manifold). (Husni & Herdiman, 1981).
Karena udara yang masuk ke dalam selinder melalui saluran penyempit pada venturi. Kecepatannya bertambah dan tekanannya menurun sehingga bensin keluar melalui pengabut utama (main nozzle). Kemudian bensin tadi tertiup oleh udara yang deras dan terjadilah penguapan yang masuk ke ruang bakar melalui saluran masuk. (Husni & Herdiman, 1981).
Menyetel karburator merupakan langkah yang penting dan ini termasuk dalam prosedur pengaturan pengapian mesin, sudah waktunya untuk menyetel karburator, apabila mobil kita memprlihatkan gejala – gejala seperti berikut:
Pada waktu mesin dipelankan untuk menghentikan mobil, mobilnya melonjak atau pada waktu kita pindah versenelling mobilnya melonjak juga.
Meskipun stop kontak sudah dimatikan, mesin cenderung untuk berjalan terus, kecepatan mesin pada waktu kita memasang versenelling bebas terlalu cepat (kecepatan ini disebut idle speed)
Pada waktu kita menancap gas, mesin agak tersendat – sendat majunya. Akan tetapi mesin berjalan terlalu cepat pada idle speed, rupanya campuran udara dan bahan bakar dan mengeluarkan banyaknya asap, campuran udara dan bahan bakarnya terlalu tinggi kadarnya.
(Daryanto, 1999).
2.2. KONSTRUKSI DASAR KARBURATOR
Bila torak bergerak ke bawah di dalam selinder selama langkah hisap pada mesin akan menyebabkan kevakuman di dalam ruang bakar. Dengan terjadinya kevakuman ini udara masuk ke ruang bakar melalui karburator. Besarnya udara yang masuk ke selinder diatur oleh katup throttle, yang gerakannya diatur oleh pedal akselerasi. (New Step 1, 2003).
Bertambah cepatnya aliran udara yang masuk melalui saluran yang sempit (disebut venturi), tekanan pada venturi menjadi rendah. Hal ini menyebabkan bensin dalam rujang pelampung mengalir keluar melalui saluran utama (main nozzle) ke ruang bakar. (New Step 1, 2003).
Jumlah udara maksimum yang masuk ke karburator terjadi saat mesin berputar pada kecepatan tinggi dengan posisi katup throttle terbuka penuh. Kecepatan udara yang bergerak melalui venturi bertambah dan memperbesar jumlah bensin yang keluar melalui main nozzle. (New Step 1, 2003).
Gambar 1. Konstruksi Dasar Karburator
Sumber: (New Step 1, 2003)
2.3. VENTURI
Karena udara yang keluar dari ujung tabung sama dengan saat udara masuk ke dalam tabung, udara yang melalui venturi harus lebih besar kecepatannya dibanding dari tempat lainnya, sebab venturi menyempit. Hal ini juga bertujuan agar tekanan udara dalam venturi lebih rendah dibanding dengan bagian lainnya dalam tabung. (New Step 1, 2003).
Dalam karburator bahan bakar disalurkan dari main nozzle disebabkan rendahnya tekanan (terjadi kevakuman) dalam venturi. (New Step 1, 2003).
Gambar 2. Venturi
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4. CARA KERJA KARBURATOR
2.4.1. Sistem Pelampung (Float Circuit)
Akibat mengalirnya udara melewati venturi, maka akan terjadi kevakuman pada venturi, akibatnya bahan bakar dari ruang pelampung akan keluar ke venturi melalui nosel utama. Jika perbedaan tinggi (h) antara bibir nosel dan permukaan bahan bakar dalam ruang pelampung telah berubah, maka jumlah bahan bakar yang dikeluarkan nosel akan berubah juga. Untuk alasan tersebut diatas maka permukaan bahan bakar dalam ruang pelampung harus tetap. Untuk menjaga agar permukaan bensin di dalam ruang pelampung selalu tetap, maka diperlukan sistem pelampung. (New Step 1, 2003).
Gambar 3. Konstruksi Ruang Pelampung.
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.2. Sistem Stasioner dan Kecepatan Lambat
a. Bila Mesin Berputar Idling (Stationer)
Bila throttle valve ditutup maka vakum yang terjadi pada bagian bawah throttle valve besar. Hal ini menyebabkan bahan bakar yang bercampur dengan udara dari air bleeder keluar dari idle port ke intake manifold dan masuk ke dalam selinder. (New Step 1, 2003).
Gambar 4. Sistem Stationer
Sumber: (New Step 1, 2003).
b. Bila throttle Valve Dibuka Sedikit
Gambar 5. Trottle Valve terbuka sedikit
Sumber: (New Step 1, 2003).
Bila throttle valve dibuka sedikit dari keadaan idle, maka jumlah udara yang mengalir bertambah hal ini menyebabkan vakum di bawah throttle valve menjadi berkurang, sehingga bahan bakar menjadi kurus. Untuk menjaga hal itu maka pada saat throttle valve dibuka sedikit, slow port mengeluarkan bahan bakar. (New Step 1, 2003).
c. Sekrup Penyetel Campuaran Idle
Agar mesin berputar idle (stationar) dengan bagus, campuran udara dan bahan bakar yang disupply harus 11:1. Perbandingan udara bahan bakar ditentukan oleh diameter dalam slow jet. Penyetelan perbandingan ini diatur oleh sekrup penyetel campuran idle dengan jalan memutar sekrup penyetel tersebut. (New Step 1, 2003).
Gambar 6. Sekrup Penyetel Campuran Idle
Sumber: (New Step 1, 2003).
d. Slow Jet
Jumlah bahan bakar yang disupply untuk primary low speed circuit, dikontrol oleh slow jet, bahan bakar tersebut dialirkan melalui slow jet kemudian melewati sekrup penyetel campuran dan masuk ke dalam selinder. (New Step 1, 2003).
e. Air Bleeder
Pada primary low speed circuit terdapat 2 (dua) air bleeder, yaitu air bleeder no. 1 (primary bleeder) dan air bleeder no. 2 (secondary bleeder). Air bleeder tersebut untuk membantu atomisasi bahan bakar untuk bercampur dengan udara. (New Step 1, 2003).
f. Economizer Jet
Agar diperoleh campuran yang baik antara bahan bakar dan udara dari air bleeder 1 dan 2 kecepatan aliran bahan bakar harus ditambah. Untuk menambah kecepatan aliran bahan bakar digunakan economizer. (New Step 1, 2003).
g. Katup Selenoid
Bila mesin berputar terus menerus setelah ignition switch diputar ke posisi ”OFF”, ini dinamakan ”dieseling”. Dieseling disebabkan oleh campuran udara bahan bakar yang dibakar oleh panas yang berlebihan dari busi atau katup gas buang, atau carbon deposit di dalam ruang bakar. Salah satu cara untuk mencegah dieseling adalah menghentikan supply bahan bakar ke karburator (idle port) atau memperbanyak masuk ke intake manifold (mengurangi perbandingan udara bahan bakar). Pada umumnya sekarang dipakai cara menggunakan katup selenoid. (New Step 1, 2003).
Gambar 7. Katup Selenoid
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.3. Primary High Speed System
Primary hiigh speed system berfungsi untuk mensupply bahan bakar pada saat kendaraan berjalan pada kecepatan sedang dan tinggi. Sistem ini disebut juga ”main system” (sistem utama). (New Step 1, 2003).
High speed circuit direncanakan untuk menyediakan campuran udara bahan bakar yang ekonomis (16-18 : 1) ke mesin selama kondisi normal. Untuk mendapatkan out-put yang tinggi disediakan sistem tambahan yaitu sistem akselerasi dan sistem power. (New Step 1, 2003).
Gambar 8. Primary High Speed System
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.4. Secondary High Speed System
Primary high speed system bekerja pada saat mesin bekerja pada beban ringan dan jumlah udara yang masuk sedikit. Tetapi bila supply campuran udara bahan bakar ke dalam selinder oleh primary high speed system tidak cukup pada beban yang berat atau pada kexepatan yang tinggi maka secondary hijgh s.peed system pada saat ini mulai bekerja. (New Step 1, 2003).
Secondary high speed system disusun sama sperti primary high speed system, tetapi karena secondary high speed system direncanakan untuk bekerja bila mesin membutuhkan out-put yang besar maka ukuran (diameter) dari pada nosel, venturi dan jet dibuat lebih besar daripada yang diberikan pada system primary. Mekanisme dari system secondary high speed bekerja bila mesin berputar pada kecepatan tinggi dan dibawah beban berat. (New Step 1, 2003).
Gambar 9. Secondary High Speed System
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.5. SistemTenaga (Power System)
Primary high speed system mempunyai perencanaan untuk pemakaian bahan bakar yang ekonomis, jika mesin harus mengeluarkan tenaga yang besar, maka harus ada tambahan bahan bakar ke primary high speed system. Tambahan bahan bakar disupply oleh power system (sistem tenaga) sehingga campuran udara bahan bakar menjadi kaya (12-13 : 1). Bila primary throttle valve hanya terbuka sedikit (pada bagian ringan) kevakuman pada intake manifold besar, sehingga power piston akan terhisap pada posisi atas. Hal ini akan menyebabkan power valve spring (B) menahan power valve, sehingga power valve tertutup. (New Step 1, 2003).
Tetapi bila primary throttle valve dibuka agak lebar (pada kecepatan tinggi atau jalan menanjak) maka kevakuman pada intake manifold berkurang dan power piston terdorong ke bawah oleh power valve spring (A) sehingga power valve terbuka. Bila hal ini terjadi, bahan bakar akan disupply dari power jet dan primary main jet ke sistem kecepatan tinggi sehingga campuran menjadi kaya. (New Step 1, 2003).
Gambar 10. Sistem tenaga
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.6. Sistem Percepatan
Pada saat pedal gas diinjak secara tiba-tiba, throttle valve pun akan membuka secara tiba-tiba pula, sehingga aliran udara menjadi lebih cepat. Akan tetapi karena bahan bakar lebih berat dari udara maka bahan bakar akan datang terlambat sehingga campuran menjadi terlalu kurus, pada hal pada saat ini dibutuhkan campuran yang kaya. Untuk itu pada karburator dilengkapi dengan sistem percepatan. (New Step 1, 2003).
Gambar 11. Sistem Percepatan
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.7. Sistem Cuk
Pada saat mesin dingin, bahan bakar tidak akan menguap dengan baik dan sebagian campuran udara bahan bakar yang mengalir akan mengembun di dinding intake manifold karena intake manifold dalam keadaan dingin. Dan ini akan mengakibatkan campuran udara bahan bakar menjadi kurus sehingga mesin sukar hidup. Sistem cuk membuat campuran udara bahan bakar kaya (1 : 1) yang disalurkan ke dalam selinder bila mesin masih dingin. (New Step 1, 2003).
Gambar 12. Automatic choke
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.8. Fast Idle Mechanism
Untuk menghidupkan mesin pada saat temperatur rendah, sangat diperlukan campuran yang kaya, akan tetapi untuk mendapatkan putaran idling yang baik pada saat temperatur rendah maka putaran idling perlu dinaikkan. Untuk ini fast idle mechanism dilengkapkan untuk menaikkan putaran idling pada temperatur rendah dan katup cuk masih tertutup, dengan membuka sedikit throotle valve. (New Step 1, 2003).
Bila mesin dihidupkan pada temperatur rendah serta katup cuk tertutup dan tiba-tiba pedal gas ditekan dan kemudian dilepas pada saat yang sama fast idle cam yang dihubungkan dengan katup cuk oleh rod (batang penghubung) akan berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Kemudian sejak fast idle cam follower yang bergerak bersama-sama dengan throttle valve akan bersinggungan dengan fast idle cam dan throttle valve terbuka sedikit. (New Step 1, 2003).
Ganmbar 13. Fast Idle Mechanism
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.9. Thermostatic Valve
Bila kendaraan berjalan pada jalan yang macet dan cuaca panas, ruang mesin akan menjadi relaif panas. Akibatnya bahan bakar di dalam karburator mudah sekali menguap dan mungkin meluap ke ventury. Campuran menjadi terlalu kaya yang menyebabkan mesin mati, idling kasar dan susah untuk distart. Untuk mencegah keadaan diatas pada karburator dilengkapi dengan thermostatic valve. Valve yang dilengkapi dengan bemetal ini akan mulai membuka bila temperatur pada ruang mesin mencapai 600C dan membuka penuh pada temperatur 750C. (New Step 1, 2003).
Bila valve membuka, udara luar mengalir langsung ke intake manifold untuk memperkurus campuran yang terlalu kaya sehingga campuran yang masuk ke dalam selinder menjadi normal dan mesin pun berputar dengan normal. (New Step 1, 2003).
Gambar 14. Thermostatic Valve
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.10. Positive Crankcase Ventilation (PCV)
PCV System dilengkapi untuk mencegah mengalirnya blow by gas (campuran udara dan bahan bakar yang bocor) ke udara luar, yang akan mengakibatkan pengotoran udara. Pencegahan tersebut dilakukan dengan jalan mengalirkan kembali blow by gas ke intake manifold yang seterusnya dibakar kembali ke ruang bakar. System ventilation valve mengotrol mengalirnya blow by gas sesuai dengan kondisi kerja mesin. (New Step 1, 2003).
Gambar 15. Positive Crankcase Ventilation (PCV)
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.11. Deceleration Fuel Cut OFF System
Pada saat dilakukan decelerasi, throttle valve akan menutup rapat sedangkan putaran mesin masih tinggi sehingga mengakibatkan kevakuman pada ruang bakar dan intake manifold menjadi tinggi yang akan menyebabkan bahan bakar yang menempel pada dinding intake manifold akan menguap dengan cepat sehingga campuran menjadi gemuk. Hal ini akan menyebabkan konsentrasi CO dan HC pada gas buang akan bertambah. Untuk itu pada karburator dilengkapi dengan ”deceleration fuel cut off system” yang akan menutup aliran bahan bakar dari slow port sehingga konsentrasi CO dan HC dapat diturunkan. (New Step 1, 2003).
Gambar 16. Deceleration Fuel Cut OFF System
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.5. BAHAN BAKAR BENSIN
Menurut ASTM bensin motor terbagi ke dalam lima kelas velositas yaitu A, B, C, D dan E (ASTM D439 - 89). Spesifikasi ini menetapkan karakteristik bensin motor untuk digunakan di daerah dengan kondisi operasi yang berbeda – beda sesuai dengan perubahan cuaca daerah dimana bensin motor digunakan, (Wiranto A., 1988).
Lima jenis bensin berdasarkan kelas velositas yang diproduksi di Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Bensin premium 88 yang mempunyai angka oktan riset minimum 88, berwarna kuning dengan pengungkit oktan TEL makdimum 1,5 ml galon Amerika bensin.
b. Bensin premix 94 yang mempunyai angka oktan riset minimum 94, berwarna orange, menggunakan pengungkit oktan TEL dengan kandungan Pb maksimum 0,45 gr/l dan metil terser butil eter (MTBE) maksimum 15% volum.
c. Bensin super TT yang mempunyai angka oktan riset minimum 95, tidak berwarna dan tidak menganfung TEL, dapat ditambahkan 10% volum untuk memenuhi spesifikasi angka oktan.
d. Bensin prima TT yang mempunyai angka oktan riset 98, tidak berwarna dan tidak mengandung TEL. Dapat ditambahkan MTBE maksimum 15% volume untuk memenuhi spesifikasi angka oktan.
e. Bensin petro 2T mempunyai angka oktan riset 72, berwarna hijau dengan kandungan timbal (Pb) maksimum 0,1 kg/l. Ditambahkan MTBE maksimum 15% volum untuk memenuhi spesifikasi angka oktan. Bensin ini khusus digunakan untuk mesin motor bakar dua langkah.
2.6. KARBURASI DAN PENGINJEKSIAN BAHAN BAKAR UNTUK MOTOR BAKAR
Pada motor bakar torak penyalaan cetus api, adalah hal yang relatif sederhana untuk mengsuplai bahan bakar gas dalam propulsi yang sesuai dengan udara begitu beban berubah. Tetapi, pengukuran jumlah aliran (metering), pengatoman, dan pendistribusian bahan bakar cair, khususnya pada motor bakar aneka selinder (multi cylinder), ini semua lebih sulit. Hanya pada sejumlah penggunaan terbatas motor bakar dihadapkan pada kebutuhan beban tunak (steady) yang dapat dipenuhi oleh laju aliran bahan bakar dan udara yag tetap. Pada kebanyakan instalasi stasioner bebannya adalah bervariasi dan pada propulsi otomotif khususnya, kepesatan dan beban harus bervariasi. (Bernad D.W & Zulkifli H., 1987).
Jangka Operasi Faktor Pengatur Perbandingan Udara -Bahan Bakar
Tanpa beban (idling)
Daya normal
Daya maksimum Pengenceran campuran oleh hasil – hasil pembakaran
Keekonomisan
Pemakaian udara sepenuhnya Kaya
Sedikit miskin
Kaya
Tabel 1. Daerah operasi utama
Sumber: Bernad D.W & Zulkifli H., 1987
Untuk motor bakar torak penyalaan cetus api adalah hal yang biasa untuk mengcekik (throttle) atau menghambat suplai udara untuk menghindarkan campuran yang terlalu miskin pada beban – beban yang lebih rendah dan memakai udara sebanyak mungkin hanya bila dibutuhkan beban maksimum. Daerah operasi utama dirampung pada tabel 1 diatas. (Bernad D.W & Zulkifli H., 1987).
Selama periode tanpa beban (idling) atau kebutuhan tanpa beban, suplai udara dicekik. Gas volume sisa yang pada dasarnya mulia merupakan bagian terbesar isian pada akhir periode pengisapan. Disamping itu, karena tekanan di dalam selinder sangat rendah selama pengisapan, gas – gas buang dihisap kembali ke dalam selinder selama periode tumpang tindih katup (valve - overlap), yaitu sewaktu baik katup masuk maupun katup buang dalam keadaan terbuka. Akibatnya adalah bahwa pencampuran udara dan bahan bakar secara kimia tepat akan diencerkan oleh gas mulia sehingga pembakaran akan tidak teratur atau tidak mungkin terjadi, campuran kaya (lebih banyak bahan bakar daripada jumlah yang secara kimia tepat untuk oksigen yang tersedia) harus disuplai. Dalam hal apapun situasi menunggu (stand - by) adalah tidak ekonomis, tetapi keharusan untuk memperoleh campuran kaya membuat situasi tersebut lebih boros, dan sangat menunjang pencemaran yang diakibatkan oleh motor bakar penyalaan cetus api. (Bernad D.W & Zulkifli H., 1987).
Pada jangka (range) daya normal, yang secara kasarnya dari 25 – 75% dari tekanan efektif rata – rata indikator maksimum yang mungkin, pertimbangan utama biasanya adalah untuk keekonomisan bahan bakar. Karena campuran bahan bakar dan udara tidak perna sama sekali homogen, dan karena gradien temperatur di dalam selinder mengacaukan pembakaran yang seragam, campuran bahan bakar yang secara kimia tepat (stoichiometrik) tidak akan terbakar sempurna dan sebagian bahan bakar akan terbuang. Untuk alasan ini udara berlebih (excess air), 5 – 10% diatas kebutuhan yang secara kimia tepat, disuplai untuk menghindarkan pembakaran yang tidak sempurna. (Bernad D.W & Zulkifli H., 1987).
Perbandingan bahan bakar terhadap udara yang secara kimia tepat untuk kebanyakan gasolin adalah antara 0,066 dan 0,068 pada basis massa. Bobot spesifik uap bahan bakar adalah lebih besar daripada bobot spesifik udara, dan disamping itu, sebagian besar bahan bakar masih dalam keadaan cair selama pengisapan isian. Jadi volume udara yang dapat disuplai adalah faktor yang membatasi keluaran daya maksimum untuk motor bakar. Untuk menjamin pemanfaatan semua oksigen yang dapat disuplai, dibutuhkan perbandingan bahan bakar terhadap udara yang kaya. (Bernad D.W & Zulkifli H., 1987).
Contoh:
Hitunglah perbandingan bahan bakar terhadap udara yang dibutuhkan (basis massa) untuk gasolin, dengan mengandaikan rumus kimia bahan bakar adalah C8H17 dan dibutuhkan 10% udara lebih. Perhatikan bahwa pada basis massa (yakni basis molekul) udara adalah kira – kira 21% oksigen dan 79% nitrogen.
Perbandingan yang secara kimia tepat (C.C):
39,2 kg + 1291 kg + 113 kg 1796 kg
C. C. A/F = = 14,89 : 1
Untuk 10% udara lebih, A/F = 16,38 : 1
F/A yang dibutuhkan = 0,061 kg bahan bakar/kg udara. (Bernad D.W & Zulkifli H., 1987).
2.7. PROSES PEMBAKARAN BAHAN BAKAR DAN UDARA
Proses pembakaran bahan bakar dimulai saat terjadinya percikan bunga api pada busi dalam ruang silinder. Ruang silinder tersebut berisikan campuran bahan bakar dan udara yang telah dikompresikan oleh torak. Untuk melaksanakan pembakaran, sebenarnya tidak selamanya tepat saat torak mencapai titik puncaknya, akan tetapi untuk mendapatkan tenaga yang maksimal dengan bahan bakar yang efisien, penyalaan harus tepat sesuai dengan kerja motor. Campuran bahan bakar dan udara harus selesai dan terbakar sempurna sehingga langkah usaha oleh adanya ledakan dari proses pembakaran dapat dicapai dengan maksimal. Campuran bahan bakar dan udara tidak akan langsung terbakar, membutuhkan waktu beberapa saat untuk membakar keseluruhan dari campuran tersebut. Selang waktu ini disebut keterlambatan pembakaran. Keterlambatan pembakaran disebabkan karena proses pembakaran bahan bakar dan udara memerlukan waktu. Setelah pembakaran dimulai, penyebaran api dilanjutkan keseluruh bagian dari ruang bakar. Pembakaran berlangsung normal apabila campuran bahan bakar dan udara di dalam silinder terbakar habis dengan waktu yang relatif konstan. (Toyota Astra Motor, 1993)
2.8. JENIS GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR
Udara adalah suatu campuran gas buang yang terdapat pada lapisan yang mengelilingi bumi. Komposisi campuran tersebut tidak selalu konstan. Komponen yang konsentrasinya paling bervariasi adalah air dalam bentuk H2O dan karbondioksida (CO2). Jumlah uap air yang terdapat di udara bervariasi tergantung dari cuaca dan suhu.
Sumber polusi yang utama berasal dari transportasi, dimana hampir 60% dari polutan yang dihasilkan terdiri dari karbon monoksida dan sekitar 15% terdiri dari hoidrokarbon. Sumber – sumber polusi lainnya misalnya pembakaran, proses industri, pembuangan limbah, dll. Polutan yang utama adalah karbon monoksida yang mencapai hampir setengahnya dari seluruh polutan yang ada. (Srikandi, F, 1992).
Bahan pencemar (polutan) yang berasal dari kendaraan bermotor dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori sebagai berikut:
a. Sumber
Polutan dibedakan menjadi polutan primer atau sekunder. Polutan primer seperti sulfur oksida (SOX), nitrogen oksida (NOX) dan hidrokarbon (HC) langsung dibuang ke udara bebas dan mempertahankan bentuknya seperti pada saat pembuangan. Polutan sekunder seperti ozon (O3) dan peroksiasetil nitrat (PAN) adalah polutan yang terbentuk di atmosfir melalui reaksi fotokimia, hidrolisasi atau oksidasi.
b. Komposisi kimia
Polutan dibedakan menjadi organik dan inorganik. Polutan organik mengandung karbon dan hidrogen juga beberapa elemen seperti oksigen, nitrogen, sulfur atau fosfor; contohnya hidrokarbon, keton, alkohol, ester, dll. Polutan inorganik seperti karbon konoksida (CO), karbonat, nitrogen oksida, ozon dan lainnya.
c. Bahan penyusun
Polutan dibedakan menjadi partikulat atau gas. Partikulat dibagi menjadi padatan dan cairan seperti debu, asap, abu, kabut dan spray. Partikulat dapat bertahan di atmosfir. Sedangakan polutan berupa gas tidak tertahan di atmosfir dan bercampur dengan udara bebas.
2.8.1. Hidrokarbon
Bensin adalah senyawa hidrokarbon, jadi setiap HC yang didapat di gas buang kendaraan menunjukkan adanya bensin yang tidak terbakar dan terbuang bersama sisa pembakaran. Apabila suatu senyawa hidrokarbon terbakar sempurna (bereaksi dengan oksigen) maka hasil reaksi pembakaran tersebut adalah karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Walaupun rasio perbandingan antara udara dan bensin (AFR=Air-to-Fuel-Ratio) sudah tepat dan didukung oleh desain ruang bakar mesin saat ini yang sudah mendekati ideal, tetapi tetap saja sebagian dari bensin seolah-olah tetap dapat bersembunyi dari api saat terjadi proses pembakaran dan menyebabkan emisi HC pada ujung knalpot cukup tinggi. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Untuk mobil yang tidak dilengkapi dengan Catalytic Converter (CC), emisi HC yang dapat ditolerir adalah 500 ppm dan untuk mobil yang dilengkapi dengan CC, emisi HC yang dapat ditolerir adalah 50 ppm. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Emisi HC ini dapat ditekan dengan cara memberikan tambahan panas dan oksigen diluar ruang bakar untuk menuntaskan proses pembakaran. Proses injeksi oksigen tepat setelah exhaust port akan dapat menekan emisi HC secara drastis. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Apabila emisi HC tinggi, menunjukkan ada 3 kemungkinan penyebabnya yaitu CC yang tidak berfungsi, AFR yang tidak tepat (terlalu kaya) atau bensin tidak terbakar dengan sempurna di ruang bakar. Apabila mobil dilengkapi dengan CC, maka harus dilakukan pengujian terlebih dahulu terhadap CC dengan cara mengukur perbedaan suhu antara inlet CC dan outletnya. Seharusnya suhu di outlet akan lebih tinggi minimal 10% daripada inletnya. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Apabila CC bekerja dengan normal tapi HC tetap tinggi, maka hal ini menunjukkan gejala bahwa AFR yang tidak tepat atau terjadi misfire. AFR yang terlalu kaya akan menyebabkan emisi HC menjadi tinggi. Ini biasa disebabkan antara lain kebocoran fuel pressure regulator, setelan karburator tidak tepat, filter udara yang tersumbat, sensor temperature mesin yang tidak normal dan sebagainya yang dapat membuat AFR terlalu kaya. Injector yang kotor atau fuel pressure yang terlalu rendah dapat membuat butiran bensin menjadi terlalu besar untuk terbakar dengan sempurna dan ini juga akan membuat emisi HC menjadi tinggi. Apapun alasannya, AFR yang terlalu kaya juga akan membuat emisi CO menjadi tinggi dan bahkan menyebabkan outlet dari CC mengalami overheat, tetapi CO dan HC yang tinggi juga bisa disebabkan oleh rembasnya pelumas ke ruang bakar. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
2.8.2. Karbon Monoksida (CO)
Gas karbonmonoksida adalah gas yang relative tidak stabil dan cenderung bereaksi dengan unsur lain. Karbon monoksida dapat diubah dengan mudah menjadi CO2 dengan bantuan sedikit oksigen dan panas. Saat mesin bekerja dengan AFR yang tepat, emisi CO pada ujung knalpot berkisar 0, 5% sampai 1% untuk mesin yang dilengkapi dengan sistem injeksi atau sekitar 2, 5% untuk mesin yang masih menggunakan karburator. Dengan bantuan air injection system atau CC, maka CO dapat dibuat serendah mungkin mendekati 0%. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Apabila AFR sedikit saja lebih kaya dari angka idealnya (AFR ideal = lambda = 1, 00) maka emisi CO akan naik secara drastis. Jadi tingginya angka CO menunjukkan bahwa AFR terlalu kaya dan ini bisa disebabkan antara lain karena masalah di fuel injection system seperti fuel pressure yang terlalu tinggi, sensor suhu mesin yang tidak normal, air filter yang kotor, PCV system yang tidak normal, karburator yang kotor atau setelannya yang tidak tepat. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
2.8.3. Karbon Dioksida (CO2)
Konsentrasi CO2 menunjukkan secara langsung status proses pembakaran di ruang bakar. Semakin tinggi maka semakin baik. Saat AFR berada di angka ideal, emisi CO2 berkisar antara 12% sampai 15%. Apabila AFR terlalu kurus atau terlalu kaya, maka emisi CO2 akan turun secara drastis. Apabila CO2 berada dibawah 12%, maka kita harus melihat emisi lainnya yang menunjukkan apakah AFR terlalu kaya atau terlalu kurus. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Perlu diingat bahwa sumber dari CO2 ini hanya ruang bakar dan CC. Apabila CO2 terlalu rendah tapi CO dan HC normal, menunjukkan adanya kebocoran exhaust pipe. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
2.8.4. NOx
Senyawa NOx ini sangat tidak stabil dan bila terlepas ke udara bebas, akan berikatan dengan oksigen untuk membentuk NOx. Inilah yang amat berbahaya karena senyawa ini amat beracun dan bila terkena air akan membentuk asam nitrat. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Tingginya konsentrasi senyawa NOx disebabkan karena tingginya konsentrasi oksigen ditambah dengan tingginya suhu ruang bakar. Untuk menjaga agar konsentrasi NOx tidak tinggi maka diperlukan kontrol secara tepat terhadap AFR dan suhu ruang bakar harus dijaga agar tidak terlalu tinggi baik dengan EGR maupun long valve overlap. Normalnya NOx pada saat idle tidak melebihi 100 ppm. Apabila AFR terlalu kurus, timing pengapian yang terlalu tinggi atau sebab lainnya yang menyebabkan suhu ruang bakar meningkat, akan meningkatkan konsentrasi NOx dan ini tidak akan dapat diatasi oleh CC atau sistem EGR yang canggih sekalipun. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Tumpukan kerak karbon yang berada di ruang bakar juga akan meningkatkan kompresi mesin dan dapat menyebabkan timbulnya titik panas yang dapat meningkatkan kadar NOx. Mesin yang sering detonasi juga akan menyebabkan tingginya konsentrasi NOx. (http://hemat-bensin.blogspot.com).
2.9. ALAT UJI EMISI KARBON MONOKSIDA
Alat penguji gas buang digunakan untuk mengukur susunan zat dari gas buang. Alat ini juga dipakai untuk menetapkan apakah campuran yang dihisap miskin, baik atau terlalu kaya. Alat penguji ini akan memberikan hasil baik bila instalasi pengapian serta alat – alat mekanisnya dalam keadaan baik. (Arends & Berenschot, 1980).
CO meter bekerja dengan sinar inframerah atau ultraviolet. Pada meteran ini digunakan prinsip bahwa gas – gas dapat menyerap sinar inframerah dari sinar gelombang tertentu. Kejadian ini dapat disamakan dengan katup yang mengisap sinar matahari. Sinar inframerah itu merupakan sinar panas. CO meter seperti ini dapat dikenal dari skala CO dimana hanya dicantumkan prosentase volumenya. Skala perbandingan untuk perbandingan campuran antara udara dan bensin kebanyakan tidak ada. Tetapi kadang – kadang juga ada. (Arends & Berenschot, 1980).
Gambar 17. Smoke Meter (CO meter)
Sumber: Arends & Berenschot, 1980.
Gambar 18. Daerah gelombang dari penyinaran inframerah
Sumber: Arends & Berenschot, 1980.
Dari gambar 18, dapat dilihat bahwa gelombang untuk karbon monoksida (CO) adalah 4,7 (mikron). Ini berarti hanya sinar inframerah dengan gelombang 0,004 mm sampai 0,005 mm yang dapat diserap oleh emisi karbon monoksida (CO). Penyinaran tidak dipengaruhi oleh mesin lain di dalam gas buang, sedangkan konsentrasi emisi karbon monoksida (CO) dapat diukur dengan teliti. (Arends & Berenschot, 1980).
Cara kerjanya (gambar 19) adalah sebagai berikut: Alat pengukurnya terdiri dari dua ruang analisis M1 dan ruang pembanding M2, diatas tiap ruang dipasang penyinar inframerah. Gas buang disalurakan melalui pipa analisisnya. Di dalam ruang pembanding terdapat gas yang dapat dilalui oleh sinar inframerah tanpa hambatan. Diantara penyinar inframerah dan ruang dipasang piringan yang berputar, yang dapat memutuskan pennyinaran sebanyak 12,5 kg tiap detik. Dibagian bawah tiap – tiap ruang terdapat ruang ukur E. Alat ini terbagi dua oleh suatu kondensator. (Arends & Berenschot, 1980).
Karena di dalam ruang pembanding tidak dapat diserap sinar inframerah, sedangkan dalam ruang analisis dapat (hanya tergangtung dari jumlah emisi karbon monoksida dalam gas buang), terjadilah selisi kekuatan dari sinar inframerah dalam ruang ukur. Di dalam kedua bagian dari ruang ukurnya terjadi selisih suhu yang mengakibatkan terjadinya silisih tekanan. Dengan demikian maka kedudukan kondesator membrannya berubah, perubahan disebabkan piringan yang berputar dibawah pemancar inframerah terjadi 12,5 kg tiap detik. Dengan demikian kapasitas dari kondesator berubah dan terjadilah perubahan di dalam kekuatan arus. Arus ini lalu diperkuat dan disalurkan pada meteran. Makin besar prosentase emisi karbon monoksida (CO) di dalam gas buang, makin besar selisih tekanan dalam ruang ukur, yang mengakibatkan putaran pada jarum meternya. (Arends & Berenschot, 1980).
Gambar 19. Cara kerja CO meter inframerah
Sumber: Arends & Berenschot, 1980.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif.
3.2. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
3.2.1. POPULASI
Populasi penelitian ini adalah semua Mobil bensin Toyota Kijang 5K yang ada dan sedang beroperasi di Kota Kupang.
3.2.2. SAMPEL
Sampel penelitian ini adalah sebuah Mobil bensin Toyota Kijang 5K dengan tipe mesin 4 tak 4 selinder yang ada di Bengkel Otomotif Poli Teknik Negri Kupang.
3.3. VARIABEL
3.3.1. VARIABEL BEBAS
Variabel bebas yaitu penyetelan idle karburator. Penyetelan ini dilakukan dengan melonggarkan idle adjusting mixture screw karburator 0,5 putaran bertahap mulai dari 1 putaran sampai 6 putaran (X).
3.3.2. VARIABEL TERIKAT
Variabel terikat yaitu emisi karbon monoksida. Pengukuran emisi karbon monoksida (CO) dilakukan dengan memutar idle adjusting speed screw karburator pada putaran 750 rpm, 2000 rpm dan 3000 rpm (Y).
3.4. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Adapun metode yang digunakan penulis dalam penyusunan proposal penelitian ini, yaitu sebagai brikut:
a. Metode Observasi
Penulis melakukan kajian dengan turun ke lapangan atau bengkel guna mengamati dan mencatat secara sistematis tentang obyek pengamatan sebagai data dan informasi pendukung tentang permasalahan yang diangkat.
b. Metode kepustakaan
Penulis melakukan kajian dengan mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan topik dari buku-buku yang tersedia di perpustakaan, buku petunjuk, diklat dan media lainnya yang berkaitan dengan topik.
c. Metode Eksperimen
Penulis melakukan kajian dengan langsung melakukan percobaan sesuai dengan permasalahan yang diangkat pada mobil toyota kijang 5 K dan mengambil data-data percobaan serta menalisa data-data dari hasil percobaan.
Pengumpulan data dilakukan sebanyak tiga kali setiap penyetelan idle karburator pada putaran 750 rpm, 2000 rpm dan 3000 rpm.
Adapun tahap-tahap dalam penelitian ini, yaitu:
a. Tahap Persiapan
Mempersiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan dalam pencekan.
b. Tahap Pelaksanaan
1) Sebelum melakukan pengujian, dilakukan pemeriksaan terhadap alat dan bahan yang akan digunakan.
2) Kabel-kabel dari engine analyzer dihubungkan ke mobil dengan posisi kabel hitam dihubungkan ke terminal negatif (-) baterai, kabel merah dihubungkan ke terminal positif (+) baterei, kabel hijau dihubungkan ke terminal positif (+) coil dan kabel warna kuning dihubungkan ke terminal negatif (-) koil, kemudian engine analizer dihubungkan.
3) Kabel arus CO meter dihubungkan ke baterai, hidupkan CO meter kemudian dikalibrasi.
4) Idle adjusting mixture screw karburator dikencangkan, kemudian dilonggarkan 1 putaran. Transmisi dalam keadaan ”N” (netral) dan hidupkan mesin. Rpm distel dengan memutar idle adjusting speed screw karburator sampai putaran stasioner (750 rpm).
5)
6) Tunggu selama 2 menit setelah penyetelan agar konsentrasi CO stabil, lalu dilakukan percobaan. Ujung pengindra (testing proble) CO dimasukan ke ujung knalpot sekurang – kurang 40 cm agar emisi karbon monoksida (CO) dapat terbaca dengan baik dan ukuran konsentrasi emisi karbon monoksida (CO) dalam waktu singkat, kemudian catat skalanya.
7) Putaran mesin dinaikkan menjadi 2000 rpm dengan memutar idle adjusting speed screw. Kemudian lakukan percobaan pada poin –5.
8) Putaran mesin dinaikkan mejadi 3000 rpm dengan memutar idle adjusting speed screw. Kemudian lakukan percobaan seperti pada poin –5.
9) Idle adjusting mixture screw karburator dilonggarkan 0,5 putaran, kemudian ulangi langkah percobaan seperti pada poin –5), 6), dan 7). Ulangi penyetelan dengan melonggarkan idle adjusting mixture screw karburator sampai 6 putaran.
3.5. TEKNIK ANALISIS DATA
Data yang diperoleh dari hasil percobaan dianalisa secara deskriptif berdasarkan variabel yang diteliti.
3.6. PERALATAN DAN BAHAN
Peralatan dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
a. Mobil Toyota Kijang 5K, Tahun 1993.
Karburator
Langkah Pompa Akselerasi
Seri 5 K (Part No. 21100-13650)
Tinggi Permukaan Pelampung
Posisi tertinggi 5 K
Posisi Terendah 5 K
Sudut katup throttle tertutup
Primer
Sekunder
Sudut katup throttle membuka penuh
Primer 5 K
Sekunder 5 K
Sudut idle tinggi saat katup cuk
Menutup penuh
Putaran Idle
Posisi Idle karburator dikendorkan
Distributor
Sudut Dwell (dwell angel)
Celah rubbing blok
Saat pengapian
4, 58 ± 0, 25 mm 0, 191± 0, 0098 in
7, 5 mm 0, 295 in
0, 6 ± 0, 1 mm 0, 024 ± 0, 004 in
90 dari permukaan horisontal
200 dari permukaan horisontal
900 dari permukaan horisontal
900 dari permukaan horisontal
260 dari permukaan horisontal
750 ± 50 rpm
Kendorkan 3 putaran
520 ± 60
0, 4 – 0, 5 mm
80 sebelum TMA
Sumber: Toyota astra Motor PT, 1993.
b. CO Meter
c. Engine Analizer
d. Timing light
e. Stopwatch
f. Obeng Plat
g. Bensin
3.7. BIAYA PENELITIAN
Biaya yang dibutuhkan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Biaya administrasi : Rp. 150. 000,-
- Transportasi : Rp. 200. 000,-
- Pengujian : Rp 600. 000,-
- Komsumsi : Rp. 300. 000,-
2. Biaya operasional : Rp. 1. 100. 000,-
- Analisis data : Rp. 100. 000,-
- Pengetikan : Rp. 200. 000,-
- Penjilidan : Rp. 100. 000,-
3. Biaya Finishing : Rp 500. 0000,-
Total Dana : Rp. 1. 750. 000,-
3.8. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
3.8.1. LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium atau bengkel otomotif Poli Teknik Negri Kupang.
3.8.2. WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini akan dilakukan selama tiga bulan dari bulan Juni sampai Agustus 2010, dengan rincian waktu kegiatan sebagai berikut:
No Jenis Kegiatan Bulan/ Minggu
Juni Juli Agustus
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Rancangan Proposal Penelitian
x
2 Persiapan Perangkat Pengumpulan Data Penelitian
x
3 Pengumpulan data Penelitan
x
x
4 Pengolahan Dan Analisis Data Penelitian
x
x
5 Penulisan Hasil Penelitian x x
DAFTAR PUSTAKA
Arends, BPM & Berenschot. 1980. Motor Bensin. Jakarta, Erlangga.
Arismunandar, W. 2002. Motor sBakar Torak. Bandung, ITB Bandung.
Daryanto. 1999. Teknik Otomotif. Jakarta, PT Bumi aksara.
D.W, Bernad. 1987. Penerapan Termodinamika. Jakarta, Erlangga.
http://hemat-bensin.blogspot.com (unggah, 24 – 06 - 2010)
http://www.kpbb.com (unggah, 31 – 05 - 2010)
Husni, M & Herdiman, Eman.1981. Teori engine Dan Casis untuk STM. Jakarata, Departemen P&K.
Karyanto E. 1994. Pedoman Reparasi Motor Bensin. Jakarta, CV Pedoman Ilmu Jaya.
Sedarmayanti & Syarifudin Hidayat.2002. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung, Citra Karya
Srikandi, V. 1992. Polusi Air dan Udara. Jakarta, Kanisius.
Toyota Astra Motor. PT. 1993.
Toyota Astra Motor PT. 2003. New Step I Training Manual.
PENGUJIAN EMISI CO GAS BUANG
MOBIL TOYOTA KIJANG 5 K
Prosentase emisi karbon monoksida (CO) gas buang pada putaran 750 rpm.
Penyetelan IdleKarburator (Putaran) Prosentase Karbon Monoksida pada gas buang (%)
Pengujian I
Pengujian II
Pengujian III
Rata – Rata
Prosentase emisi karbon monoksida (CO) gas buang pada putaran 2000 rpm.
Penyetelan IdleKarburator (Putaran) Prosentase Karbon Monoksida pada gas buang (%)
Pengujian I
Pengujian II
Pengujian III
Rata – Rata
Prosentase emisi karbon monoksida (CO) gas buang pada putaran 3000 rpm.
Penyetelan IdleKarburator (Putaran) Prosentase Karbon Monoksida pada gas buang (%)
Pengujian I
Pengujian II
Pengujian III
Rata – Rata
LEMBARAN KONSULTASI
JUDUL: PENGARUH PENYETELAN IDLE KARBURATOR TERHADAP EMISI GAS BUANG
No Hr/Tgl Keterangan Paraf
Materi Pembahasan Pembimbing I Pembimbing II
1.
2.
3.
4.
5. 03/ Juni 2010
26/ Juni 2010
03/ Juli 2010
23/ Juli 2010
24/ Juli 2010 - Judul proposal
- Bab I
- Bab II
- Bab III
- Pengembalian proposal perbaikan
- Halaman Judul
- Lembaran Persetujuan
- Daftar Isi
- Konsultasi Terakhir - Tujuan
- Manfaat
- Konsep Penelitian
- Melengkapi kata yang salah
- Biaya Penelitian
- Tabel Penelitian
-
- (…………)
(…………)
(…………)
(…………)
(…………) (…………)
(…………)
(…………)
(…………)
(…………)
PENGARUH PENYETELAN
IDLE KARBURATOR TERHADAP EMISI GAS BUANG
PADA MOBIL TOYOTA KIJANG 5 K
STEFANUS AMA HELAN
0701120943
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
K U P A N G
2 0 1 0
LEMBARAN PERSETUJUAN
Judul Proposal : Pengaruh Penyetelan Idle Karburator Terhadap Emisi Gas
Buang Pada Mobil Toyota Kijang 5 K
Nama Mahasiswa : Stefanus Ama Helan
N I M : 07071120943
Proposal ini telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan pada hari ............., tanggal ...................
Menyetujui:
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Basri K., M.Si Munaskop Wadyosapto, S. Pd
NIP. 19640614 199103 1 002 NIP. 19610428 198601 1 001
Mengetahui:
Ketua Program Studi Pendidikan Teknik Mesin
Fahrizal, S. Pd, MP.
NIP. 19690808 199403 1 003
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur pantas dan layak penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan penyertaannyasehingga penyusunan proposal ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Drs. Basri K., M. Si, selaku pembimbing I dan Bapak Munaskop Wadyosapto, S. Pd selaku pembimbing II, yang telah banyak memberikan petunjuk atau pedoman kepada penulis dalam penyusunan proposal penelitian ini, sehingga penyusunan proposal ini dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu penulis baik moril maupun materil, sehingga penyusunan proposal ini dapat diselesaikan.
Penulis menyadari bahwa penulisan proposal ini masi jauh dari kesempurnaannya. Oleh sebab itu, usul, kritik dan saran yang bersifat membangun akan diterimanya dengan senang hati dan lapang dada.
Kupang, Juni 2010
Penulis
DAFTAR ISI
Hal
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab I Pendahuluan 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 3
1.3. Batasan Masalah 3
1.4. Metode Penulisan 4
1.5. Hipotesis 4
1.6. Tujuan dan Manfaat 5
1.7. Konsep Penelitian 6
Bab II Tinjauan Pustaka 7
2.1. Karburator 7
2.2. Konstruksi Dasar Karburator 9
2.3. Venturi 11
2.4. Cara Kerja Karburator 11
2.5. Bahan Bakar Bensin 25
2.6. Karburasi dan Penginjeksian Bahan Bakar
Untuk Motor Bakar 27
2.7. Proses Pembakaran Bahan bakar dan udara 30
2.8. Jenis Gas Buang Kendaraan Bermotor 31
2.9. Alat Penguji Gas Buang 37
Bab III Metodologi Penelitian 40
3.1. Jenis Penelitian 40
3.2. Populasi dan Sampel Penelitian 40
3.3. Variabel 40
3.4. Teknik Pengumpulan data 41
3.5. Teknik Analisis Data 43
3.6. Peralatan dan Bahan 43
3.7. Biaya Penelitian 45
3.8. Lokasi dan Waktu Penelitian 46
Daftar Pustaka 47
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Skripsi : Pengaruh Penyetelan Idle Karburator Terhadap Emisi Gas
Buang Pada Mobil Toyota Kijang 5 K
Nama Mahasiswa : Stefanus Ama Helan
N I M : 07071120943
Skripsi ini telah diuji pada pada hari ............., tanggal ...................
PEMBIMBING:
1. Pembimbing I Drs. Basry K., M.Si .....................
2. Pembimbing II Munaskob Wadyosapto, S. Pd .....................
TIM PENGUJI:
1. Ketua Drs. Basry K., M.Si .....................
2. Anggota Drs. Basry K., M.Si .....................
3. Anggota Drs. Basry K., M.Si .....................
Mengesahkan:
Ketua Jurusan PTK a. n. Dekan FKIP Undana,
FKIP Undana, Pembantu Dekan I
Drs. Basry K., M.Si Drs. Gomer Liufeto, M. A. ., Ph. D.
NIP. 19640614 199103 1 002 NIP. 19550314 198003 1 003
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Dewasa ini udara yang dihirup manusia semakin tidak besahabat, banyak polusi udara terjadi di mana-mana yang disebabkan oleh banyak hal antara lain: asap kendaraan, asap pabrik, pembakaran sampah dan sebagainya. Asap kendaraan merupakan penyebab terbesar terjadinya polusi udara.
Kesadaran masyarakat akan pencemaran udara akibat gas buang kendaraan bermotor di kota-kota besar saat ini makin tinggi. Dari berbagai sumber bergerak seperti mobil penumpang, truk, bus, lokomotif kereta api, kapal terbang, dan kapal laut, kendaraan bermotor saat ini maupun dikemudian hari akan terus menjadi sumber yang dominan dari pencemaran udara di perkotaan. Di DKI Jakarta, kontribusi bahan pencemar dari kendaraan bermotor ke udara adalah sekitar 70 %.
Resiko kesehatan yang dikaitkan dengan pencemaran udara di perkotaan secara umum, banyak menarik perhatian dalam beberapa dekade belakangan ini. Di banyak kota besar, gas buang kendaraan bermotor menyebabkan ketidaknyamanan pada orang yang berada di tepi jalan dan menyebabkan masalah pencemaran udara pula. Beberapa studi epidemiologi dapat menyimpulkan adanya hubungan yang erat antara tingkat pencemaran udara perkotaan dengan angka kejadian (prevalensi) penyakit pernapasan. Pengaruh dari pencemaran khususnya akibat kendaraan bermotor tidak sepenuhnya dapat dibuktikan karena sulit dipahami dan bersifat kumulatif. Kendaraan bermotor akan mengeluarkan berbagai gas jenis maupun partikulat yang terdiri dari berbagai senyawa anorganik dan organik dengan berat molekul yang besar yang dapat langsung terhirup melalui hidung dan mempengaruhi masyarakat di jalan raya dan sekitarnya.
(http://www.kpbb.com).
Cara yang ditempuh dengan mengurangi angka polusi di udara yang disebabkan oleh asap kendaraan yaitu mengatur proses pembakaran di dalam selinder dengan melakukan penyetelan pada karburator. Dalam pengaturan proses pembakaran di dalam selinder yaitu dengan melakukan penyetelan pada idle karburator. Meskipun banyak sekali macam dan jenis karburator yang dapat digunakan yaitu masing – masing dengan konstruksi berbeda sesuai dengan tujuan penggunaannya, prestasi mesin yang mempergunakannya dan sesuai selera perencanaannya, namun fungsi dan prinsip kerjanya tetap sama. Fungsi dari karburator adalah mengatur pemasukan, pencampuran dan pengabutan bensin ke dalam arus udara sehingga diperoleh perbandingan campuran yang sesuai dengan keadaan beban dan kecepatan poros engkol. Campuran itu harus homogen dan perbandingannya sama untuk tiap – tiap selinder.
Penyetelan karburator terutama dalam penyetelan idle karburator, sangat mempengaruhi emisi karbon monoksida (CO) pada gas buang, dan penyetelan idle adjusting mixture screw yang tidak sesuai akan menimbulkan emisi karbon monoksida (CO) yang berlebihan pada gas buang sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan.
Untuk itu dalam melakukan penyetelan idle karburator, sebaiknya dilakukan pengukuran emisi karbon monoksida (CO), agar diketahui berapa besar emisi CO yang ditimbulkan pada gas buang.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mengambil judul ”Pengaruh Penyetelan Idle Karburator Terhadap Emisi Gas Buang Pada Mobil Toyota Kijang 5 K”.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Agar lebih jelas dan terarah permasalahannya, maka masalah yang akan dibahas adalah Bagaimana pengaruh penyetelan idle karburator terhadap emisi gas buang.
1.3. BATASAN MASALAH
Ada permasalahan dalam penelitian ini antara lain, yaitu:
a. Penyetelan idle karburator pada Mobil Toyota Kijang Seri 5 K.
b. Pengujian emisi gas buang (CO) dilakukan dengan cara melonggarkan idle adjusting mixture screw karburator 0,5 putaran bertahap dari 1 putaran sampai 6 putaran penuh.
c. Pengujian emisi gas buang (CO) dilakukan pada putaran 750 rpm, 2000 rpm dan 3000 rpm dengan cara memutar idle adjusting speed screw karburator.
1.4. METODE PENULISAN
Dalam penulisan proposal ini digunakan metode kepustakaan yang sumber penulisannya dihimpun dari beberapa literatur yang diperoleh.
1.5. HIPOTESIS
Menurut Sedarmayanti & Syarifudin Hidayat (2002: 108), Hipotesis adalah asumsi/perkiraan/dugaan sementara mengenai suatu hal atau permasalan yang harus dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan data/fakta atau informasi yang diperoleh dari hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan menggunakan cara-cara yang sudah ditentukan.
a. Hipotesis terdapat perbedaan yang sangat signifikan atau tidak sebagai berikut:
(H1) : Ada pengaruh penyetelan putaran idle karburator terhadap emisi gas buang.
(H0) : Tidak ada pengaruh putaran penyetelan idle karburator terhadap emisi gas buang.
1 putaran (X1) (Y1)
1, 5 putaran (X2) (Y2)
2 putaran (X3) (Y3)
2, 5 putaran (X4) (Y4)
3 putaran (X5) (Y5)
3, 5 putaran (X6) (Y6)
4 putaran (X7) (Y7)
4, 5 putaran (X8) (Y8)
5 putaran (X9) (Y9)
5, 5 putaran (X10) (Y10)
6 putaran (X11) (Y11)
b. Untuk melihat hasil pengukuran gas buang dari penyetelan putaran idle karburator, maka tiap putaran penyetelannya dibutuhkan waktu tiga menit perputaran.
1.6. TUJUAN DAN MANFAAT
1.6.1. TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan proposal ini, yaitu:
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh penyetelan putaran idle karburator terhadap emisi gas buang pada putaran 750 rpm.
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh penyetelan putaran idle karburator terhadap emisi gas buang pada putaran 2000 rpm.
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh penyetelan putaran idle karburator terhadap emisi gas buang pada putaran 3000 rpm.
1.6.2. MANFAAT
Adapun manfaat dari penulisan proposal ini, yaitu:
a. Sebagai bahan informasi bagi para pemilik kendaraan bermotor dan teknisi tentang perlu adanya penyetelan idle karburator yang tepat karena sangat berpengaruh terhadap emisi gas buang.
b. Mengetahui pengaruh penyetelan idle karburator terhadap emisi gas buang (CO).
c. Mengetahui kandungan gas yang terkandung dalam emisi gas buang.
1.7. KONSEP PENELITIAN
a. Karburator
Karburator adalah salah satu bagian yang sangat penting dari sebuah motor bensin.
Karburator berfungsi untuk mengkarburasi bahan bakar dan udara menjadi partikel – partikel kecil.
b. Idle karburator
Jarum penyetelan campuran ideal yang terdapat pada karburator.
c. Bensin (Gasoline)
Bensin adalah bahan bakar yang digunakan untuk proses pembakaran pada motor otto atau motor bensin.
d. Emisi
Emisi adalah zat, energi dan atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang masuk dan atau dimasukkannya ke dalam udara ambient yang mempunyai potensi sebagai unusr pencemar.
e. Gas Buang Kendaraan Bermotor
Zat sisa proses pembakaran motor bakar yang dikeluarkan melalui knalpot ke udara ambient.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. KARBURATOR
Ada tiga syarat yang harus dipenuhi unutk mesin bensin, agar tenaga yang dihasilkan dapat tercapai dengan baik, yaitu:
1. Tekanan kompresi yang tinggi
2. Waktu pengapian yang tepat dan percikan bunga api busi yang kuat
3. Campuran udara dan bahan bakar yang sesuai.
(New Step 1, 2003).
Tenaga pada motor bensin diperoleh dari pembakaran campuran bahan bakar dengan udara dalam selinder. Udara dan bahan bakar bensin dicampurkan menurut kondisi tertentu di dalam karburator. (Karyanto, 1994).
Karburator adalah tempat pencampuran bahan bakar dengan udara. Pencampuran tersebut terjadi karena bahan bakar terhisap masuk atau disemprotkan ke dalam arus udara segar yang masuk ke dalam karburator. Campuran bahan bakar dan udara kemudian masuk ke dalam selinder dan dinyalakan oleh loncatan api listrik dari busi, menjelang akhir langkah kompresi. Pembakaran udara dan bahan bakar ini menghasilkan daya. (Arismunandar W., 2005).
Bentuk dasar dari karburator dibagi dalam dua bagian yaitu ruang campuran (mixture chamber) dimana bahan bakar bensin dicampur dengan udara dan ruang pelampung (float chamber) dimana tersimpan sejumlah bensin dalam volume tetap.
Di bagian tengah ruang pencampur (mixture chamber) terdapat penampang yang kecil, bagian ini disebut venturi. Pengabut utama (main nozzle) yang terletak di tengah venturi akan mengeluarkan bensin pada saat motor berada di atas putaran idling. Disebelah bawahnya terdapat katup gas (throttle valve) dan pengabut (nozzle) untuk kecepatan rendah. Katup gas ini merupakan katup yang berbentuk piringan yang berfungsi mengatur jumlah bahan bakar bensin dan udara yang akan masuk ke dalam selinder motor. (Karyanto, 1994).
Katup gas dihubungkan dengan lengan pedal akselerasi (pedal gas). Katup choke (choke valve) terletak di atas venturi dan berfungsi mengatur jumlah udara yang akan masuk ke dalam karburator. (Husni & Herdiman, 1981).
Ruang pelampung (float chamber) merupakan suatu tempat untuk menampung bahan bakar bensin dan di dalamnya terdapat pelampung dan katup jarum (needle valve). Pada saat langkah isap, tekanan di dalam selinder akan turun. Akibatnya perbedaan tekanan ini udara mengalir kedalam selinder melalui saringan udara, karburator dan saluran masuk (intake manifold). (Husni & Herdiman, 1981).
Karena udara yang masuk ke dalam selinder melalui saluran penyempit pada venturi. Kecepatannya bertambah dan tekanannya menurun sehingga bensin keluar melalui pengabut utama (main nozzle). Kemudian bensin tadi tertiup oleh udara yang deras dan terjadilah penguapan yang masuk ke ruang bakar melalui saluran masuk. (Husni & Herdiman, 1981).
Menyetel karburator merupakan langkah yang penting dan ini termasuk dalam prosedur pengaturan pengapian mesin, sudah waktunya untuk menyetel karburator, apabila mobil kita memprlihatkan gejala – gejala seperti berikut:
Pada waktu mesin dipelankan untuk menghentikan mobil, mobilnya melonjak atau pada waktu kita pindah versenelling mobilnya melonjak juga.
Meskipun stop kontak sudah dimatikan, mesin cenderung untuk berjalan terus, kecepatan mesin pada waktu kita memasang versenelling bebas terlalu cepat (kecepatan ini disebut idle speed)
Pada waktu kita menancap gas, mesin agak tersendat – sendat majunya. Akan tetapi mesin berjalan terlalu cepat pada idle speed, rupanya campuran udara dan bahan bakar dan mengeluarkan banyaknya asap, campuran udara dan bahan bakarnya terlalu tinggi kadarnya.
(Daryanto, 1999).
2.2. KONSTRUKSI DASAR KARBURATOR
Bila torak bergerak ke bawah di dalam selinder selama langkah hisap pada mesin akan menyebabkan kevakuman di dalam ruang bakar. Dengan terjadinya kevakuman ini udara masuk ke ruang bakar melalui karburator. Besarnya udara yang masuk ke selinder diatur oleh katup throttle, yang gerakannya diatur oleh pedal akselerasi. (New Step 1, 2003).
Bertambah cepatnya aliran udara yang masuk melalui saluran yang sempit (disebut venturi), tekanan pada venturi menjadi rendah. Hal ini menyebabkan bensin dalam rujang pelampung mengalir keluar melalui saluran utama (main nozzle) ke ruang bakar. (New Step 1, 2003).
Jumlah udara maksimum yang masuk ke karburator terjadi saat mesin berputar pada kecepatan tinggi dengan posisi katup throttle terbuka penuh. Kecepatan udara yang bergerak melalui venturi bertambah dan memperbesar jumlah bensin yang keluar melalui main nozzle. (New Step 1, 2003).
Gambar 1. Konstruksi Dasar Karburator
Sumber: (New Step 1, 2003)
2.3. VENTURI
Karena udara yang keluar dari ujung tabung sama dengan saat udara masuk ke dalam tabung, udara yang melalui venturi harus lebih besar kecepatannya dibanding dari tempat lainnya, sebab venturi menyempit. Hal ini juga bertujuan agar tekanan udara dalam venturi lebih rendah dibanding dengan bagian lainnya dalam tabung. (New Step 1, 2003).
Dalam karburator bahan bakar disalurkan dari main nozzle disebabkan rendahnya tekanan (terjadi kevakuman) dalam venturi. (New Step 1, 2003).
Gambar 2. Venturi
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4. CARA KERJA KARBURATOR
2.4.1. Sistem Pelampung (Float Circuit)
Akibat mengalirnya udara melewati venturi, maka akan terjadi kevakuman pada venturi, akibatnya bahan bakar dari ruang pelampung akan keluar ke venturi melalui nosel utama. Jika perbedaan tinggi (h) antara bibir nosel dan permukaan bahan bakar dalam ruang pelampung telah berubah, maka jumlah bahan bakar yang dikeluarkan nosel akan berubah juga. Untuk alasan tersebut diatas maka permukaan bahan bakar dalam ruang pelampung harus tetap. Untuk menjaga agar permukaan bensin di dalam ruang pelampung selalu tetap, maka diperlukan sistem pelampung. (New Step 1, 2003).
Gambar 3. Konstruksi Ruang Pelampung.
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.2. Sistem Stasioner dan Kecepatan Lambat
a. Bila Mesin Berputar Idling (Stationer)
Bila throttle valve ditutup maka vakum yang terjadi pada bagian bawah throttle valve besar. Hal ini menyebabkan bahan bakar yang bercampur dengan udara dari air bleeder keluar dari idle port ke intake manifold dan masuk ke dalam selinder. (New Step 1, 2003).
Gambar 4. Sistem Stationer
Sumber: (New Step 1, 2003).
b. Bila throttle Valve Dibuka Sedikit
Gambar 5. Trottle Valve terbuka sedikit
Sumber: (New Step 1, 2003).
Bila throttle valve dibuka sedikit dari keadaan idle, maka jumlah udara yang mengalir bertambah hal ini menyebabkan vakum di bawah throttle valve menjadi berkurang, sehingga bahan bakar menjadi kurus. Untuk menjaga hal itu maka pada saat throttle valve dibuka sedikit, slow port mengeluarkan bahan bakar. (New Step 1, 2003).
c. Sekrup Penyetel Campuaran Idle
Agar mesin berputar idle (stationar) dengan bagus, campuran udara dan bahan bakar yang disupply harus 11:1. Perbandingan udara bahan bakar ditentukan oleh diameter dalam slow jet. Penyetelan perbandingan ini diatur oleh sekrup penyetel campuran idle dengan jalan memutar sekrup penyetel tersebut. (New Step 1, 2003).
Gambar 6. Sekrup Penyetel Campuran Idle
Sumber: (New Step 1, 2003).
d. Slow Jet
Jumlah bahan bakar yang disupply untuk primary low speed circuit, dikontrol oleh slow jet, bahan bakar tersebut dialirkan melalui slow jet kemudian melewati sekrup penyetel campuran dan masuk ke dalam selinder. (New Step 1, 2003).
e. Air Bleeder
Pada primary low speed circuit terdapat 2 (dua) air bleeder, yaitu air bleeder no. 1 (primary bleeder) dan air bleeder no. 2 (secondary bleeder). Air bleeder tersebut untuk membantu atomisasi bahan bakar untuk bercampur dengan udara. (New Step 1, 2003).
f. Economizer Jet
Agar diperoleh campuran yang baik antara bahan bakar dan udara dari air bleeder 1 dan 2 kecepatan aliran bahan bakar harus ditambah. Untuk menambah kecepatan aliran bahan bakar digunakan economizer. (New Step 1, 2003).
g. Katup Selenoid
Bila mesin berputar terus menerus setelah ignition switch diputar ke posisi ”OFF”, ini dinamakan ”dieseling”. Dieseling disebabkan oleh campuran udara bahan bakar yang dibakar oleh panas yang berlebihan dari busi atau katup gas buang, atau carbon deposit di dalam ruang bakar. Salah satu cara untuk mencegah dieseling adalah menghentikan supply bahan bakar ke karburator (idle port) atau memperbanyak masuk ke intake manifold (mengurangi perbandingan udara bahan bakar). Pada umumnya sekarang dipakai cara menggunakan katup selenoid. (New Step 1, 2003).
Gambar 7. Katup Selenoid
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.3. Primary High Speed System
Primary hiigh speed system berfungsi untuk mensupply bahan bakar pada saat kendaraan berjalan pada kecepatan sedang dan tinggi. Sistem ini disebut juga ”main system” (sistem utama). (New Step 1, 2003).
High speed circuit direncanakan untuk menyediakan campuran udara bahan bakar yang ekonomis (16-18 : 1) ke mesin selama kondisi normal. Untuk mendapatkan out-put yang tinggi disediakan sistem tambahan yaitu sistem akselerasi dan sistem power. (New Step 1, 2003).
Gambar 8. Primary High Speed System
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.4. Secondary High Speed System
Primary high speed system bekerja pada saat mesin bekerja pada beban ringan dan jumlah udara yang masuk sedikit. Tetapi bila supply campuran udara bahan bakar ke dalam selinder oleh primary high speed system tidak cukup pada beban yang berat atau pada kexepatan yang tinggi maka secondary hijgh s.peed system pada saat ini mulai bekerja. (New Step 1, 2003).
Secondary high speed system disusun sama sperti primary high speed system, tetapi karena secondary high speed system direncanakan untuk bekerja bila mesin membutuhkan out-put yang besar maka ukuran (diameter) dari pada nosel, venturi dan jet dibuat lebih besar daripada yang diberikan pada system primary. Mekanisme dari system secondary high speed bekerja bila mesin berputar pada kecepatan tinggi dan dibawah beban berat. (New Step 1, 2003).
Gambar 9. Secondary High Speed System
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.5. SistemTenaga (Power System)
Primary high speed system mempunyai perencanaan untuk pemakaian bahan bakar yang ekonomis, jika mesin harus mengeluarkan tenaga yang besar, maka harus ada tambahan bahan bakar ke primary high speed system. Tambahan bahan bakar disupply oleh power system (sistem tenaga) sehingga campuran udara bahan bakar menjadi kaya (12-13 : 1). Bila primary throttle valve hanya terbuka sedikit (pada bagian ringan) kevakuman pada intake manifold besar, sehingga power piston akan terhisap pada posisi atas. Hal ini akan menyebabkan power valve spring (B) menahan power valve, sehingga power valve tertutup. (New Step 1, 2003).
Tetapi bila primary throttle valve dibuka agak lebar (pada kecepatan tinggi atau jalan menanjak) maka kevakuman pada intake manifold berkurang dan power piston terdorong ke bawah oleh power valve spring (A) sehingga power valve terbuka. Bila hal ini terjadi, bahan bakar akan disupply dari power jet dan primary main jet ke sistem kecepatan tinggi sehingga campuran menjadi kaya. (New Step 1, 2003).
Gambar 10. Sistem tenaga
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.6. Sistem Percepatan
Pada saat pedal gas diinjak secara tiba-tiba, throttle valve pun akan membuka secara tiba-tiba pula, sehingga aliran udara menjadi lebih cepat. Akan tetapi karena bahan bakar lebih berat dari udara maka bahan bakar akan datang terlambat sehingga campuran menjadi terlalu kurus, pada hal pada saat ini dibutuhkan campuran yang kaya. Untuk itu pada karburator dilengkapi dengan sistem percepatan. (New Step 1, 2003).
Gambar 11. Sistem Percepatan
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.7. Sistem Cuk
Pada saat mesin dingin, bahan bakar tidak akan menguap dengan baik dan sebagian campuran udara bahan bakar yang mengalir akan mengembun di dinding intake manifold karena intake manifold dalam keadaan dingin. Dan ini akan mengakibatkan campuran udara bahan bakar menjadi kurus sehingga mesin sukar hidup. Sistem cuk membuat campuran udara bahan bakar kaya (1 : 1) yang disalurkan ke dalam selinder bila mesin masih dingin. (New Step 1, 2003).
Gambar 12. Automatic choke
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.8. Fast Idle Mechanism
Untuk menghidupkan mesin pada saat temperatur rendah, sangat diperlukan campuran yang kaya, akan tetapi untuk mendapatkan putaran idling yang baik pada saat temperatur rendah maka putaran idling perlu dinaikkan. Untuk ini fast idle mechanism dilengkapkan untuk menaikkan putaran idling pada temperatur rendah dan katup cuk masih tertutup, dengan membuka sedikit throotle valve. (New Step 1, 2003).
Bila mesin dihidupkan pada temperatur rendah serta katup cuk tertutup dan tiba-tiba pedal gas ditekan dan kemudian dilepas pada saat yang sama fast idle cam yang dihubungkan dengan katup cuk oleh rod (batang penghubung) akan berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Kemudian sejak fast idle cam follower yang bergerak bersama-sama dengan throttle valve akan bersinggungan dengan fast idle cam dan throttle valve terbuka sedikit. (New Step 1, 2003).
Ganmbar 13. Fast Idle Mechanism
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.9. Thermostatic Valve
Bila kendaraan berjalan pada jalan yang macet dan cuaca panas, ruang mesin akan menjadi relaif panas. Akibatnya bahan bakar di dalam karburator mudah sekali menguap dan mungkin meluap ke ventury. Campuran menjadi terlalu kaya yang menyebabkan mesin mati, idling kasar dan susah untuk distart. Untuk mencegah keadaan diatas pada karburator dilengkapi dengan thermostatic valve. Valve yang dilengkapi dengan bemetal ini akan mulai membuka bila temperatur pada ruang mesin mencapai 600C dan membuka penuh pada temperatur 750C. (New Step 1, 2003).
Bila valve membuka, udara luar mengalir langsung ke intake manifold untuk memperkurus campuran yang terlalu kaya sehingga campuran yang masuk ke dalam selinder menjadi normal dan mesin pun berputar dengan normal. (New Step 1, 2003).
Gambar 14. Thermostatic Valve
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.10. Positive Crankcase Ventilation (PCV)
PCV System dilengkapi untuk mencegah mengalirnya blow by gas (campuran udara dan bahan bakar yang bocor) ke udara luar, yang akan mengakibatkan pengotoran udara. Pencegahan tersebut dilakukan dengan jalan mengalirkan kembali blow by gas ke intake manifold yang seterusnya dibakar kembali ke ruang bakar. System ventilation valve mengotrol mengalirnya blow by gas sesuai dengan kondisi kerja mesin. (New Step 1, 2003).
Gambar 15. Positive Crankcase Ventilation (PCV)
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.4.11. Deceleration Fuel Cut OFF System
Pada saat dilakukan decelerasi, throttle valve akan menutup rapat sedangkan putaran mesin masih tinggi sehingga mengakibatkan kevakuman pada ruang bakar dan intake manifold menjadi tinggi yang akan menyebabkan bahan bakar yang menempel pada dinding intake manifold akan menguap dengan cepat sehingga campuran menjadi gemuk. Hal ini akan menyebabkan konsentrasi CO dan HC pada gas buang akan bertambah. Untuk itu pada karburator dilengkapi dengan ”deceleration fuel cut off system” yang akan menutup aliran bahan bakar dari slow port sehingga konsentrasi CO dan HC dapat diturunkan. (New Step 1, 2003).
Gambar 16. Deceleration Fuel Cut OFF System
Sumber: (New Step 1, 2003).
2.5. BAHAN BAKAR BENSIN
Menurut ASTM bensin motor terbagi ke dalam lima kelas velositas yaitu A, B, C, D dan E (ASTM D439 - 89). Spesifikasi ini menetapkan karakteristik bensin motor untuk digunakan di daerah dengan kondisi operasi yang berbeda – beda sesuai dengan perubahan cuaca daerah dimana bensin motor digunakan, (Wiranto A., 1988).
Lima jenis bensin berdasarkan kelas velositas yang diproduksi di Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Bensin premium 88 yang mempunyai angka oktan riset minimum 88, berwarna kuning dengan pengungkit oktan TEL makdimum 1,5 ml galon Amerika bensin.
b. Bensin premix 94 yang mempunyai angka oktan riset minimum 94, berwarna orange, menggunakan pengungkit oktan TEL dengan kandungan Pb maksimum 0,45 gr/l dan metil terser butil eter (MTBE) maksimum 15% volum.
c. Bensin super TT yang mempunyai angka oktan riset minimum 95, tidak berwarna dan tidak menganfung TEL, dapat ditambahkan 10% volum untuk memenuhi spesifikasi angka oktan.
d. Bensin prima TT yang mempunyai angka oktan riset 98, tidak berwarna dan tidak mengandung TEL. Dapat ditambahkan MTBE maksimum 15% volume untuk memenuhi spesifikasi angka oktan.
e. Bensin petro 2T mempunyai angka oktan riset 72, berwarna hijau dengan kandungan timbal (Pb) maksimum 0,1 kg/l. Ditambahkan MTBE maksimum 15% volum untuk memenuhi spesifikasi angka oktan. Bensin ini khusus digunakan untuk mesin motor bakar dua langkah.
2.6. KARBURASI DAN PENGINJEKSIAN BAHAN BAKAR UNTUK MOTOR BAKAR
Pada motor bakar torak penyalaan cetus api, adalah hal yang relatif sederhana untuk mengsuplai bahan bakar gas dalam propulsi yang sesuai dengan udara begitu beban berubah. Tetapi, pengukuran jumlah aliran (metering), pengatoman, dan pendistribusian bahan bakar cair, khususnya pada motor bakar aneka selinder (multi cylinder), ini semua lebih sulit. Hanya pada sejumlah penggunaan terbatas motor bakar dihadapkan pada kebutuhan beban tunak (steady) yang dapat dipenuhi oleh laju aliran bahan bakar dan udara yag tetap. Pada kebanyakan instalasi stasioner bebannya adalah bervariasi dan pada propulsi otomotif khususnya, kepesatan dan beban harus bervariasi. (Bernad D.W & Zulkifli H., 1987).
Jangka Operasi Faktor Pengatur Perbandingan Udara -Bahan Bakar
Tanpa beban (idling)
Daya normal
Daya maksimum Pengenceran campuran oleh hasil – hasil pembakaran
Keekonomisan
Pemakaian udara sepenuhnya Kaya
Sedikit miskin
Kaya
Tabel 1. Daerah operasi utama
Sumber: Bernad D.W & Zulkifli H., 1987
Untuk motor bakar torak penyalaan cetus api adalah hal yang biasa untuk mengcekik (throttle) atau menghambat suplai udara untuk menghindarkan campuran yang terlalu miskin pada beban – beban yang lebih rendah dan memakai udara sebanyak mungkin hanya bila dibutuhkan beban maksimum. Daerah operasi utama dirampung pada tabel 1 diatas. (Bernad D.W & Zulkifli H., 1987).
Selama periode tanpa beban (idling) atau kebutuhan tanpa beban, suplai udara dicekik. Gas volume sisa yang pada dasarnya mulia merupakan bagian terbesar isian pada akhir periode pengisapan. Disamping itu, karena tekanan di dalam selinder sangat rendah selama pengisapan, gas – gas buang dihisap kembali ke dalam selinder selama periode tumpang tindih katup (valve - overlap), yaitu sewaktu baik katup masuk maupun katup buang dalam keadaan terbuka. Akibatnya adalah bahwa pencampuran udara dan bahan bakar secara kimia tepat akan diencerkan oleh gas mulia sehingga pembakaran akan tidak teratur atau tidak mungkin terjadi, campuran kaya (lebih banyak bahan bakar daripada jumlah yang secara kimia tepat untuk oksigen yang tersedia) harus disuplai. Dalam hal apapun situasi menunggu (stand - by) adalah tidak ekonomis, tetapi keharusan untuk memperoleh campuran kaya membuat situasi tersebut lebih boros, dan sangat menunjang pencemaran yang diakibatkan oleh motor bakar penyalaan cetus api. (Bernad D.W & Zulkifli H., 1987).
Pada jangka (range) daya normal, yang secara kasarnya dari 25 – 75% dari tekanan efektif rata – rata indikator maksimum yang mungkin, pertimbangan utama biasanya adalah untuk keekonomisan bahan bakar. Karena campuran bahan bakar dan udara tidak perna sama sekali homogen, dan karena gradien temperatur di dalam selinder mengacaukan pembakaran yang seragam, campuran bahan bakar yang secara kimia tepat (stoichiometrik) tidak akan terbakar sempurna dan sebagian bahan bakar akan terbuang. Untuk alasan ini udara berlebih (excess air), 5 – 10% diatas kebutuhan yang secara kimia tepat, disuplai untuk menghindarkan pembakaran yang tidak sempurna. (Bernad D.W & Zulkifli H., 1987).
Perbandingan bahan bakar terhadap udara yang secara kimia tepat untuk kebanyakan gasolin adalah antara 0,066 dan 0,068 pada basis massa. Bobot spesifik uap bahan bakar adalah lebih besar daripada bobot spesifik udara, dan disamping itu, sebagian besar bahan bakar masih dalam keadaan cair selama pengisapan isian. Jadi volume udara yang dapat disuplai adalah faktor yang membatasi keluaran daya maksimum untuk motor bakar. Untuk menjamin pemanfaatan semua oksigen yang dapat disuplai, dibutuhkan perbandingan bahan bakar terhadap udara yang kaya. (Bernad D.W & Zulkifli H., 1987).
Contoh:
Hitunglah perbandingan bahan bakar terhadap udara yang dibutuhkan (basis massa) untuk gasolin, dengan mengandaikan rumus kimia bahan bakar adalah C8H17 dan dibutuhkan 10% udara lebih. Perhatikan bahwa pada basis massa (yakni basis molekul) udara adalah kira – kira 21% oksigen dan 79% nitrogen.
Perbandingan yang secara kimia tepat (C.C):
39,2 kg + 1291 kg + 113 kg 1796 kg
C. C. A/F = = 14,89 : 1
Untuk 10% udara lebih, A/F = 16,38 : 1
F/A yang dibutuhkan = 0,061 kg bahan bakar/kg udara. (Bernad D.W & Zulkifli H., 1987).
2.7. PROSES PEMBAKARAN BAHAN BAKAR DAN UDARA
Proses pembakaran bahan bakar dimulai saat terjadinya percikan bunga api pada busi dalam ruang silinder. Ruang silinder tersebut berisikan campuran bahan bakar dan udara yang telah dikompresikan oleh torak. Untuk melaksanakan pembakaran, sebenarnya tidak selamanya tepat saat torak mencapai titik puncaknya, akan tetapi untuk mendapatkan tenaga yang maksimal dengan bahan bakar yang efisien, penyalaan harus tepat sesuai dengan kerja motor. Campuran bahan bakar dan udara harus selesai dan terbakar sempurna sehingga langkah usaha oleh adanya ledakan dari proses pembakaran dapat dicapai dengan maksimal. Campuran bahan bakar dan udara tidak akan langsung terbakar, membutuhkan waktu beberapa saat untuk membakar keseluruhan dari campuran tersebut. Selang waktu ini disebut keterlambatan pembakaran. Keterlambatan pembakaran disebabkan karena proses pembakaran bahan bakar dan udara memerlukan waktu. Setelah pembakaran dimulai, penyebaran api dilanjutkan keseluruh bagian dari ruang bakar. Pembakaran berlangsung normal apabila campuran bahan bakar dan udara di dalam silinder terbakar habis dengan waktu yang relatif konstan. (Toyota Astra Motor, 1993)
2.8. JENIS GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR
Udara adalah suatu campuran gas buang yang terdapat pada lapisan yang mengelilingi bumi. Komposisi campuran tersebut tidak selalu konstan. Komponen yang konsentrasinya paling bervariasi adalah air dalam bentuk H2O dan karbondioksida (CO2). Jumlah uap air yang terdapat di udara bervariasi tergantung dari cuaca dan suhu.
Sumber polusi yang utama berasal dari transportasi, dimana hampir 60% dari polutan yang dihasilkan terdiri dari karbon monoksida dan sekitar 15% terdiri dari hoidrokarbon. Sumber – sumber polusi lainnya misalnya pembakaran, proses industri, pembuangan limbah, dll. Polutan yang utama adalah karbon monoksida yang mencapai hampir setengahnya dari seluruh polutan yang ada. (Srikandi, F, 1992).
Bahan pencemar (polutan) yang berasal dari kendaraan bermotor dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori sebagai berikut:
a. Sumber
Polutan dibedakan menjadi polutan primer atau sekunder. Polutan primer seperti sulfur oksida (SOX), nitrogen oksida (NOX) dan hidrokarbon (HC) langsung dibuang ke udara bebas dan mempertahankan bentuknya seperti pada saat pembuangan. Polutan sekunder seperti ozon (O3) dan peroksiasetil nitrat (PAN) adalah polutan yang terbentuk di atmosfir melalui reaksi fotokimia, hidrolisasi atau oksidasi.
b. Komposisi kimia
Polutan dibedakan menjadi organik dan inorganik. Polutan organik mengandung karbon dan hidrogen juga beberapa elemen seperti oksigen, nitrogen, sulfur atau fosfor; contohnya hidrokarbon, keton, alkohol, ester, dll. Polutan inorganik seperti karbon konoksida (CO), karbonat, nitrogen oksida, ozon dan lainnya.
c. Bahan penyusun
Polutan dibedakan menjadi partikulat atau gas. Partikulat dibagi menjadi padatan dan cairan seperti debu, asap, abu, kabut dan spray. Partikulat dapat bertahan di atmosfir. Sedangakan polutan berupa gas tidak tertahan di atmosfir dan bercampur dengan udara bebas.
2.8.1. Hidrokarbon
Bensin adalah senyawa hidrokarbon, jadi setiap HC yang didapat di gas buang kendaraan menunjukkan adanya bensin yang tidak terbakar dan terbuang bersama sisa pembakaran. Apabila suatu senyawa hidrokarbon terbakar sempurna (bereaksi dengan oksigen) maka hasil reaksi pembakaran tersebut adalah karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Walaupun rasio perbandingan antara udara dan bensin (AFR=Air-to-Fuel-Ratio) sudah tepat dan didukung oleh desain ruang bakar mesin saat ini yang sudah mendekati ideal, tetapi tetap saja sebagian dari bensin seolah-olah tetap dapat bersembunyi dari api saat terjadi proses pembakaran dan menyebabkan emisi HC pada ujung knalpot cukup tinggi. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Untuk mobil yang tidak dilengkapi dengan Catalytic Converter (CC), emisi HC yang dapat ditolerir adalah 500 ppm dan untuk mobil yang dilengkapi dengan CC, emisi HC yang dapat ditolerir adalah 50 ppm. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Emisi HC ini dapat ditekan dengan cara memberikan tambahan panas dan oksigen diluar ruang bakar untuk menuntaskan proses pembakaran. Proses injeksi oksigen tepat setelah exhaust port akan dapat menekan emisi HC secara drastis. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Apabila emisi HC tinggi, menunjukkan ada 3 kemungkinan penyebabnya yaitu CC yang tidak berfungsi, AFR yang tidak tepat (terlalu kaya) atau bensin tidak terbakar dengan sempurna di ruang bakar. Apabila mobil dilengkapi dengan CC, maka harus dilakukan pengujian terlebih dahulu terhadap CC dengan cara mengukur perbedaan suhu antara inlet CC dan outletnya. Seharusnya suhu di outlet akan lebih tinggi minimal 10% daripada inletnya. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Apabila CC bekerja dengan normal tapi HC tetap tinggi, maka hal ini menunjukkan gejala bahwa AFR yang tidak tepat atau terjadi misfire. AFR yang terlalu kaya akan menyebabkan emisi HC menjadi tinggi. Ini biasa disebabkan antara lain kebocoran fuel pressure regulator, setelan karburator tidak tepat, filter udara yang tersumbat, sensor temperature mesin yang tidak normal dan sebagainya yang dapat membuat AFR terlalu kaya. Injector yang kotor atau fuel pressure yang terlalu rendah dapat membuat butiran bensin menjadi terlalu besar untuk terbakar dengan sempurna dan ini juga akan membuat emisi HC menjadi tinggi. Apapun alasannya, AFR yang terlalu kaya juga akan membuat emisi CO menjadi tinggi dan bahkan menyebabkan outlet dari CC mengalami overheat, tetapi CO dan HC yang tinggi juga bisa disebabkan oleh rembasnya pelumas ke ruang bakar. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
2.8.2. Karbon Monoksida (CO)
Gas karbonmonoksida adalah gas yang relative tidak stabil dan cenderung bereaksi dengan unsur lain. Karbon monoksida dapat diubah dengan mudah menjadi CO2 dengan bantuan sedikit oksigen dan panas. Saat mesin bekerja dengan AFR yang tepat, emisi CO pada ujung knalpot berkisar 0, 5% sampai 1% untuk mesin yang dilengkapi dengan sistem injeksi atau sekitar 2, 5% untuk mesin yang masih menggunakan karburator. Dengan bantuan air injection system atau CC, maka CO dapat dibuat serendah mungkin mendekati 0%. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Apabila AFR sedikit saja lebih kaya dari angka idealnya (AFR ideal = lambda = 1, 00) maka emisi CO akan naik secara drastis. Jadi tingginya angka CO menunjukkan bahwa AFR terlalu kaya dan ini bisa disebabkan antara lain karena masalah di fuel injection system seperti fuel pressure yang terlalu tinggi, sensor suhu mesin yang tidak normal, air filter yang kotor, PCV system yang tidak normal, karburator yang kotor atau setelannya yang tidak tepat. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
2.8.3. Karbon Dioksida (CO2)
Konsentrasi CO2 menunjukkan secara langsung status proses pembakaran di ruang bakar. Semakin tinggi maka semakin baik. Saat AFR berada di angka ideal, emisi CO2 berkisar antara 12% sampai 15%. Apabila AFR terlalu kurus atau terlalu kaya, maka emisi CO2 akan turun secara drastis. Apabila CO2 berada dibawah 12%, maka kita harus melihat emisi lainnya yang menunjukkan apakah AFR terlalu kaya atau terlalu kurus. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Perlu diingat bahwa sumber dari CO2 ini hanya ruang bakar dan CC. Apabila CO2 terlalu rendah tapi CO dan HC normal, menunjukkan adanya kebocoran exhaust pipe. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
2.8.4. NOx
Senyawa NOx ini sangat tidak stabil dan bila terlepas ke udara bebas, akan berikatan dengan oksigen untuk membentuk NOx. Inilah yang amat berbahaya karena senyawa ini amat beracun dan bila terkena air akan membentuk asam nitrat. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Tingginya konsentrasi senyawa NOx disebabkan karena tingginya konsentrasi oksigen ditambah dengan tingginya suhu ruang bakar. Untuk menjaga agar konsentrasi NOx tidak tinggi maka diperlukan kontrol secara tepat terhadap AFR dan suhu ruang bakar harus dijaga agar tidak terlalu tinggi baik dengan EGR maupun long valve overlap. Normalnya NOx pada saat idle tidak melebihi 100 ppm. Apabila AFR terlalu kurus, timing pengapian yang terlalu tinggi atau sebab lainnya yang menyebabkan suhu ruang bakar meningkat, akan meningkatkan konsentrasi NOx dan ini tidak akan dapat diatasi oleh CC atau sistem EGR yang canggih sekalipun. (http://hemat-bensin.blogspot.com)
Tumpukan kerak karbon yang berada di ruang bakar juga akan meningkatkan kompresi mesin dan dapat menyebabkan timbulnya titik panas yang dapat meningkatkan kadar NOx. Mesin yang sering detonasi juga akan menyebabkan tingginya konsentrasi NOx. (http://hemat-bensin.blogspot.com).
2.9. ALAT UJI EMISI KARBON MONOKSIDA
Alat penguji gas buang digunakan untuk mengukur susunan zat dari gas buang. Alat ini juga dipakai untuk menetapkan apakah campuran yang dihisap miskin, baik atau terlalu kaya. Alat penguji ini akan memberikan hasil baik bila instalasi pengapian serta alat – alat mekanisnya dalam keadaan baik. (Arends & Berenschot, 1980).
CO meter bekerja dengan sinar inframerah atau ultraviolet. Pada meteran ini digunakan prinsip bahwa gas – gas dapat menyerap sinar inframerah dari sinar gelombang tertentu. Kejadian ini dapat disamakan dengan katup yang mengisap sinar matahari. Sinar inframerah itu merupakan sinar panas. CO meter seperti ini dapat dikenal dari skala CO dimana hanya dicantumkan prosentase volumenya. Skala perbandingan untuk perbandingan campuran antara udara dan bensin kebanyakan tidak ada. Tetapi kadang – kadang juga ada. (Arends & Berenschot, 1980).
Gambar 17. Smoke Meter (CO meter)
Sumber: Arends & Berenschot, 1980.
Gambar 18. Daerah gelombang dari penyinaran inframerah
Sumber: Arends & Berenschot, 1980.
Dari gambar 18, dapat dilihat bahwa gelombang untuk karbon monoksida (CO) adalah 4,7 (mikron). Ini berarti hanya sinar inframerah dengan gelombang 0,004 mm sampai 0,005 mm yang dapat diserap oleh emisi karbon monoksida (CO). Penyinaran tidak dipengaruhi oleh mesin lain di dalam gas buang, sedangkan konsentrasi emisi karbon monoksida (CO) dapat diukur dengan teliti. (Arends & Berenschot, 1980).
Cara kerjanya (gambar 19) adalah sebagai berikut: Alat pengukurnya terdiri dari dua ruang analisis M1 dan ruang pembanding M2, diatas tiap ruang dipasang penyinar inframerah. Gas buang disalurakan melalui pipa analisisnya. Di dalam ruang pembanding terdapat gas yang dapat dilalui oleh sinar inframerah tanpa hambatan. Diantara penyinar inframerah dan ruang dipasang piringan yang berputar, yang dapat memutuskan pennyinaran sebanyak 12,5 kg tiap detik. Dibagian bawah tiap – tiap ruang terdapat ruang ukur E. Alat ini terbagi dua oleh suatu kondensator. (Arends & Berenschot, 1980).
Karena di dalam ruang pembanding tidak dapat diserap sinar inframerah, sedangkan dalam ruang analisis dapat (hanya tergangtung dari jumlah emisi karbon monoksida dalam gas buang), terjadilah selisi kekuatan dari sinar inframerah dalam ruang ukur. Di dalam kedua bagian dari ruang ukurnya terjadi selisih suhu yang mengakibatkan terjadinya silisih tekanan. Dengan demikian maka kedudukan kondesator membrannya berubah, perubahan disebabkan piringan yang berputar dibawah pemancar inframerah terjadi 12,5 kg tiap detik. Dengan demikian kapasitas dari kondesator berubah dan terjadilah perubahan di dalam kekuatan arus. Arus ini lalu diperkuat dan disalurkan pada meteran. Makin besar prosentase emisi karbon monoksida (CO) di dalam gas buang, makin besar selisih tekanan dalam ruang ukur, yang mengakibatkan putaran pada jarum meternya. (Arends & Berenschot, 1980).
Gambar 19. Cara kerja CO meter inframerah
Sumber: Arends & Berenschot, 1980.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif.
3.2. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
3.2.1. POPULASI
Populasi penelitian ini adalah semua Mobil bensin Toyota Kijang 5K yang ada dan sedang beroperasi di Kota Kupang.
3.2.2. SAMPEL
Sampel penelitian ini adalah sebuah Mobil bensin Toyota Kijang 5K dengan tipe mesin 4 tak 4 selinder yang ada di Bengkel Otomotif Poli Teknik Negri Kupang.
3.3. VARIABEL
3.3.1. VARIABEL BEBAS
Variabel bebas yaitu penyetelan idle karburator. Penyetelan ini dilakukan dengan melonggarkan idle adjusting mixture screw karburator 0,5 putaran bertahap mulai dari 1 putaran sampai 6 putaran (X).
3.3.2. VARIABEL TERIKAT
Variabel terikat yaitu emisi karbon monoksida. Pengukuran emisi karbon monoksida (CO) dilakukan dengan memutar idle adjusting speed screw karburator pada putaran 750 rpm, 2000 rpm dan 3000 rpm (Y).
3.4. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Adapun metode yang digunakan penulis dalam penyusunan proposal penelitian ini, yaitu sebagai brikut:
a. Metode Observasi
Penulis melakukan kajian dengan turun ke lapangan atau bengkel guna mengamati dan mencatat secara sistematis tentang obyek pengamatan sebagai data dan informasi pendukung tentang permasalahan yang diangkat.
b. Metode kepustakaan
Penulis melakukan kajian dengan mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan topik dari buku-buku yang tersedia di perpustakaan, buku petunjuk, diklat dan media lainnya yang berkaitan dengan topik.
c. Metode Eksperimen
Penulis melakukan kajian dengan langsung melakukan percobaan sesuai dengan permasalahan yang diangkat pada mobil toyota kijang 5 K dan mengambil data-data percobaan serta menalisa data-data dari hasil percobaan.
Pengumpulan data dilakukan sebanyak tiga kali setiap penyetelan idle karburator pada putaran 750 rpm, 2000 rpm dan 3000 rpm.
Adapun tahap-tahap dalam penelitian ini, yaitu:
a. Tahap Persiapan
Mempersiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan dalam pencekan.
b. Tahap Pelaksanaan
1) Sebelum melakukan pengujian, dilakukan pemeriksaan terhadap alat dan bahan yang akan digunakan.
2) Kabel-kabel dari engine analyzer dihubungkan ke mobil dengan posisi kabel hitam dihubungkan ke terminal negatif (-) baterai, kabel merah dihubungkan ke terminal positif (+) baterei, kabel hijau dihubungkan ke terminal positif (+) coil dan kabel warna kuning dihubungkan ke terminal negatif (-) koil, kemudian engine analizer dihubungkan.
3) Kabel arus CO meter dihubungkan ke baterai, hidupkan CO meter kemudian dikalibrasi.
4) Idle adjusting mixture screw karburator dikencangkan, kemudian dilonggarkan 1 putaran. Transmisi dalam keadaan ”N” (netral) dan hidupkan mesin. Rpm distel dengan memutar idle adjusting speed screw karburator sampai putaran stasioner (750 rpm).
5)
6) Tunggu selama 2 menit setelah penyetelan agar konsentrasi CO stabil, lalu dilakukan percobaan. Ujung pengindra (testing proble) CO dimasukan ke ujung knalpot sekurang – kurang 40 cm agar emisi karbon monoksida (CO) dapat terbaca dengan baik dan ukuran konsentrasi emisi karbon monoksida (CO) dalam waktu singkat, kemudian catat skalanya.
7) Putaran mesin dinaikkan menjadi 2000 rpm dengan memutar idle adjusting speed screw. Kemudian lakukan percobaan pada poin –5.
8) Putaran mesin dinaikkan mejadi 3000 rpm dengan memutar idle adjusting speed screw. Kemudian lakukan percobaan seperti pada poin –5.
9) Idle adjusting mixture screw karburator dilonggarkan 0,5 putaran, kemudian ulangi langkah percobaan seperti pada poin –5), 6), dan 7). Ulangi penyetelan dengan melonggarkan idle adjusting mixture screw karburator sampai 6 putaran.
3.5. TEKNIK ANALISIS DATA
Data yang diperoleh dari hasil percobaan dianalisa secara deskriptif berdasarkan variabel yang diteliti.
3.6. PERALATAN DAN BAHAN
Peralatan dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
a. Mobil Toyota Kijang 5K, Tahun 1993.
Karburator
Langkah Pompa Akselerasi
Seri 5 K (Part No. 21100-13650)
Tinggi Permukaan Pelampung
Posisi tertinggi 5 K
Posisi Terendah 5 K
Sudut katup throttle tertutup
Primer
Sekunder
Sudut katup throttle membuka penuh
Primer 5 K
Sekunder 5 K
Sudut idle tinggi saat katup cuk
Menutup penuh
Putaran Idle
Posisi Idle karburator dikendorkan
Distributor
Sudut Dwell (dwell angel)
Celah rubbing blok
Saat pengapian
4, 58 ± 0, 25 mm 0, 191± 0, 0098 in
7, 5 mm 0, 295 in
0, 6 ± 0, 1 mm 0, 024 ± 0, 004 in
90 dari permukaan horisontal
200 dari permukaan horisontal
900 dari permukaan horisontal
900 dari permukaan horisontal
260 dari permukaan horisontal
750 ± 50 rpm
Kendorkan 3 putaran
520 ± 60
0, 4 – 0, 5 mm
80 sebelum TMA
Sumber: Toyota astra Motor PT, 1993.
b. CO Meter
c. Engine Analizer
d. Timing light
e. Stopwatch
f. Obeng Plat
g. Bensin
3.7. BIAYA PENELITIAN
Biaya yang dibutuhkan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Biaya administrasi : Rp. 150. 000,-
- Transportasi : Rp. 200. 000,-
- Pengujian : Rp 600. 000,-
- Komsumsi : Rp. 300. 000,-
2. Biaya operasional : Rp. 1. 100. 000,-
- Analisis data : Rp. 100. 000,-
- Pengetikan : Rp. 200. 000,-
- Penjilidan : Rp. 100. 000,-
3. Biaya Finishing : Rp 500. 0000,-
Total Dana : Rp. 1. 750. 000,-
3.8. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
3.8.1. LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium atau bengkel otomotif Poli Teknik Negri Kupang.
3.8.2. WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini akan dilakukan selama tiga bulan dari bulan Juni sampai Agustus 2010, dengan rincian waktu kegiatan sebagai berikut:
No Jenis Kegiatan Bulan/ Minggu
Juni Juli Agustus
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Rancangan Proposal Penelitian
x
2 Persiapan Perangkat Pengumpulan Data Penelitian
x
3 Pengumpulan data Penelitan
x
x
4 Pengolahan Dan Analisis Data Penelitian
x
x
5 Penulisan Hasil Penelitian x x
DAFTAR PUSTAKA
Arends, BPM & Berenschot. 1980. Motor Bensin. Jakarta, Erlangga.
Arismunandar, W. 2002. Motor sBakar Torak. Bandung, ITB Bandung.
Daryanto. 1999. Teknik Otomotif. Jakarta, PT Bumi aksara.
D.W, Bernad. 1987. Penerapan Termodinamika. Jakarta, Erlangga.
http://hemat-bensin.blogspot.com (unggah, 24 – 06 - 2010)
http://www.kpbb.com (unggah, 31 – 05 - 2010)
Husni, M & Herdiman, Eman.1981. Teori engine Dan Casis untuk STM. Jakarata, Departemen P&K.
Karyanto E. 1994. Pedoman Reparasi Motor Bensin. Jakarta, CV Pedoman Ilmu Jaya.
Sedarmayanti & Syarifudin Hidayat.2002. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung, Citra Karya
Srikandi, V. 1992. Polusi Air dan Udara. Jakarta, Kanisius.
Toyota Astra Motor. PT. 1993.
Toyota Astra Motor PT. 2003. New Step I Training Manual.
PENGUJIAN EMISI CO GAS BUANG
MOBIL TOYOTA KIJANG 5 K
Prosentase emisi karbon monoksida (CO) gas buang pada putaran 750 rpm.
Penyetelan IdleKarburator (Putaran) Prosentase Karbon Monoksida pada gas buang (%)
Pengujian I
Pengujian II
Pengujian III
Rata – Rata
Prosentase emisi karbon monoksida (CO) gas buang pada putaran 2000 rpm.
Penyetelan IdleKarburator (Putaran) Prosentase Karbon Monoksida pada gas buang (%)
Pengujian I
Pengujian II
Pengujian III
Rata – Rata
Prosentase emisi karbon monoksida (CO) gas buang pada putaran 3000 rpm.
Penyetelan IdleKarburator (Putaran) Prosentase Karbon Monoksida pada gas buang (%)
Pengujian I
Pengujian II
Pengujian III
Rata – Rata
LEMBARAN KONSULTASI
JUDUL: PENGARUH PENYETELAN IDLE KARBURATOR TERHADAP EMISI GAS BUANG
No Hr/Tgl Keterangan Paraf
Materi Pembahasan Pembimbing I Pembimbing II
1.
2.
3.
4.
5. 03/ Juni 2010
26/ Juni 2010
03/ Juli 2010
23/ Juli 2010
24/ Juli 2010 - Judul proposal
- Bab I
- Bab II
- Bab III
- Pengembalian proposal perbaikan
- Halaman Judul
- Lembaran Persetujuan
- Daftar Isi
- Konsultasi Terakhir - Tujuan
- Manfaat
- Konsep Penelitian
- Melengkapi kata yang salah
- Biaya Penelitian
- Tabel Penelitian
-
- (…………)
(…………)
(…………)
(…………)
(…………) (…………)
(…………)
(…………)
(…………)
(…………)
Senin, 24 Mei 2010
TIPS MENGATASI GEMPA BUMI
CARA MENGANTISIPASI SAAT TERJADINYA GEMPA BUMI
a. Tahap Persiapan
Menentukan tempat-tempat berlindung yang aman jika terjadi gempa bumi. Tempat berlindung yang aman adalah tempat yang yang dapat melindungi anda dari benda-benda yang jatuh atau mebel yang ambruk, misalnya di bawah meja.
1. Menyediakan air minum untuk keperluan darurat. Bekas botol air mineral dapat digunakan untuk menyimpan air minum. Kebutuhan air minum biasanya 2 sampai 3 liter sehari untuk satu orang.
2. Menyiapkan tas ransel yang berisi (atau dapat diisi) barang-barang yang sangat dibutuhkan di tempat pengungsian. Barang-barang yang sangat diperlukan dalam keadaan darurat misalnya:
- Lampu senter berikut baterai cadangannya
- Air minum
- Kotak P3K berisi obat menghilangkan rasa sakit, plester, pembalut dan sebagainya
- Makanan yang tahan lama seperti biscuit
- Sejumlah uang tunai
- Buku tabungan
- Korek api
- Lilin
- Helm
- Pakaian dalam
- Barang-barang berharga yang harus dibawa di saat keadaan darurat
3. Mengencangkan mebel yang mudah rubuh (seperti lemari pakaian) dengan langit-langit atau dinding dengan menggunakan logam berbentuk siku atau sekrup agar tidak mudah rubuh di saat terjadi gempa bumi
4. Mencegah kaca jendela atau kaca lemari pakaian agar tidak pecah berantakan di saat gempa bumi dengan memilih kaca yang kalau pecah tidak berserakan dan melukai orang (Safety Glass) atau dengan menempelkan kaca film
5. Mencari tahu lokasi tempat evakuasi dan rumah sakit yang terdekat. Jika pemerintah setempat tidak mempunyai tempat evakuasi, pastikan anda tidak pergi ke tempat yang lebih rendah atau tempat yang dekat dengan pinggir laut/sungai untuk menghindari tsunami
B. Tahap tindakan ketika terjadinya gempa bumi
1. Matikan api kompor jika anda sedang memasak. Matikan juga alat-alat elektronik yang dapat menyebabkan timbulnya api. Jika terjadi kebakaran di dapur, segera padamkan api dengan menggunakan alat pemadam api. Jika tidak mempunyai pemadam api gunakan pasir atau karung basah
2. Membuka pintu dan mencari jalan keluar dari rumah atau gedung
3. Cari informasi mengenai gempa bumi yang terjadi lewat televisi atau radio
4. Utamakan keselamatan terlebih dahulu, jika terjadi kerusakan pada tempat Anda berada, segeralah mengungsi ke tempat pengungsian terdekat
5. Tetap tenang dan tidak terburu-buru keluar dari rumah atau gedung. Tunggu sampai gempa mereda, dan sesudah agak tenang, ambil tas ransel berisi barang-barang keperluan darurat dan keluar dari rumah/gedung menuju ke lapangan sambil melindungi kepala dengan helm atau barang-barang yang dapat digunakan untuk melindungi kepala dari benturan reruntuhan.
6. Jika anda harus berjalan di tengah jalan raya, berhati-hatilah terhadap papan reklame yang jatuh, tiang listrik yang tiba-tiba rubuh, kabel listrik, pecahan kaca, dan benda-benda yang berjatuhan dari atas gedung
7. Pastikan tidak ada anggota keluarga yang tertinggal pada saat pergi ke tempat evakuasi. Jika bisa ajaklah tetangga dekat Anda untuk pergi bersama-sama
8. Jika gempa bumi terjadi pada saat Anda sedang menyetir kendaraan, jangan sekali-kali mengerem dengan mendadak atau menggunakan rem darurat. Kurangilah kecepatan secara bertahap dan hentikan kendaraan anda di bahu jalan. Jangan berhenti di dekat pompa bensin, di bawah kabel bertegangan tinggi, atau di bawah jembatan penyeberangan.
a. Tahap Persiapan
Menentukan tempat-tempat berlindung yang aman jika terjadi gempa bumi. Tempat berlindung yang aman adalah tempat yang yang dapat melindungi anda dari benda-benda yang jatuh atau mebel yang ambruk, misalnya di bawah meja.
1. Menyediakan air minum untuk keperluan darurat. Bekas botol air mineral dapat digunakan untuk menyimpan air minum. Kebutuhan air minum biasanya 2 sampai 3 liter sehari untuk satu orang.
2. Menyiapkan tas ransel yang berisi (atau dapat diisi) barang-barang yang sangat dibutuhkan di tempat pengungsian. Barang-barang yang sangat diperlukan dalam keadaan darurat misalnya:
- Lampu senter berikut baterai cadangannya
- Air minum
- Kotak P3K berisi obat menghilangkan rasa sakit, plester, pembalut dan sebagainya
- Makanan yang tahan lama seperti biscuit
- Sejumlah uang tunai
- Buku tabungan
- Korek api
- Lilin
- Helm
- Pakaian dalam
- Barang-barang berharga yang harus dibawa di saat keadaan darurat
3. Mengencangkan mebel yang mudah rubuh (seperti lemari pakaian) dengan langit-langit atau dinding dengan menggunakan logam berbentuk siku atau sekrup agar tidak mudah rubuh di saat terjadi gempa bumi
4. Mencegah kaca jendela atau kaca lemari pakaian agar tidak pecah berantakan di saat gempa bumi dengan memilih kaca yang kalau pecah tidak berserakan dan melukai orang (Safety Glass) atau dengan menempelkan kaca film
5. Mencari tahu lokasi tempat evakuasi dan rumah sakit yang terdekat. Jika pemerintah setempat tidak mempunyai tempat evakuasi, pastikan anda tidak pergi ke tempat yang lebih rendah atau tempat yang dekat dengan pinggir laut/sungai untuk menghindari tsunami
B. Tahap tindakan ketika terjadinya gempa bumi
1. Matikan api kompor jika anda sedang memasak. Matikan juga alat-alat elektronik yang dapat menyebabkan timbulnya api. Jika terjadi kebakaran di dapur, segera padamkan api dengan menggunakan alat pemadam api. Jika tidak mempunyai pemadam api gunakan pasir atau karung basah
2. Membuka pintu dan mencari jalan keluar dari rumah atau gedung
3. Cari informasi mengenai gempa bumi yang terjadi lewat televisi atau radio
4. Utamakan keselamatan terlebih dahulu, jika terjadi kerusakan pada tempat Anda berada, segeralah mengungsi ke tempat pengungsian terdekat
5. Tetap tenang dan tidak terburu-buru keluar dari rumah atau gedung. Tunggu sampai gempa mereda, dan sesudah agak tenang, ambil tas ransel berisi barang-barang keperluan darurat dan keluar dari rumah/gedung menuju ke lapangan sambil melindungi kepala dengan helm atau barang-barang yang dapat digunakan untuk melindungi kepala dari benturan reruntuhan.
6. Jika anda harus berjalan di tengah jalan raya, berhati-hatilah terhadap papan reklame yang jatuh, tiang listrik yang tiba-tiba rubuh, kabel listrik, pecahan kaca, dan benda-benda yang berjatuhan dari atas gedung
7. Pastikan tidak ada anggota keluarga yang tertinggal pada saat pergi ke tempat evakuasi. Jika bisa ajaklah tetangga dekat Anda untuk pergi bersama-sama
8. Jika gempa bumi terjadi pada saat Anda sedang menyetir kendaraan, jangan sekali-kali mengerem dengan mendadak atau menggunakan rem darurat. Kurangilah kecepatan secara bertahap dan hentikan kendaraan anda di bahu jalan. Jangan berhenti di dekat pompa bensin, di bawah kabel bertegangan tinggi, atau di bawah jembatan penyeberangan.
makalah manajemen kepemimpinan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke Bumi, Ia ditugasi sebagai Khalifah fil ardhi. Sebagaimana termaktub dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 30 yang berbunyi : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat”; “Sesungguhnya Aku akan mengangkat Adam menjadi Khalifah di muka Bumi”.
Dari uraian tersebut jelaslah bahwa manusia telah dikaruniai sifat dan sekaligus tugas sebagai seorang pemimpin. Pada masa sekarang ini setiap individu sadar akan pentingnya ilmu sebagai petunjuk/alat/panduan untuk memimpin umat manusia yang semakin besar jumlahnya serta komplek persoalannya. Atas dasar kesadaran itulah dan relevan dengan upaya proses pembelajaran yang mewajibkan kepada setiap umat manusia untuk mencari ilmu. Dengan demikian upaya tersebut tidak lepas dengan pendidikan, dan tujuan pendidikan tidak akan tercapai secara optimal tanpa adanya manajemen atau pengelolaan pendidikan yang baik, yang selanjutnya dalam kegiatan manajemen pendidikan diperlukan adanya pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin.
Perencanaan diperlukan dan terjadi dalam berbagai bentuk organisasi, sebab perencanaan ini merupakan proses dasar manajemen di dalam mengambil suatu keputusan dan tindakan. Perencanaan diperlukan dalam setiap jenis kegiatan baik itu kegiatan organisasi, perusahaan maupun kegiatan dimasyarakat, dan perencanaan ada dalam setiap fungsi-fungsi manajemen, karena fungsi-fungsi tersebut hanya dapat melaksanakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dalam perencanaan
Banyak bentuk organisasi di masyarakat, misalnya negara, partai politik, perkumpulan masyarakat, bahkan bentuk organisasi yang paling kecil yaitu keluarga dan lain sebagainya. Kata organisasi mempunyai dua pengertian umum, yaitu sebagai suatu lembaga atau fungsional, seperti perguruan tinggi, rumah sakit, perwakilan pemerintah, perwakilan dagang, perkumpulan olah raga dan lain sebagainya, lainnya sebagai proses pengorganisasian pengalokasian dan penugasan para anggotanya untuk mencapai tujuan yangefektif.
1.2. Tujuan
Untuk mengetahui hakikat pemimpin
Untuk mengetahui tipe-tipe kepemimpinan
Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dalam manajemen pendidikan.
Mengetahui upaya – upaya yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin untuk efesiensi sebuah organisasi
BAB II
PEMBAHANSAN
2.1. Hakikat Pemimpin
Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.”
Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengnaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, kareana apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.
2.2. Tipe – tipe kepemimpinan
Dalam setiap realitasnya bahwa pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya terjadi adanya suatu permbedaan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya, hal sebagaimana menurut G. R. Terry yang dikutif Maman Ukas, bahwa pendapatnya membagi tipe-tipe kepemimpinan menjadi 6, yaitu :
a. Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership). Dalam system kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.
b. Tipe kepemimpinan non pribadi (non personal leadership). Segala sesuatu kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan.
c. TIpe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership). Pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
d. Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usahan pencapaian tujuan.
e. Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership). Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya.
f. Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership). Biasanya timbul dari kelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih dengan adanya system kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelempok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikur berkecimpung.
Selanjutnya menurut Kurt Lewin yang dikutif oleh Maman Ukas mengemukakan tipe-tipe kepemimpinan menjadi tiga bagian, yaitu :
- Otokratis, pemimpin yang demikian bekerja kerang, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
- Demokratis, pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya. Agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan yang diinginkan.
- Laissezfaire, pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia hanya akan menerima laporan-laporan hasilnya dengan tidak terlampau turut campur tangan atau tidak terlalu mau ambil inisiatif, semua pekerjaan itu tergantung pada inisiatif dan prakarsa dari para bawahannya, sehingga dengan demikian dianggap cukup dapat memberikan kesempatan pada para bawahannya bekerja bebas tanpa kekangan.
Berdasarkan dari pendapat tersebut di atas, bahwa pada kenyataannya tipe kepemimpinan yang otokratis, demokratis, dan laissezfaire, banyak diterapkan oleh para pemimpinnya di dalam berbagai macama organisasi, yang salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Dengan melihat hal tersebut, maka pemimpin di bidang pendidikan diharapkan memiliki tipe kepemimpinan yang sesuai dengan harapan atau tujuan, baik itu harapan dari bawahan, atau dari atasan yang lebih tinggi, posisinya, yang pada akhirnya gaya atau tipe kepemimpinan yang dipakai oleh para pemimpin, terutama dalam bidang pendidikan benar-benar mencerminkan sebagai seorang pemimpinan yang profesional.
2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Pemimpin Dalam Manajemen Pendidikan
Dalam melaksanakan aktivitasnya bahwa pemimpin dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor-faktor tersebut sebagaimana dikemukakan oleh H. Jodeph Reitz (1981).
a. Kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya kepemimpinan.
b. Harapan dan perilaku atasan.
c. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengaruhi terhadap apa gaya kepemimpinan.
d. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gaya pemimpin.
e. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan.
f. Harapan dan perilaku rekan
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka jelaslah bahwa kesuksesan pemimpin dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh factor-faktor yang dapat menunjang untuk berhasilnya suatu kepemimpinan, oleh sebab itu suatu tujuan akan tercapai apabila terjadinya keharmonisan dalam hubungan atau interaksi yang baik antara atasan dengan bawahan, di samping dipengaruhi oleh latar belakang yang dimiliki pemimpin, seperti motivasi diri untuk berprestasi, kedewasaan dan keleluasaan dalam hubungan social dengan sikap-sikap hubungan manusiawi.
Selanjutnya peranan seorang pemimpin sebagaimana dikemukakan oleh M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut :
- Sebagai pelaksana (executive)
- Sebagai perencana (planner)
- Sebagai seorangahli (expert)
- Sebagai mewakili kelompok dalam tindakannya ke luar (external group representative)
- Sebagai mengawasi hubungan antar anggota-anggota kelompok (controller of internal relationship)
- Bertindak sebagai pemberi gambaran/pujian atau hukuman (purveyor of rewards and punishments)
- Bentindak sebagai wasit dan penengah (arbitrator and mediator)
- Merupakan bagian dari kelompok (exemplar)
- Merupakan lambang dari pada kelompok (symbol of the group)
- Pemegang tanggung jawab para anggota kelompoknya (surrogate for individual responsibility)
- Sebagai pencipta/memiliki cita-cita (ideologist)
- Bertindak sebagai seorang aya (father figure)
- Sebagai kambing hitam (scape goat)
Berdasarkan dari peranan pemimpin tersebut, jelaslah bahwa dalam suatu kepemimpinan harus memiliki peranan-peranan yang dimaksud, di samping itu juga bahwa pemimpin memiliki tugas yang embannya, sebagaimana menurut M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut :
- Menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok dan keinginan kelompoknya.
- Dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai.
- Meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan
Tugas pemimpin tersebut akan berhasil dengan baik apabila setiap pemimpin memahami akan tugas yang harus dilaksanaknya. Oleh sebab itu kepemimpinan akan tampak dalam proses di mana seseorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain.
Untuk keberhasilan dalam pencapaian suatu tujuan diperlukan seorang pemimpian yang profesional, di mana ia memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, serta melaksanakan peranannya sebagai seorang pemimpin. Di samping itu pemimpin harus menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.
2.4. Hal – hal yang harus di miliki oleh seorang pemimpin
Meskipun dikalangan para ahli persyaratan pemimpin belum disepakati sepenuhnya namun ada sejumlah sifat-sifat kepribadian yang perlu dimiliki para memimpin
a. Pendidikan umum yang luas
b. Kematangan mental
c. Sifat ingin tahu
d. Kemampuan analitis
e. Memiliki daya ingat yang kuat
f. Integrative. Seorang wirausaha harus memiliki kepribadian terpadu tidak terpecah-pecah yang membuat dia terombang-ambing
g. Keterampilan berkomunikasi
h. Keterampilan mendidik. Seorang wirausaha harus mampu memberi petunjuk dan mendidik para karyawan dalam beberapa hal yang berhubungan dengan pekerjaan
i. Rasional dan objektif. Pemikiran-pemikiran, kesimpulan dan keputusan yang diambil oleh seorang wirausaha harus berlandaskan pada pemikiran-pemikiran sehat, rasional dan objektif, tidak pilih kasih dan tidak emosional
j. Pragmatisme. Keputusan-keputusan seorang wirausaha harus dibuat sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia
k. Ada naluri prioritas. Berhubungan terbatasnya sumber daya yang tersedia maka seorang wirausaha harus mampu menetapkan skala prioritas apa yang harus dikerjakan lebih dulu
l. Pandai mengatur waktu. Seorang wirausaha harus mampu bertindak cepat dan tepat dan mempertimbangkan waktu secara efisien
m. Sifat keberanian
n. Kemampuan mendengar. Seorang wirausaha harus mampu menggali .informasi dan mendengar apa ide dan keinginan dari para karyawannya
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan dalam makalah ini, penulis dapat menyimplkan bahwa:
Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.
Tipe-tipe kepemimpinan pada umumnya adalah tipe kepemimpinan pribadi, Tipe kepemimpinan non pribadi, tipe kepemimpinan otoriter, tipe kepemimpinan demokratis, tipe kepemimpinan paternalistis, tipe kepemimpinan menurut bakat.
Disamping tipe-tipe kepemimpinan tersebut juga ada pendapat yang mengemukakan menjadi tiga tipe antara lain : Otokratis, Demokratis, dan Laisezfaire. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pemimpin meliputi ; kepribadian (personality), harapan dan perilaku atasan, karakteristik, kebutuhan tugas, iklim dan kebijakan organisasi, dan harapan dan perilaku rekan. Yang selanjutnya bahwa factor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kesuksesan pemimpin dalam melaksanakan aktivitasnya.
Tugas pemimpin dalam kepemimpinannya meliputi ; menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok, dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai, meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan.Pemimpin yang professional adalah pemimpin yang memahami akan tugas dan kewajibannya, serta dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.
3.2. Saran – saran
Hendaknya para pemimpin, khususnya pemimpin dalam bidang pendidikan dalam melaksanakan aktivitasnya kepemimpinannya dalam mempengaruhi para bawahannya berdasarkan pada kriteria-kriteria kepemimpinan yang baik.
Dalam membuat suatu rencana atau manajemen pendidikan hendaknya para pemimpin memahami keadaan atau kemampuan yang dimiliki oleh para bawahannya, dan dalam pembagian pemberian tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing
Pemimpin hendaknya memahami betul akan tugasnya sebagai seorang pemimpin.
Dalam melaksanakan akvititasnya baik pemimpin ataupun yang dipimpin menjalin suatu hubungan kerjsama yang saling mendukung untuk tercapainya tujuan organisasi atau instnasi.
DAFTAR PUSTAKA
Burhanuddin. 1994. Analisis Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Malang : Bumi Aksara.
Maman Ukas. 1999. Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi. Bandung : Ossa Promo.
Wahjosumidjo. 1995. Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta : Raja Grafindo Persada.
MAKALAH
MANAJEMEN KEPEMIMPINAN DALAM PENDIDIKAN
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke Bumi, Ia ditugasi sebagai Khalifah fil ardhi. Sebagaimana termaktub dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 30 yang berbunyi : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat”; “Sesungguhnya Aku akan mengangkat Adam menjadi Khalifah di muka Bumi”.
Dari uraian tersebut jelaslah bahwa manusia telah dikaruniai sifat dan sekaligus tugas sebagai seorang pemimpin. Pada masa sekarang ini setiap individu sadar akan pentingnya ilmu sebagai petunjuk/alat/panduan untuk memimpin umat manusia yang semakin besar jumlahnya serta komplek persoalannya. Atas dasar kesadaran itulah dan relevan dengan upaya proses pembelajaran yang mewajibkan kepada setiap umat manusia untuk mencari ilmu. Dengan demikian upaya tersebut tidak lepas dengan pendidikan, dan tujuan pendidikan tidak akan tercapai secara optimal tanpa adanya manajemen atau pengelolaan pendidikan yang baik, yang selanjutnya dalam kegiatan manajemen pendidikan diperlukan adanya pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin.
Perencanaan diperlukan dan terjadi dalam berbagai bentuk organisasi, sebab perencanaan ini merupakan proses dasar manajemen di dalam mengambil suatu keputusan dan tindakan. Perencanaan diperlukan dalam setiap jenis kegiatan baik itu kegiatan organisasi, perusahaan maupun kegiatan dimasyarakat, dan perencanaan ada dalam setiap fungsi-fungsi manajemen, karena fungsi-fungsi tersebut hanya dapat melaksanakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dalam perencanaan
Banyak bentuk organisasi di masyarakat, misalnya negara, partai politik, perkumpulan masyarakat, bahkan bentuk organisasi yang paling kecil yaitu keluarga dan lain sebagainya. Kata organisasi mempunyai dua pengertian umum, yaitu sebagai suatu lembaga atau fungsional, seperti perguruan tinggi, rumah sakit, perwakilan pemerintah, perwakilan dagang, perkumpulan olah raga dan lain sebagainya, lainnya sebagai proses pengorganisasian pengalokasian dan penugasan para anggotanya untuk mencapai tujuan yangefektif.
1.2. Tujuan
Untuk mengetahui hakikat pemimpin
Untuk mengetahui tipe-tipe kepemimpinan
Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dalam manajemen pendidikan.
Mengetahui upaya – upaya yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin untuk efesiensi sebuah organisasi
BAB II
PEMBAHANSAN
2.1. Hakikat Pemimpin
Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.”
Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengnaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, kareana apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.
2.2. Tipe – tipe kepemimpinan
Dalam setiap realitasnya bahwa pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya terjadi adanya suatu permbedaan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya, hal sebagaimana menurut G. R. Terry yang dikutif Maman Ukas, bahwa pendapatnya membagi tipe-tipe kepemimpinan menjadi 6, yaitu :
a. Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership). Dalam system kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.
b. Tipe kepemimpinan non pribadi (non personal leadership). Segala sesuatu kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan.
c. TIpe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership). Pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
d. Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usahan pencapaian tujuan.
e. Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership). Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya.
f. Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership). Biasanya timbul dari kelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih dengan adanya system kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelempok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikur berkecimpung.
Selanjutnya menurut Kurt Lewin yang dikutif oleh Maman Ukas mengemukakan tipe-tipe kepemimpinan menjadi tiga bagian, yaitu :
- Otokratis, pemimpin yang demikian bekerja kerang, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
- Demokratis, pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya. Agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan yang diinginkan.
- Laissezfaire, pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia hanya akan menerima laporan-laporan hasilnya dengan tidak terlampau turut campur tangan atau tidak terlalu mau ambil inisiatif, semua pekerjaan itu tergantung pada inisiatif dan prakarsa dari para bawahannya, sehingga dengan demikian dianggap cukup dapat memberikan kesempatan pada para bawahannya bekerja bebas tanpa kekangan.
Berdasarkan dari pendapat tersebut di atas, bahwa pada kenyataannya tipe kepemimpinan yang otokratis, demokratis, dan laissezfaire, banyak diterapkan oleh para pemimpinnya di dalam berbagai macama organisasi, yang salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Dengan melihat hal tersebut, maka pemimpin di bidang pendidikan diharapkan memiliki tipe kepemimpinan yang sesuai dengan harapan atau tujuan, baik itu harapan dari bawahan, atau dari atasan yang lebih tinggi, posisinya, yang pada akhirnya gaya atau tipe kepemimpinan yang dipakai oleh para pemimpin, terutama dalam bidang pendidikan benar-benar mencerminkan sebagai seorang pemimpinan yang profesional.
2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Pemimpin Dalam Manajemen Pendidikan
Dalam melaksanakan aktivitasnya bahwa pemimpin dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor-faktor tersebut sebagaimana dikemukakan oleh H. Jodeph Reitz (1981).
a. Kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya kepemimpinan.
b. Harapan dan perilaku atasan.
c. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengaruhi terhadap apa gaya kepemimpinan.
d. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gaya pemimpin.
e. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan.
f. Harapan dan perilaku rekan
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka jelaslah bahwa kesuksesan pemimpin dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh factor-faktor yang dapat menunjang untuk berhasilnya suatu kepemimpinan, oleh sebab itu suatu tujuan akan tercapai apabila terjadinya keharmonisan dalam hubungan atau interaksi yang baik antara atasan dengan bawahan, di samping dipengaruhi oleh latar belakang yang dimiliki pemimpin, seperti motivasi diri untuk berprestasi, kedewasaan dan keleluasaan dalam hubungan social dengan sikap-sikap hubungan manusiawi.
Selanjutnya peranan seorang pemimpin sebagaimana dikemukakan oleh M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut :
- Sebagai pelaksana (executive)
- Sebagai perencana (planner)
- Sebagai seorangahli (expert)
- Sebagai mewakili kelompok dalam tindakannya ke luar (external group representative)
- Sebagai mengawasi hubungan antar anggota-anggota kelompok (controller of internal relationship)
- Bertindak sebagai pemberi gambaran/pujian atau hukuman (purveyor of rewards and punishments)
- Bentindak sebagai wasit dan penengah (arbitrator and mediator)
- Merupakan bagian dari kelompok (exemplar)
- Merupakan lambang dari pada kelompok (symbol of the group)
- Pemegang tanggung jawab para anggota kelompoknya (surrogate for individual responsibility)
- Sebagai pencipta/memiliki cita-cita (ideologist)
- Bertindak sebagai seorang aya (father figure)
- Sebagai kambing hitam (scape goat)
Berdasarkan dari peranan pemimpin tersebut, jelaslah bahwa dalam suatu kepemimpinan harus memiliki peranan-peranan yang dimaksud, di samping itu juga bahwa pemimpin memiliki tugas yang embannya, sebagaimana menurut M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut :
- Menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok dan keinginan kelompoknya.
- Dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai.
- Meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan
Tugas pemimpin tersebut akan berhasil dengan baik apabila setiap pemimpin memahami akan tugas yang harus dilaksanaknya. Oleh sebab itu kepemimpinan akan tampak dalam proses di mana seseorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain.
Untuk keberhasilan dalam pencapaian suatu tujuan diperlukan seorang pemimpian yang profesional, di mana ia memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, serta melaksanakan peranannya sebagai seorang pemimpin. Di samping itu pemimpin harus menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.
2.4. Hal – hal yang harus di miliki oleh seorang pemimpin
Meskipun dikalangan para ahli persyaratan pemimpin belum disepakati sepenuhnya namun ada sejumlah sifat-sifat kepribadian yang perlu dimiliki para memimpin
a. Pendidikan umum yang luas
b. Kematangan mental
c. Sifat ingin tahu
d. Kemampuan analitis
e. Memiliki daya ingat yang kuat
f. Integrative. Seorang wirausaha harus memiliki kepribadian terpadu tidak terpecah-pecah yang membuat dia terombang-ambing
g. Keterampilan berkomunikasi
h. Keterampilan mendidik. Seorang wirausaha harus mampu memberi petunjuk dan mendidik para karyawan dalam beberapa hal yang berhubungan dengan pekerjaan
i. Rasional dan objektif. Pemikiran-pemikiran, kesimpulan dan keputusan yang diambil oleh seorang wirausaha harus berlandaskan pada pemikiran-pemikiran sehat, rasional dan objektif, tidak pilih kasih dan tidak emosional
j. Pragmatisme. Keputusan-keputusan seorang wirausaha harus dibuat sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia
k. Ada naluri prioritas. Berhubungan terbatasnya sumber daya yang tersedia maka seorang wirausaha harus mampu menetapkan skala prioritas apa yang harus dikerjakan lebih dulu
l. Pandai mengatur waktu. Seorang wirausaha harus mampu bertindak cepat dan tepat dan mempertimbangkan waktu secara efisien
m. Sifat keberanian
n. Kemampuan mendengar. Seorang wirausaha harus mampu menggali .informasi dan mendengar apa ide dan keinginan dari para karyawannya
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan dalam makalah ini, penulis dapat menyimplkan bahwa:
Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.
Tipe-tipe kepemimpinan pada umumnya adalah tipe kepemimpinan pribadi, Tipe kepemimpinan non pribadi, tipe kepemimpinan otoriter, tipe kepemimpinan demokratis, tipe kepemimpinan paternalistis, tipe kepemimpinan menurut bakat.
Disamping tipe-tipe kepemimpinan tersebut juga ada pendapat yang mengemukakan menjadi tiga tipe antara lain : Otokratis, Demokratis, dan Laisezfaire. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pemimpin meliputi ; kepribadian (personality), harapan dan perilaku atasan, karakteristik, kebutuhan tugas, iklim dan kebijakan organisasi, dan harapan dan perilaku rekan. Yang selanjutnya bahwa factor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kesuksesan pemimpin dalam melaksanakan aktivitasnya.
Tugas pemimpin dalam kepemimpinannya meliputi ; menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok, dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai, meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan.Pemimpin yang professional adalah pemimpin yang memahami akan tugas dan kewajibannya, serta dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.
3.2. Saran – saran
Hendaknya para pemimpin, khususnya pemimpin dalam bidang pendidikan dalam melaksanakan aktivitasnya kepemimpinannya dalam mempengaruhi para bawahannya berdasarkan pada kriteria-kriteria kepemimpinan yang baik.
Dalam membuat suatu rencana atau manajemen pendidikan hendaknya para pemimpin memahami keadaan atau kemampuan yang dimiliki oleh para bawahannya, dan dalam pembagian pemberian tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing
Pemimpin hendaknya memahami betul akan tugasnya sebagai seorang pemimpin.
Dalam melaksanakan akvititasnya baik pemimpin ataupun yang dipimpin menjalin suatu hubungan kerjsama yang saling mendukung untuk tercapainya tujuan organisasi atau instnasi.
DAFTAR PUSTAKA
Burhanuddin. 1994. Analisis Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Malang : Bumi Aksara.
Maman Ukas. 1999. Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi. Bandung : Ossa Promo.
Wahjosumidjo. 1995. Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta : Raja Grafindo Persada.
MAKALAH
MANAJEMEN KEPEMIMPINAN DALAM PENDIDIKAN
makalah kepemimpinan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.
Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati & menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan & menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana yang baik & mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik. Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan sosial manusia pun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri. Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
1.2. Tujuan
Untuk mengetahui hakikat menjadi seorang pemimpin
Adakah teori – teori untuk menjadi pemimpin yang baik
Apa & bagaimana menjadi pemimpin yang melayani
Apa & bagaimana menjadi pemimpin sejati
Bagaimana hubungan kearifan lokal dengan kepemimpinan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Hakikat Kepemimpinan
Dalam kehidupan sehari – hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin, Kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya.
Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin, beberapa diantaranya :
a. Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
b. Menurut Robert Tanembaum, Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.
c. Menurut Prof. Maccoby, Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan.
d. Menurut Lao Tzu, Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.
e. Menurut Davis and Filley, Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin.
f. Sedangakn menurut Pancasila, Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah :
g. Ing Ngarsa Sung Tuladha : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya.
h. Ing Madya Mangun Karsa : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya.
i. Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin, dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience, confidence, respect, and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100.
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya. Ketiga kata yaitu pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan yang dijelaskan sebelumnya tersebut memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan. Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan organisasi yang bersangkutan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu :
- Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan menyediakan fasilitasnya.
- Fungsi sebagai Top Manajemen, yakni mengadakan planning, organizing, staffing, directing, commanding, controling, dsb.
2.2. TEORI KEPEMIMPINAN
Memahami teori-teori kepemimpinan sangat besar artinya untuk mengkaji sejauh mana kepemimpinan dalam suatu organisasi telah dapat dilaksanakan secara efektif serta menunjang kepada produktifitas organisasi secara keseluruhan. Dalam karya tulis ini akan dibahas tentang teori dan gaya kepemimpinan.
Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :
a. Teori Kepemimpinan Sifat ( Trait Theory )
Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik, mental, dan kepribadian.
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :
- Kecerdasan Berdasarkan hasil penelitian
- pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.
- Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.
- Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.Sikap Hubungan Kemanusiaan
Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya.
b. Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecendrungan kearah 2 hal:
- Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti: membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan.
- Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat , bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.
Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi pula.
c. Teori Kewibawaan Pemimpin
Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.
d. Teori Kepemimpinan Situasi
Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.
e. Teori Kelompok
Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.
Dari adanya berbagai teori kepemimpinan di atas, dapat diketahui bahwa teori kepemimpinan tertentu akan sangat mempengaruhi gaya kepemimpinan (Leadership Style), yakni pemimpin yang menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan segenap filsafat, keterampilan dan sikapnya. Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpan bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu.Gaya tersebut bisa berbeda – beda atas dasar motivasi , kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu. Diantara beberapa gaya kepemimpinan, terdapat pemimpin yang positif dan negatif, dimana perbedaan itu didasarkan pada cara dan upaya mereka memotivasi karyawan. Apabila pendekatan dalam pemberian motivasi ditekankan pada imbalan atau reward (baik ekonomis maupun nonekonomis) berartitelah digunakan gaya kepemimpinan yang positif. Sebaliknya jika pendekatannya menekankan pada hukuman atau punishment, berarti dia menerapkan gaya kepemimpinan negatif. Pendekatan kedua ini dapat menghasilakan prestasi yang diterima dalam banyak situasi, tetapi menimbulkan kerugian manusiawi.
BAB III
PENUTUP
3.1 .KESIMPULAN
Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.
Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.
Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
3.2. SARAN
Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak untuk memimpin diri sendiri.
Jika saja Indonesia memiliki pemimpin yang sangat tangguh tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin.
DAFTAR PUSTAKA
emperordeva.wordpress.com
Dewantara, Ki Hajar - Biography etc. Perpustakaan CSIS
Maman Ukas. 1999. Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi. Bandung : Ossa Promo
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.
Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati & menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan & menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana yang baik & mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik. Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan sosial manusia pun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri. Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
1.2. Tujuan
Untuk mengetahui hakikat menjadi seorang pemimpin
Adakah teori – teori untuk menjadi pemimpin yang baik
Apa & bagaimana menjadi pemimpin yang melayani
Apa & bagaimana menjadi pemimpin sejati
Bagaimana hubungan kearifan lokal dengan kepemimpinan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Hakikat Kepemimpinan
Dalam kehidupan sehari – hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin, Kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya.
Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin, beberapa diantaranya :
a. Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
b. Menurut Robert Tanembaum, Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.
c. Menurut Prof. Maccoby, Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan.
d. Menurut Lao Tzu, Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.
e. Menurut Davis and Filley, Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin.
f. Sedangakn menurut Pancasila, Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah :
g. Ing Ngarsa Sung Tuladha : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya.
h. Ing Madya Mangun Karsa : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya.
i. Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin, dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience, confidence, respect, and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100.
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya. Ketiga kata yaitu pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan yang dijelaskan sebelumnya tersebut memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan. Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan organisasi yang bersangkutan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu :
- Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan menyediakan fasilitasnya.
- Fungsi sebagai Top Manajemen, yakni mengadakan planning, organizing, staffing, directing, commanding, controling, dsb.
2.2. TEORI KEPEMIMPINAN
Memahami teori-teori kepemimpinan sangat besar artinya untuk mengkaji sejauh mana kepemimpinan dalam suatu organisasi telah dapat dilaksanakan secara efektif serta menunjang kepada produktifitas organisasi secara keseluruhan. Dalam karya tulis ini akan dibahas tentang teori dan gaya kepemimpinan.
Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :
a. Teori Kepemimpinan Sifat ( Trait Theory )
Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik, mental, dan kepribadian.
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :
- Kecerdasan Berdasarkan hasil penelitian
- pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.
- Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.
- Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.Sikap Hubungan Kemanusiaan
Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya.
b. Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecendrungan kearah 2 hal:
- Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti: membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan.
- Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat , bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.
Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi pula.
c. Teori Kewibawaan Pemimpin
Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.
d. Teori Kepemimpinan Situasi
Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.
e. Teori Kelompok
Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.
Dari adanya berbagai teori kepemimpinan di atas, dapat diketahui bahwa teori kepemimpinan tertentu akan sangat mempengaruhi gaya kepemimpinan (Leadership Style), yakni pemimpin yang menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan segenap filsafat, keterampilan dan sikapnya. Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpan bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu.Gaya tersebut bisa berbeda – beda atas dasar motivasi , kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu. Diantara beberapa gaya kepemimpinan, terdapat pemimpin yang positif dan negatif, dimana perbedaan itu didasarkan pada cara dan upaya mereka memotivasi karyawan. Apabila pendekatan dalam pemberian motivasi ditekankan pada imbalan atau reward (baik ekonomis maupun nonekonomis) berartitelah digunakan gaya kepemimpinan yang positif. Sebaliknya jika pendekatannya menekankan pada hukuman atau punishment, berarti dia menerapkan gaya kepemimpinan negatif. Pendekatan kedua ini dapat menghasilakan prestasi yang diterima dalam banyak situasi, tetapi menimbulkan kerugian manusiawi.
BAB III
PENUTUP
3.1 .KESIMPULAN
Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.
Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.
Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
3.2. SARAN
Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak untuk memimpin diri sendiri.
Jika saja Indonesia memiliki pemimpin yang sangat tangguh tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin.
DAFTAR PUSTAKA
emperordeva.wordpress.com
Dewantara, Ki Hajar - Biography etc. Perpustakaan CSIS
Maman Ukas. 1999. Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi. Bandung : Ossa Promo
Langganan:
Postingan (Atom)